Jembatan Batam Bintan Masuk Tahap Transaksi, PUPR Undang Investor Dengan Skema KPBU

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Proyek Jembatan Batam Bintan sepanjang 14,74 kilometer senilai Rp13,6 triliun mulai memasuki tahap transaksi dan ditawarkan kepada investor strategis dengan skema kerjasama pemerintah badan usaha (KPBU).

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menetapkan proyek Jembatan Batam Bintan sebagai proyek solicited atau proyek atas prakarsa pemerintah. Saat ini, proyek tersebut sudah melalui dua tahapan yaitu perencanaan dan persiapan proyek dari empat tahapan yang harus dilewati sebagai proyek solicited.

Dua tahap berikutnya adalah tahapan transaksi atau proses lelang (prakualifikasi dan kualifikasi) sampai ditetapkannya pemenang, dan manajemen kontrak.

BACA JUGA:   Permohonan Holomogasi Dibatalkan, Istaka Karya Akhirnya Resmi Pailit!

“Ada 10 proyek yang dalam proses transaksi diantaranya Jembatan Batam Bintan, Jalan Trans Papua Ruas Jayapura-Wamena (Segmen Mamberamo-Elelim), Jalan Tol Kohod (Pakuhaji) – Lebakwangi (Neglasari) dan Jalan Tol Kediri-Tulungagung,” ujar Herry Trisaputra Zuna, Direktur Jenderal Pembiayaan Kementerian PUPR dalam keterangan tertulis, belum lama ini.

Pembangunan Jembatan Batam-Bintan dinilai dapat mempercepat pemerataan pembangunan antara kedua pulau. Terdapat dua paket pekerjaan yakni pekerjaan jalan dan pekerjaan jembatan, sehingga akan membentuk satu kesatuan jalan tol yang menghubungkan Pulau Batam-Pulau Tanjung Sauh-Pulau Buau-Pulau Bintan. Total panjang keseluruhan 14,74 km yang terdiri dari panjang jalan 7,06 km dan panjang jembatan 7,68 km.

BACA JUGA:   Rencana Kenaikan Tarif Air Bersih, Benny: Angka Rp4,5 Triliun Dihitung Dari Mana?

Kementerian PUPR menyebut terjadi perubahan nilai investasi atau anggaran untuk proyek jembatan Batam-Bintan, yakni dari Rp8,78 triliun menjadi sebesar Rp13,66 triliun. Anggaran tersebut tercatat membengkak hingga 55,5%.

Harry menambahkan proyek jembatan tersebut akan mulai masuk tahap prakualifikasi pada kuartal kedua 2022 ini dan sejauh ini proses finalisasi masih terus berjalan dan diharapkan bisa terlaksana tepat waktu.

Belum diketahui calon investor yang berminat menggarap proyek tersebut, namun kabarnya ada satu investor asal Singapura yang telah menyatakan minat. Dalam skema KPBU, investor berkewajiban menyetor 70% modal investasi sedangkan pemerintah sebesar 30%.

Proyek jembatan ini pertama kali dipaparkan ke publik oleh Gubernur Kepri pertama Ismeth Abdullah pada 2004 lalu dengan tujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas wilayah pulau Batam dan Bintan sehingga potensi ekonomi di kedua daerah dapat dioptimalkan.

BACA JUGA:   Gokil, Singapura-Australia Bangun Proyek Solar Panel Terbesar di Dunia senilai Rp316 Triliun

Sempat terbengkalai hampir 15 tahun, pada 2020 lalu rencana ini dimulai lagi oleh Gubernur Ansar Ahmad dan digesa hingga akhirnya masuk dalam perencanaan kementerian PUPR.

  • Bagikan
357 views