Konsorsium Tiga Negara Garap Proyek Wind Farm di Laos berkapasitas 1 Gigawatt

  • Bagikan
Salah satu proyek pembangkit listrik tenaga bayu di Laos. Potensi pengembangan energi angin di negara ini menarik minat beberapa perusahaan di Asean.

Regional.co.id, SINGAPORE: Sebuah konsorsium perusahaan energi dari tiga negara Asean berencana mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga angin di Laos berkapasitas 1 Gigawatt (GW) sebagai upaya memenuhi kebutuhan listrik dari energi baru terbarukan di kawasan ini.

Konsorsium tersebut terdiri dari Keppel Infrastructure Holdings Pte Ltd, yang merupakan anak usaha Keppel Corp Ltd, Singapura, Impact Electrons Siam Co. Ltd (IES), sebuah perusahaan pengembangan EBT dari Thailand, dan Envision Group, China.

Nota kesepahaman ketiga pihak tersebut ditandantangani meliputi pekerjaan pengembangan pembangkit listrik rendah karbon, sistem penyimpanan energi, dan intermittency management solution di kawasan Asean.

BACA JUGA:   Angka Kelahiran Rendah, Jepang Dalam Ancaman Krisis Populasi

“Aliansi tiga pihak ini merupakan lanjutan dari penandatanganan kesepahaman untuk melakukan studi kelayakan perdagangan energi lintas batas dari Laos ke Singapura sebagia bagian dari Laos-Thailand-Malaysia-Singapore Power Integration Project (LTMS-PIP),” ujar Cindy Lim, CEO Keppel Infrastructure Ltd. belum lama ini.

Dia mengatakan ide kerjasama tersebut akan meningkatkan interkonektivitas energi regional antar negara-negara anggota Asean dan perdagangan listrik multilateral lintas batas. Proyek ini juga memungkinkan bagi negara-negara yang memiliki kekayaan sumber energi terbarukan untuk berbagi dalam konteks saling menguntungkan dengan negara yang membutuhkan.

Berdasarkan keterangan resmi dari konsorsium tersebut, para pihak sepakat untuk memberikan hak ekslusif bagi IES dalam pengembangan wind farm berkapasitas 600 MW hingga 1 GW di Provinsi Sekong dan Attapeu, Laos. Proyek tersebut diperkirakan selesai dan dapat menyalurkan listrik pada 2025.

BACA JUGA:   Segera Pensiun Dini, PLTU 700 MW Milik PLN Beralih ke PT BA

Selain proyek wind farm, konsorsium juga berencana mengembangkan proyek EBT lainnya seperti pembangkit matahari dan biomassa. IES sendiri merupakan perusahaan pengembangan EBT yang beroperasi di Thailand, Jepang, Laos, dan Vietnam dengan total pembangkit mencapai 1,9 GW.

“Pengembangan EBT kapasitas besar untuk kebutuhan perdagangan listrik lintas batas menjadi langkah maju dalam mempromosikan ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi dan berkontribusi dalam rencana masa depan energi berkelanjutan di regional Asean,” papar Cindy.

Dia menambahkan Keppel Infrastructure akan terus meningkatkan keterlibatan dalam pengembangan EBT dan solusi dekarbonisasi dan menindaklanjuti opsi pengembangan energi rendah karbon lain seperti energi hidrogen dan carbon capture, utilisation, and storage (CCUS). (SYS)

BACA JUGA:   Gallant Ventures Ltd, Mengelola Kawasan Industri, Resort, hingga Sirkuit Internasional

  • Bagikan
148 views