Tetap Bangun 200 PLTU Baru, Asia Jadi Sorotan KTT Iklim COP26

  • Bagikan
Salah satu PLTU yang beroperasi di Pulau Jawa

Regional.co.id, GLASGOW: Benua Asia mendapat sorotan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP26 yang digelar di Glasgow, Skotlandia. Penyebabnya, beberapa negara di kawasan ini masih memproses pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru yang jumlahnya mencapai 200 pembangkit.

Padahal, salah satu agenda COP26 adalah memberikan rekomendasi menghentikan operasional PLTU secara bertahap dan menurunkan konsumsi batu bara sebagai upaya mengurangi emisi karbon global. PLTU dianggap sebagai penghasil emisi karbon dan mengancam upaya pencegahan pemanasan iklim.

PLTU baru tersebut akan dibangun di China sejumlah 95 pembangkit, India 28 pembangkit, dan Indonesia 23 pembangkit.

BACA JUGA:   Ekonomi Mulai Pulih, PLN: Konsumsi Listrik 2023 Naik 4,74%

“Fakta tersebut menunjukkan konsumsi batu bara di kawasan Asia masih terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan energi murah. Pembangunan ratusan PLTU baru ini meningkatkan permintaan batu bara dan juga emisi gasnya,” ujar Analis Centre for Research on Energy and Clean Air Lauri Myllvitra, seperti dikutip Reuters, belum lama ini.

Permintaan batu bara diprediksikan meningkat cukup tinggi pada 2021 ini seiring dengan berakhirnya pembatasan social di seluruh dunia dan mendorong lonjakan permintaan energi.

Menurut data BP Statistical Review of World Energy, lebih dari 35% sumber energi dunia pada 2020 berasal dari batu bara, gas alam (25%), PLTA (16%), nuklir (10%) dan EBT sekitar 12%.

BACA JUGA:   Dapat Porsi 19% Saham, WIKA Proyeksikan Deviden Sebesar Rp33,6 Miliar Dari Bandara Hang Nadim

Beberapa negara besar juga sudah mulai menghentikan penggunaan PLTU sebagai sumber energi, sebagaimana data yang dirilis Global Energy Monitor (GEM), di Amerika saja sudah 301 PLTU dipensiunkan.

Namun di India dan China justru masih terus jor-joran membangun PLTU. India saja sudah mengoperasikan 281 pembangkit batu bara dan 28 pembangkit baru dalam tahap konstruksi. Begitu juga di China, memiliki 1.000 pembangkit dan 240 dalam masa konstruksi.

Dari dua negara itu saja, emisi karbon yang dihasilkan sudah tembus 170 miliar ton emisi karbon, atau melebihi total emisi karbon yang dihasilkan dunia antara 2016-2020.

BACA JUGA:   Merger BUMN Karya, Dari 10 Perusahaan Jadi 4

Kendati demikian, China dan India bukannya tidak berpikir untuk beralih ke energi terbarukan. Keduanya diketahui telah mengembangkan instalasi pembangkit tenaga surya dalam kapasitas besar.

Terdapat belasan kawasan solar farm yang sudah dikembangkan Presiden Xi Jin Ping dengan total kapasitas 40 gigawatt (GW) diantaranya Hainan Solar Park (2,2 GW), Tengger Solar Park (1,55 GW), Datong Solar Power (1,1 GW), dan Yangci Ningxia Solar Park (1 GW).

Pada September 2020 lalu, Presiden Xi telah mengumumkan ambisi China untuk mengakhiri produksi emisi karbon pada 2060.

  • Bagikan
235 views