Malaysia Batasi Penjualan Listrik EBT, Ujicoba Ekspor Ke Singapura Terancam Gagal?

  • Bagikan

Regional.co.id, KUALA LUMPUR: Rencana uji coba ekspor listrik dari Malaysia ke Singapura sebesar 100 Megawatt yang akan dimulai pada tahun ini terancam gagal setelah Kementerian Energi dan Sumberdaya Alam Malaysia memutuskan pembatasan ekspor listrik yang berasal dari energi baru terbarukan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Malaysia (KeTSA) mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah memutuskan untuk meninjau kembali Panduan Penjualan Listrik Lintas Batas (Guide for Cross-Border Electricity Sales) yang dikeluarkan oleh Komisi Energi untuk memperluas cakupannya atas dua energi dan sumber daya.

Pernyataan tersebut, yang dikutip dari kantor berita Bernama, mengatakan pemerintah juga telah sepakat bahwa biaya tambahan untuk menjual listrik ke Singapura selama masa percobaan dua tahun akan menjadi US$0,0228 (S$0,031) per kilowatt hour (kWh).

BACA JUGA:   Konsorsium TBS-Nusantara Power-PLN Batam Kembangkan PLTS Terapung 42 MWp di Waduk Tembesi

Salah satu perubahan utama yang muncul dari Revisi Panduan Lintas Batas adalah pembatasan tegas pada ekspor listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan ke Singapura. Sebelumnya, tidak ada larangan seperti itu.

Malaysia sendiri membatasi ekspor listrik yang berasal dari pembangkit EBT sebagai upaya untuk meningkatkan capaian program dekarbonisasi energi yang berasal dari pembangkit hijau.

Pembatasan yang baru diberlakukan ini justruk kemungkinan akan berdampak pada keberhasilan proyek percontohan dua tahun Singapore Energy Market Authority (EMA) untuk impor listrik dari Malaysia ke pembeli di Singapura, yang mengharuskan listrik tersebut dihasilkan dari energi bersih. Karena energi terbarukan tidak lagi diperbolehkan sebagai sumber energi, para peserta proyek hanya memiliki satu sumber energi bersih: gas.

BACA JUGA:   Singapura Jajaki Impor Listrik Hijau Dari Vietnam Sebesar 1,2 GW

Lebih lanjut, dengan pergeseran pemanfaatan energi terbarukan saat ini, ekspor listrik ke Singapura mungkin menjadi kurang menarik dibandingkan dengan ekspor listrik ke negara lain seperti Thailand.

Dalam hal ini, penting untuk dicatat bahwa pembatasan ekspor listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan sebagaimana diatur dalam Panduan Lintas Batas yang Direvisi tersebut hanya berlaku untuk Singapura, dan tidak berlaku di Thailand.

Saat ini Singapura tengah dihadapkan pada dilemma pemenuhan energi listrik di dalam negeri. Negera pulau tersebut memiliki banyak keterbatasan salah satunya ketiadaan sumberdaya alam sehingga pasokan gas terpaksa harus diimpor.

BACA JUGA:   Singapura-Malaysia Uji Coba Impor Listrik 100 MW, Dimulai Tahun 2022

Sementara itu, untuk mengembangan sumber energi baru terbarukan negara itu terbatas pada ketersediaan lahan baik untuk pembangkit tenaga angin atau energi matahari.

Sehingga opsi impor dari negara tetangga menjadi pilihan utama baik dari Malaysia, Thailand, maupun Indonesia. Kebijakan baru dari KETSA tersebut membuat peluang impor listrik dari Malaysia berpotensi gagal.

Harapan lain datang dari Laos dalam skema integrasi listrik yang dikenal dengan Laos-Thailand-Malaysia-Singapore Power Integration Project (LTMS-PIP). Sumber utama skema integrasi ini adalah PLTA di Laos berkapasitas 7.200 MW dan potensi yang bisa dikembangkan hingga 26.000 MW. (SYS/Bernama)

  • Bagikan
93 views