Singapura-Malaysia Uji Coba Impor Listrik 100 MW, Dimulai Tahun 2022

  • Bagikan
Seorang pekerja listrik mengamati jaringan distribusi di gardu induk

Regional.co.id, SINGAPURA: Energi Market Authority (EMA), otoritas pengelola listrik di Singapura, menunjuk YTL PowerSeraya Pte Ltd sebagai importir untuk uji coba impor listrik kapasitas 100 megawatt (MW) pertama kali dari Malaysia dan akan dimulai pada 2022 mendatang.

Sebelumnya EMA telah menerbitkan request for proposal (RFP) pada 5 Maret 2021 lalu untuk mengundang seluruh perusahaan penyedia listrik untuk ikut berpartisipasi dalam uji coba impor listrik 100 MW dengan memanfaatkan jaringan interkoneksi yang sudah terbangun antara dua negara.

“Uji coba impor listrik tersebut dilaksanakan selama dua tahun sejak 2022. RFP itu sendiri telah ditutup pada 30 Juni lalu dan EMA menunjuk YTL PowerSeraya Pte. Ltd sebagai importir yang akan melaksanakan impor tersebut,” demikian laporan otoritas dalam situsnya.

BACA JUGA:   PLN dan Jepang Mulai Pembahasan Rencana 'Pensiun Dini' PLTU

Dalam dokumen RFP yang diterima redaksi Regional Newsroom, importir listrik wajib mendapatkan surat izin impor listrik atau electricity importer license yang diterbitka oleh EMA.

Importir wajib menyediakan atau melengkapi performance bond sebesar Sin$1 Juta untuk EMA pada saat penerbitan Lisensi. Jumlah performance bond akan hangus jika Importir gagal membayar denda yang relevan jika terjadi pelanggaran terhadap persyaratan dan kewajiban peraturannya.

Syarat wajib lainnya sebagai tercantum dalam RFP adalah sumber energi yang disalurkan ke Singapura nantinya wajib berasal dari energi baru terbarukan, kemudian perusahaan importer harus berpengalaman dalam perdagangan ritel listrik dan membuat power purchase agreement, operasional transmisi dan jaringan distribusi, dan pembangunan pembangkit listrik.

Syarat lain yang juga wajib dan critical adalah setiap Peserta harus merupakan perusahaan yang berbadan hukum Singapura yang akan memegang Lisensi jika dipilih oleh EMA untuk menjadi Importir. Jika Peserta adalah konsorsium, konsorsium tersebut dapat memenuhi persyaratan ini melalui pendirian perusahaan Special Purpose Vehicle di Singapura.

BACA JUGA:   Larang Ekspor Listrik, Erick: Indonesia Fokus Bauran Energi di Dalam Negeri

Integrasi listrik

Rencana impor listrik dari Malaysia ini sudah disampaikan oleh Menteri Perdagangan dan Industri Singapura pada 26 Oktober 2020 lalu. Tujuan impor tersebut adalah sebagai upaya menjaga kestabilan energi di Singapura dan memulai kombinasi pasokan energi melalui pemanfaatan sumber energi baru dan bersih.

Terdapat dua komponen utama dalam konteks sejarah kesepakatan power-sharing antara Malaysia – Singapura ini yaitu pertama, pemanfaatan jaringan kabel interkoneksi bawah laut yang sudah terbangun sejak 1980-an. Tujuan pembangunan interkoneksi itu awalnya bukan untuk komersial melainkan untuk saling menjaga keseimbangan pasokan energi ke dua negara jika suatu waktu dibutuhkan.

BACA JUGA:   Persiapkan Interkoneksi Energi, EMA Singapura Tetapkan 8 Titik Landing Site

Kedua, rencana membangun jaringan listrik terintegrasi yang menghubungkan Laos, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Proposal tersebut dicanangkan oleh pemerintah masing-masing negara pada 2013 lalu dan dikenal dengan sebutan LTMS-PIP: Laos-Thailand-Malaysia-Singapore Power Integration Project.

Salah satu sumber energi yang akan menopang proyek LTMS-PIP adalah pemanfaatan energi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Laos yang memiliki kapasitas 7.200 MW dengan total potensi energi yang dihasilkan dari pembangkit tersebut mencapai 26.000 MW.

Disamping proyek LTMS-PIP, Laos sendiri telah menjalin kesepakatan dengan Thailand untuk memasok energi sebesar 1.000 MW yang sudah dimulai sejak 2020, kemudian Vietnam sebesar 5.000 MW, dan Kamboja sebesar 200 MW.

  • Bagikan
242 views