‘Rebutan’ Ekspor Listrik Ke Singapura

  • Bagikan
Proyek solar panel terapung di selat Johor dikembangkan oleh salah satu perusahaan listrik Singapura. Proyek sejenis juga akan dikembangkan di Batam mulai 2022 ini.

Singapura diambang kelangkaan listrik. Negera pulau itu mulai mempersiapkan rencana besar memasok listrik dari berbagai sumber di luar negaranya mulai 2024 sampai 2035. Melalui Energy Market Authority (EMA), otoritas yang bertanggung jawab dalam mengatur bisnis listrik, Singapura menargetkan 30% pasokan listrik melalui skema impor.

Total impor listrik sampai 2035 mendatang diperkirakan mencapai 4 gigawatt (GW) dan wajib bersumber dari pembangkit rendah karbon atau energi terbarukan seperti pembangkit gas, tenaga matahari, dan pembangkit biomassa. Singapura menargetkan mampu menekan dekarbonisasi di sektor energi dalam 5-10 tahun mendatang.

EMA telah menerbitkan request for proposal (RFP) untuk tahap awal pada November 2021 lalu dan rencana pada kuartal kedua 2022. Dua RFP ini mematok syarat dan ketentuan impor energi dan bersumber dari pembangkit rendah karbon. RFP juga melarang pasokan listrik dari pembangkit berbahan batu bara.

RFP Tahap Pertama berisi rencana impor hingga 1,2 GW yang dimulai pada 2027 mendatang, sedangkan RFP Tahap Kedua berisi skema impor hingga 2,8 GW pada 2035. Impor energi tersebut secara bertahap menurunkan ketergantungan Singapura dari pembangkit berbasis gas yang saat ini mencapai 95% dari total produksi listrik negara tersebut.

Melepas ketergantungan pembangkit gas memang bukan masalah gampang. Suplai gas yang sepenuhnya impor dari Indonesia dan Timur Tengah rentan terjadi kenaikan harga. Harga naik membuat tarif listrik menjadi tidak ekonomis dan memberatkan konsumen.

Selama beberapa tahun terakhir, EMA berupaya mencari mitra energi di regional dan menyusun kerangka regulasi dan teknis untuk ujicoba impor listrik dari negara tetangga.

Salah satunya menunjuk YTL PowerSeraya Pte Ltd untuk percobaan impor listrik pada awal 2022 ini sebesar 100 MW dari Malaysia melalui jaringan interkoneksi yang sudah ada. Kemudian menjajaki proyek percobaan dengan konsorsium Singapura dan Indonesia yang dimotori PacificLight Power Pte Ltd untuk impor 100 MW listrik tenaga matahari yang diproduksi dari Pulau Bulan, Kepulauan Riau melalui jaringan interkoneksi yang akan tersambung pada 2024 mendatang.

Singapura juga mempercepat jaringan interkoneksi Laos-Thailand-Malaysia-Singapore Power Integrasion Project (LTMS-PIP) untuk impor listrik hingga 100 MW dari Laos ke Singapura melalui Thailand dan Malaysia melalui jaringan interkoneksi mulai 2022 hingga 2023.

Potensi energi di Laos melalui PLTA diperkirakan mencapai 26 GW. Negara tersebut mempercepat pembangunan proyek-proyek PLTA untuk melayani permintaan energi dari negara sekitar.

Singapura memang tengah kalang kabut menjaga kehandalan pasokan listrik di negara nya. Mereka dalam posisi dilematis, di satu sisi berupaya memproduksi listrik dalam jumlah besar namun dengan tarif yang kompetitif, dan disisi lain keterbatasan wilayah memaksa mereka kesulitan mengoptimalkan produksi listrik melalui pembangkit EBT.

Tidak ada pilihan lain, impor listrik adalah solusi dan Kepulauan Riau merupakan kawasan paling dekat yang paling memungkinkan memproduksi listrik EBT melalui pembangkit tenaga matahari atau solar photovoltaic (SPV).

