Dihantam Pandemi, Kelanjutan Megaproyek Forest City Senilai US$100 Miliar Makin Tidak Pasti

  • Bagikan
Proyek pembangunan tower apartemen di kawasan Forest City, Johor Bahru, Malaysia. Gambar diambil pada 2019 lalu sebelum pandemi (Dikutip dari Nikkei Asia)

Regional.co.id, JOHOR BAHRU: Pandemi Covid-19 yang menghantam Malaysia selama dua tahun terakhir ini membuat kelanjutan Megaproyek Forest City di Johor Bahru, Malaysia senilai US$100 Miliar atau setara Rp1.400 triliun kian tidak pasti.

Forest City dibangun di empat pulau reklamasi di ujung selatan Johor Bahru dengan total luas keseluruhan mencapai 1,740 hektar atau hampir tiga kali lipat luas pulau Sentosa, Singapura.

Proyek tersebut dimiliki oleh Country Garden Holding dengan kepemilikan dua pertiga saham dan sepertiga lainnya dikuasai oleh  Esplanade Danga 88 Sdn, Bhd., pengusaha lokal yang berafiliasi dengan Sultan Ibrahim Ismail, penguasa Johor.

BACA JUGA:   Sah! Pemerintah Sepakat Untuk Menunda Pemberlakuan Tapera

“Pandemi yang terjadi dalam dua tahun terakhir mengubah arah investasi korporasi dan pariwisata, sehingga mempengaruhi arah bisnis perusahaan,” ujar manajemen Country Garden, sebagaimana dikutip dari Nikkei Asia.

Forest City terdiri dari empat pulau untuk pengembangan residensial, leisure, komersial, dan industri termasuk rencana membuat fasilitas kepabeanan dan imigrasi sendiri sehingga memudahkan penghuni jika ingin jalan-jalan ke Singapura.

Dari delapan fase pengembangan yang direncanakan, hanya satu pulau yang telah berhasil direklamasi dan properti yang sudah diserahterimakan sebanyak 20.000 unit dari total 700.000 unit yang akan dibangun hingga tahun 2035 mendatang.

BACA JUGA:   The Mukaab, Proyek Ambisius Sang Putra Mahkota Arab Saudi

Kelanjutan pembangunan Forest City juga semakin tidak pasti pasca pandemi, mengingat sektor bisnis di areal yang sudah dibangun juga mengalami dampak yang cukup parah, diantaranya okupansi hotel anjlok dan aktivitas lapangan golf juga merosot.

Namun demikian, Country Garden tetap berkeyakinan terhadap kelanjutan proyek Forest City pada masa mendatang.

“Kondisi ini tidak akan mengubah rencana perusahaan dan akan terus mengeksplorasi para lokal untuk pemasaran properti. Salah satu caranya dengan memanfaatkan layanan digital dan virtual tours untuk melihat suasana Forest City saat ini,” ujar keterangan perusahaan.

Pemilik properti di Forest City saat ini berasa dari China, Malaysia, dan Singapura. Upaya promosi dilakukan oleh manajemen Country Garden untuk menarik minat konsumen dari Vietnam, Indonesia, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang.

BACA JUGA:   Meikarta, Mimpi Kota Modern Berujung Kisruh

Selain faktor pandemi, penyebab lain merosotnya penjualan properti di Forest City adalah kebijakan pemerintah Malaysia yang melarang warga negara asing untuk memiliki rumah dan properti.

Kebijakan tersebut disampaikan oleh PM Malaysia Mahathir Muhammad pada 2018 lalu menyikapi agresifitas megaproyek Forest City dan potensi terjadinya arus migrasi warga asing ke negara bagian Johor Bahru tersebut.

  • Bagikan
816 views