Dapat Porsi 19% Saham, WIKA Proyeksikan Deviden Sebesar Rp33,6 Miliar Dari Bandara Hang Nadim

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menargetkan pendapatan deviden sebesar Rp33,622 miliar pada tahun ke-11 dari kepemilikan 19% saham di PT Bandara Internasional Batam (BIB), pengelola Bandara Hang Nadim Batam.

Hasil kajian perseroan dalam keikutsertaan dalam konsorsium bersama PT Angkasa Pura I, Incheon International Airport Corporation, WIKA memproyeksikan penerimaan deviden dari pengelolaan Bandara Hang Nadim akan dimulai pada tahun ke-11 dengan nilai Rp176,96 miliar dan porsi WIKA diperkirakan sebesar Rp33,622 miliar.

Adapun sisanya sebesar Rp143,34 miliar dibagi oleh Angkasa Pura I yang menguasai 51% saham dan Incheon sebesar 30% saham.

BACA JUGA:   WIKA Setor Modal Rp110 Miliar Untuk Pengembangan Bandara Hang Nadim

Proyeksi tersebut tentu akan menambah pundi-pundi kas WIKA yang sampai 31 Maret 2021 lalu masih mencatatkan pertumbuhan positif dengan perkiraan laba Rp105 miliar. Pendapatan perseroan selama pandemic pada 2020 lalu juga terkoreksi cukup dalam dibandingkan 2019.

Pada 2019, WIKA berhasil membukukan pendapatan Rp27,2 triiiun dengan laba sebesar Rp2,6 triiun, namun pada 2020 merosot menjadi Rp16,53 triliun dan laba sebesar Rp322 miliar.

Sementara itu, proyeksi deviden untuk PT Angkasa Pura I dengan kepemilikan 51% diperkirakan sebesar Rp73,10 miliar pada tahun ke-11 dan terus meningkat hingga tahun ke-25 yang diperkirakan mencapai Rp1,822 triliun.

BACA JUGA:   Tugas Wapres Baru Ngurus Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, Seperti Apa Konsepnya?

Proyeksi pendapatan dari pengelolaan Bandara Hang Nadim ini tentu akan menambah arus pendapatan AP I ditengah kemerosotan pendapatan selama beberapa tahun terakhir.

Dalam laporan unaudited per 30 Juni 2021 lalu, total pendapatan usaha perusahaan tercatat Rp1,405 triliiun terbagi dari pendapatan aeronautika Rp706,621 miliar dan pendapatan non aeronautika Rp699,235 miliar.

Beban usaha terdiri dari operasional bandara, pegawai, umum dan administrasi dan pemasaran mencapai Rp2,476 triliun, sehingga laba rugi tahun berjalan setelah pajak tercatat Rp1,929 triliun.

Rugi perseroan ini naik dibandingkan periode 30 Juni 2020 yang tercatat Rp1,095 triliun.

Dalam neraca perusahaan juga dapat dilihat utang bank jangka panjang sebesar Rp21,954 triliun, utang obligasi dan sukuk ijarah Rp2,106 triliun serta utang jangka panjang lain termasuk liabilitas jangka pendek sehingga total liabilitas tercatat sebesar Rp30,411 triliun.

BACA JUGA:   Menko Perekonomian RI Hadiri Munas VIII HKI

  • Bagikan
135 views