BACA JUGA:   Dampak Ekonomi Global Terhadap Perekonomian Regional Provinsi Kepri

Konsorsium

Rencana besar Singapura tersebut ditindaklanjuti oleh Sunseap Group, satu perusahaan pemasok listrik Singapura. Pada Juli 2021 lalu, Sunseap melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengn Badan Pengusahaan Kawasan Batam dalam pengembangan ladang solar panel terapung (floating photovoltaic) di Waduk Duriangkang.

Total areal waduk yang dikembangkan mencapai 1.600 hektar dan perkiraan produksi energi 2,2 gigawatt-peak (GWp) dengan investasi US$2 miliar atau setara Rp28 triliun. Selain FPV, Sunseap bersama Grup Agung Sedayu, PT Mustika Combol Indah, Sumitomo Corporation, Samsung C&T, Oriens Asset Management, ESS Inc, dan Durapower Group juga berencana membangun ladang solar di beberapa pulau di Kepri.

Total kapasitas pembangkit solar panel tersebut diperkirakan mencapai 7 GWp dengan kapasitas sistem penyimpanan mencapai 12 GWp. Kapasitas storage system menjadi faktor penentu kehandalan pasokan dan syarat mutlak harus dimiliki oleh pemasok listrik ke Singapura nantinya. Rencana ekspor listrik Sunseap dilakukan bertahap yaitu sebesar 1,2 GW pada 2027 dan 2,8 pada 2035 sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah Singapura.

Rencananya proyek tersebut mulai dijalankan pada awal 2022 ini dan selesai pada 2024 namun sampai Maret 2022 ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai proyek ladang solar terapung tersebut. Proyek solar terapung juga akan dikembangkan oleh PT Toba Bara Energi yang berencana memproduksi listrik 333 MWp senilai US$470 juta di Waduk Tembesi, Batam.

Selain Sunseap dan Toba, proyek energi lain yang serius menggarap ekspor listrik ke Singapura adalah konsorsium PT Medco Power Energy, Gallant Venture Ltd dan PacificLight Energy Pte. Ltd. Konsorsium tersebut berencana mengembangkan ladang solar panel di Pulau Bulan, Batam dan menargetkan ekspor perdana energi sebesar 100 MW pada 2024 mendatang.

Pulau Bulan merupakan pulau konservasi dan peternakan babi dan buaya yang dikelola oleh anak perusahaan di bawah Gallant Ventures Ltd. (Grup Salim). Sedangkan PacificLight adalah perusahaan pemasok listrik Singapura yang memiliki pelanggan komersil dan rumah tangga. Adapun Medco Power merupakan perusahaan energi nasional yang memang memiliki kapabilitas dalam sektor pembangkit dan pertambangan migas.

Perusahaan konsorsium lain yang berminat menggarap ekspor listrik adalah PT PLN Batam yang bekerjasama dengan SembCorp Industries Ltd dan PT Trisurya Mitra (SuryaGen).

Rencananya, proyek ini akan membangun PLTS di tiga pulau di Batam Bintan Karimun seluas 1.000 hektar dengan daya mampu sekitar 1GWp serta didukung sistem penyimpanan energi skala besar dan akan di ekspor melalui kabel bawah laut sepanjang 20 kilometer ke Singapura. PLN Batam berencana menggelontorkan investasi hingga Sin$1 miliar atau setara Rp11 triliun.

Rencana pengembangan PLTS untuk kebutuhan ekspor ke Singapura ini juga diminati oleh konsorsium PT Indonesia Power yang menggandeng EDF Renouvebles SA (Perusahaan pengembang energi listrik terbarukan dari Perancis), Tuas Power Ltd (Perusahaan pembangkit listrik dan retail dari Singapura), dan Abu Dhabi Future Energy Company PJSC – Masdar (Perusahaan pembangikit listrik dari Uni Emirat Arab).

BACA JUGA:   Batam Surga Narkoba?

Mereka berencana membangun PLTS berkapasitas 2,8 GWp di Pulau Kundur dan Pulau Alai, Kabupaten Karimun. PT Indonesia Power berpengalaman mengelola pembangkit di Jawa – Bali dengan total kapasitas 8,4 GWp.

