Bos Sunseap dan SunCable Dijadwalkan Ikut Webinar Regional Energy Outlook 2022

  • Bagikan

Regional.co.id, BATAM: Petinggi perusahaan energi asal Singapura dan Australia dijadwalkan turut hadir dalam diskusi Regional Energy Outlook 2022: THe Sustainable Energy, Prospects and Challenges yang dilaksanakan pada 13 April 2022 mendatang.

Kedua bos perusahaan itu masing-masing Frank Phuan, CEO Sunseap Group Ltd, Singapore dan David Griffin, CEO SunCable Ltd, Australia. Keduanya merupakan pemilik mega project solar panel di Kepri dan Darwin Australia.

Selain kedua pembicara tersebut, webinar Regional Energy Outlook 2022 juga akan dihadiri oleh Direktur Program Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman P. Hutajulu, Dirut PT PLN Batam Nyoman S. Astawa, pengamat energi dari International Economic Energy and Financial Analysis (IEEFA) Indonesia Elrika Hamdi dan dimoderatori oleh Dr. Suyono Saputro, Chief Editor Regional Newsroom. Jika tidak ada halangan, Kepala BP Batam Muhammad Rudi akan memberikan sambutan pembukaan (keynote speech) dalam kegiatan tersebut.

BACA JUGA:   Menko Perekonomian RI Hadiri Munas VIII HKI

Webinar tersebut dilaksanakan sebagai upaya untuk menindaklanjuti situasi ketenagalistrikan terkini khususnya di kawasan regional. Upaya pemerintah Singapura dalam mendapatkan tambahan pasokan energi melalui impor listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) mendorong hadirnya konsorsium asing untuk membangun basis solar panel di wilayah Kepulauan Riau.

Bermula dari nota kesepahaman antara Sunseap Group dan Badan Pengusahaan Kawasan Batam pada Juni 2021 lalu yang memanfaatkan dam Duriangkang sebagai pusat floating photovoltaic seluas 1.600 hektar, kemudian PT Toba Energi Utama yang akan mengembangkan FPV di dam Tembesi, selanjutnya PT PLN Batam yang akan membangun ladang solar panel di tiga pulau seluas 1.000 hektar, dan PT Indonesia Power yang akan memanfaatkan pulau di sekitar Kepri.

BACA JUGA:   Pemanfaatan Pasir Sedimentasi Laut, KKP: Harus Berdasarkan Keputusan Tim Kajian!

Belum lagi rencana besar SunCable yang akan membangun ladang solar panel seluas 12.000 hektar dengan kapasitas 20 gigawatt di Darwin dan akan disalurkan melalui kabel bawah laut sepanjang 5.000 kilometer ke Singapura.

Kondisi tersebut tentu harus disikapi oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM dan kementerian terkait tentang aspek regulasi perdagangan listrik lintas negara. Praktek ini belum pernah dilakukan sebelumnya bahkan sejak RI berdiri.

Pada saat bersamaan, Singapura tengah bergegas mencari sumber energi baru dari EBT dengan perkiraan sampai 2035 kebutuhan sebesar 4 gigawatt atau 30% dari kebutuhan nasional. Upaya impor listrik dari Malaysia sebesar 100 MW pada awal 2022 ini berpotensi terhambat karena adanya ketentuan baru dari pemerintah Malaysia yang melarang ekspor listrik dari EBT.

BACA JUGA:   Dapat Porsi 19% Saham, WIKA Proyeksikan Deviden Sebesar Rp33,6 Miliar Dari Bandara Hang Nadim

Harapan Singapura hanya dari Kepri. Jika dari kawasan ini pun terhambat maka sudah pasti rencana mendapatkan pasokan ekspor perdana pada 2027 sebesar 1,2 GW akan mengalami masalah. Hal yang sama juga terjadi di Laos. Rencana impor listrik melalui skema Laos-Thailand-Malaysia-Singapore Power Integration Project (LTMS-PIP) juga masih memiliki beberapa hambatan.

Segera daftar untuk ikut kegiatan tersebut melalui link registrasi berikut: http://bit.ly/3r5cWbm

  • Bagikan
330 views