Proposal Ekspor Listrik ke Singapura, EMA Beri Batas Waktu Initial Bid pada 14 April 2022

  • Bagikan

Regional.co.id, SINGAPURA: Energy Market Authority (EMA) Singapura menetapkan batas waktu penyerahan proposal tender ekspor listrik dari perusahaan yang berminat hingga 14 April 2022 mendatang. Tenggat waktu itu tercantum dalam dokumen Request For Proposal (RFP) Tahap Pertama yang diumumkan pada 12 November 2021 lalu.

RFP Tahap Pertama itu menjelaskan rencana jangka panjang Singapura dalam pemenuhan pasokan energi yang berasal dari energi baru terbarukan sebagai upaya mengurangi emisi gas karbon secara bertahap di negara tersebut.

Pada tahap awal, EMA menargetkan impor listrik sebesar 1,2 gigawatt yang dimulai pada 2027 mendatang dan impor tahap kedua sebesar 2,8 gigawatt pada 2035 sehingga total impor listrik diperkirakan mencapai 4 gigawatt.

BACA JUGA:   Kepri Jadi Tujuan Investasi PLTS, Pemprov Dorong Investor Bangun Industri Baterai dan SolarPanel

Table Projected cumulative demand for electricity import

Year202520302035
Projected cumulative demand for
imported electricity (MWac)
300 to 5002200 to 25003500 to 4000
Sumber: EMA Singapore. 2022

EMA mengundang perusahaan yang berminat untuk memasok listrik EBT ke Singapura dengan mengajukan proposal yang menggambarkan usulan pembangkit dan sumber pasokan energi, jaringan interkoneksi yang digunakan untuk memasok ke Singapura, rencana distribusi dan jangka waktu.

Dalam dokumen RFP Tahap Pertama, batas waktu initial bid sampai tanggal 14 April 2022 dan final bid pada 14 Juni 2022. Pemenang impor listrik diperkirakan pada akhir Oktober 2022 mendatang.

BACA JUGA:   Pendaftaran Beasiswa LPDP 2023 Dibuka Mulai Hari Ini

Sementara itu, rencana ekspor listrik dari Indonesia masih dalam pembahasan lintas kementerian terutama harmonisasi aturan dan regulasi untuk mendukung rencana ekspor ini.

Menurut UU nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, PP 42 tahun 2012 dan Permen ESDM Nomor 11 tahun 2021, penjualan tenaga listrik lintas negara dapat dilakukan apabila, kebutuhan tenaga listrik setempat di wilayah sekitarnya telah terpenuhi, tidak ada komponen subsidi pada tenaga listrik yang diekspor serta tidak mengganggu mutu dan keandalan penyediaan tenaga listrik setempat.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari pada FGD mengenai ekspor energi yang dilaksanakan Januari 2022 lalu menyatakan Pemerintah mendukung siapapun pengembang ketenagalistrikan yang akan melakukan ekspor tenaga listrik ke Singapura.

BACA JUGA:   Memicu Kontroversi, Luhut Bilang Ekspor Pasir Tidak Merusak Lingkungan

“Namun harus melakukan kajian yang lengkap terhadap rencana ekspor tersebut terutama peraturan dan perundang-undangan terkait perizinan, penggunaan ruang bawah laut harus dipenuhi serta Cost Benefit Analysis terhadap kegiatan ekspor tersebut harus memberikan benefit bagi negara, badan usaha, masyarakat dan lokal,” tandasnya. (SYS)

  • Bagikan
94 views