Selain empat konsorsium tersebut, proyek ladang solar yang diinisiasi oleh Sun Cable Ltd adalah yang paling spektakuler. Giga proyek bernama Asia Pasific Power Link ini berbasis di Darwin, Australia di atas lahan seluas 12.000 hektar dan jaringan kabel bawah laut menghubungkan Darwin-Singapura sepanjang 5.000 kilometer.

Total energi yang dihasilkan diperkirakan mencapai 17-20 GWp dengan fasilitas penyimpanan 36-42 GWh. Total investasi proyek raksasa ini sekitar US$22 miliar atau setara Rp316,8 triliun yang diperkirakan mulai berproduksi pada 2027 mendatang.

Sun Cable merupakan perusahaan penyedia energi yang berbasis di Singapura dan Australia. Proyek Asia-Australia Powerlink ini menjadi andalan perusahaan untuk membangun infrastruktur listrik dalam memenuhi kebutuhan energi di kawasan Asia.

Daftar Konsorsium Peminat Ekspor Listrik ke Singapura

NoKonsorsiumKapasitasInvestasiLokasi
1Sunseap Group, Grup Agung Sedayu, PT Mustika Combol Indah, Sumitomo Corporation, Samsung C&T, Oriens Asset Management, ESS Inc, dan Durapower Group7 Gigawatt-hourUS$5 miliar atau setara Rp70 triliunDam Duriangkang, Batam (1.600 Ha) dan Pulau-pulau Sekitar Kepri
2PT Toba Bara Energi333 Megawatt-hourUS$470 juta atau setara Rp6,6 triliunDam Tembesi, Batam
3PT PLN Batam, SembCorp Industries Ltd, PT TriSurya Mitra1 Gigawatt-hourSin$1 miliar atau setara Rp11 triliunPulau-pulau sekitar Batam, Bintan, Karimun (1.000 Ha)
4PT Indonesia Power, EDF Renouvebles SA (Perancis), Tuas Power Ltd (Singapura), Abu Dhabi Future Energy Company PJSC – Masdar (UAE).2,8 Gigawatt-hourPerkiraan US$3 miliar atau setara Rp42 triliunPulau Kundur, Pulau Alai (300 Ha)
5SunCable Pte Ltd (Asia Pacific Power Link)17-20 Gigawatt-hourUS$22 miliar atau setara Rp316,8 triliunDarwin, Australia (12.000 Ha)
Sumber: Diolah dari berbagai sumber (2022)

Tender Listrik

Penulis memperkirakan total energi yang diproduksi dari lima proyek PLTS di Kepri dan Australia tersebut mencapai 25.000 MWp atau 25 GWp. Angka ini enam kali lebih besar dibandingkan total kebutuhan listrik Singapura pada 2035 mendatang yang hanya 4 GWp.

Tentu saja EMA selaku otoritas yang bertanggung jawab dalam menjaga pasokan listrik negara itu akan melakukan skema tender terhadap para pemasok yang berminat mengekspor listrik. Berdasarkan RFP Tahap Pertama pada November 2021 lalu, total energi yang diimpor sebesar 1,2 GW dimulai pada 2027 nanti.

Itu artinya, para perusahaan konsorsium sudah harus mulai memasukan dokumen tender ke EMA untuk mendapatkan lampu hijau ekspor listrik EBT.  Sembari menunggu, para perusahaan tentu harus mulai mempersiapkan infrastruktur PLTS di areal yang telah dipilih.

BACA JUGA:   Mikra Gugat

Khusus untuk konsorsium Gallant Venture, Medco, dan PacificLight, sepertinya yang lebih siap karena ketersediaan lahan di Pulau Bulan. EMA bahkan sudah menargetkan impor percobaan dari Pulau Bulan sebesar 100 MW akan dimulai pada 2024 mendatang.

