Ternyata Ini Penyebab Harga Mobil Listrik Masih Mahal!

  • Bagikan
Presiden Joko Widodo saat meresmikan produksi mobil listrik perdana Hyundai Ioniq5 yang diproduksi di pabrik Hyundai di Cikarang, Indonesia.

Regional.co.id, JAKARTA: Elon Musk, founder Tesla Inc. berencana membangun gigafactory ke empat di Indonesia. Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah diperkirakan menjadi pilihan Elon untuk membangun basis produksi mobil listriknya.

Publik tentu berharap hadirnya pabrik Tesla di Indonesia akan semakin menekan harga mobil listrik yang sampai hari ini masih sangat tinggi. Padahal, pasar otomotif Indonesia termasuk yang paling menjanjikan di kawasan Asia.

Jika rencana itu terealisasi, gigafactory Tesla di Indonesia paling tidak akan memiliki kapasitas produksi 200.000-300.000 unit per tahun dengan perkiraan luasan pabrik mencapai 3 juta meter persegi. Total investasi walau masih dirahasiakan namun berkaca dari investasi di GigaBerlin dan GigaTexas, Elon kemungkinan merogoh kocek hingga US$7-10 miliar.

BACA JUGA:   Usung Konsep Hijau, Bintan International Circuit Siap Tampil Beda

Harga mobil Tesla yang dijual di pasaran Indonesia melalui importir umum secara CBU berkisar antara Rp1 miliar – Rp4 miliar tergantung model. Untuk Model X Performance, harga jual on-the-road paling mahal mencapai Rp4 miliar.

Untuk Model 3, diperkirakan Rp1,5 miliar, dan Model S berbagai varian dijual dikisaran harga Rp3 – 4 miliar. Sementara itu harga mobil listrik keluaran Hyundai yaitu Ioniq5 dan Kona dijual dengan kisaran harga Rp650 – 760 juta on-the-road.

Dibandingkan harga mobil mesin bensin, harga mobil listrik jelas masih terhitung mahal dan bahkan masuk kategori mobil mewah karena setara harga Mercedes S-Class dan BMW Seri-7. Lantas, pertanyaannya, mengapa harga mobil listrik masih mahal ketika masuk pasar Indonesia?

BACA JUGA:   Simak, Jumlah Penonton MotoGP Terbanyak!

Kementerian Perindustrian mencoba merinci struktur biaya mobil listrik ini dan diperoleh komposisi hampir 50% berasal dari komponen baterei sebagai motor penggerak utama mobil listrik. Sedangkan biaya manufaktur sekitar 24% saja.

Walaupun Tesla sudah bangun pabrik tapi baterei masih impor maka harga jual mobil diperkirakan akan tetap mahal sehingga solusi yang ditawarkan pemerintah adalah investasi fasilitas manufaktur mobil termasuk industri baterei.

Tesla tentu akan diuntungkan jika membangun industri baterei di Indonesia karena bahan baku nikel yang berlimpah di Indonesia. Jika industri turunan mobil listrik ini dibangun di Indonesia maka dapat dipastikan harga mobil listrik akan semakin murah.

BACA JUGA:   Target 1 Juta Unit Mobil Listrik Tahun 2023, Gaikindo: Asalkan Harga Terjangkau!

Apalagi jika harga jualnya bisa setara mobil berbahan bakar premium atau solar yang berada dikisaran Rp250 juta – Rp350 juta untuk sekelas MPV. Tentu konsumen otomotif di Indonesia akan memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan berkendara secara hemat dan ramah lingkungan.

Kehadiran Tesla di Indonesia tentu akan menjadi pabrikan kedua yang membangun fasilitas produksi di Indonesia. Pabrikan pertama adalah Hyundai yang memproduksi model Ioniq5 untuk memenuhi pasar lokal dan ekspor.

  • Bagikan
129 views