Dalam dokumen RFP, importir listrik wajib mendapatkan surat izin impor listrik atau electricity importer license yang diterbitka oleh EMA. Importir wajib menyediakan atau melengkapi performance bond sebesar Sin$1 Juta untuk EMA pada saat penerbitan Lisensi. Jumlah performance bond akan hangus jika Importir gagal membayar denda yang relevan jika terjadi pelanggaran terhadap persyaratan dan kewajiban peraturannya.

Syarat wajib lainnya sebagai tercantum dalam RFP adalah sumber energi yang disalurkan ke Singapura nantinya wajib berasal dari energi baru terbarukan, kemudian perusahaan importer harus berpengalaman dalam perdagangan ritel listrik dan membuat power purchase agreement, operasional transmisi dan jaringan distribusi, dan pembangunan pembangkit listrik.

Syarat lain yang juga wajib dan critical adalah setiap Peserta harus merupakan perusahaan yang berbadan hukum Singapura yang akan memegang Lisensi jika dipilih oleh EMA untuk menjadi Importir. Jika Peserta adalah konsorsium, konsorsium tersebut dapat memenuhi persyaratan ini melalui pendirian perusahaan Special Purpose Vehicle di Singapura.

Bagaimana langkah lanjutan dari para konsorsium yang ingin ekspor listrik ke Singapura? Informasi yang diperoleh, saat ini konsorsium PT Indonesia Power tengah menjajaki kelayakan beberapa pulau di Kabupaten Karimun yang akan dijadikan basis PLTS. Konsorsium lain juga tengah mempersiapkan syarat-syarat pengajuan proposal kepada EMA.

Kejar Waktu

Kendati sudah tergambar jaminan pasokan listrik dari negara tetangga, namun sebenarnya masalah belum sepenuhnya selesai. Salah satunya di Malaysia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Malaysia (KeTSA) mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah memutuskan untuk meninjau kembali Panduan Penjualan Listrik Lintas Batas (Guide for Cross-Border Electricity Sales) yang dikeluarkan oleh Komisi Energi untuk memperluas cakupannya atas dua energi dan sumber daya.

Pemerintah Malaysia merevisi ketentuan ekspor listrik ke Singapura dengan membatasi energi yang bersumber dari EBT. Ini terkait dengan ambisi negara tersebut yang juga ingin meningkatkan bauran energi baru terbarukan melalui produksi listrik tenaga matahari.

Situasi ini jelas tidak menguntungkan, karena larangan ekspor listrik EBT ke Singapura sebesar 100 MW justru dapat menggagalkan rencana EMA untuk menambah sumber pasokan listrik. Pemerintah Malaysia juga telah sepakat bahwa biaya tambahan untuk menjual listrik ke Singapura selama masa percobaan dua tahun akan menjadi US$0,0228 (S$0,031) per kilowatt hour (kWh).

Begitu juga rencana produksi PLTS di Kepulauan Riau. Walaupun empat konsorsium sudah menyatakan minat yang besar untuk membangun PLTS, namun di satu sisi, ketersediaan listrik lokal juga belum sepenuhnya aman. Belum lagi potensi gagal mendapatkan listrik yang optimal dari ladang solar panel yang akan dibangun.

Saat ini, PLTS dianggap sebagai sumber produksi energi yang paling efisien dibandingkan tenaga angin dan gelombang. Walaupun dibandingkan PLTU, solar panel masih lebih mahal. Tarif tentu akan menjadi masalah lain dalam ekspor listrik ke Singapura.

EMA terus mengkalkulasi skema mana yang paling efisien untuk memenuhi tenggat 2024. Saat itu, ujicoba pasokan listrik impor sebesar 200 MW diproyeksikan sudah terwujud yang berasal dari Malaysia dan Pulau Bulan, Batam.

Pada saat bersamaan RFP Tahap Pertama dan Kedua sudah harus selesai agar target 4 GW pada 2035 dapat direalisasikan. Jika molor, maka kemungkinan besar akan terjadi ketidakseimbangan supply-demand energi di Singapura. Semua berpacu dengan waktu!

Oleh : Dr. Suyono Saputro

Penulis merupakan konsultan pada PT Divitia Global Consulting dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam

  • Bagikan
750 views