Larang Ekspor Listrik, Erick: Indonesia Fokus Bauran Energi di Dalam Negeri

  • Bagikan
Proyek solar panel terapung di selat Johor dikembangkan oleh salah satu perusahaan listrik Singapura. Proyek sejenis juga akan dikembangkan di Batam mulai 2022 ini.

Regional.co.id, JAKARTA: Rencana pemerintah melarang ekspor listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) dipertegas oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Sebelumnya, pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

Erick mengatakan larangan ekspor EBT tersebut diberlakukan sama persis seperti kebijakan domestic market obligation (DMO) batu bara dan minyak goreng.

“Tujuannya, mengutamakan kebutuhan domestik, mengingat bauran listrik dari energi bersih secara nasional masih berada di kisaran 11,7 persen,” ujarnya beberapa hari lalu.

Menurut dia, sebagai negara yang mandiri harus memprioritaskan kebutuhan dalam negeri daripada kebutuhan negara lain. Tapi, bukan berarti kita anti asing. Rencana tersebut, tetap dilakukan seperti yang diberlakukan kepada batu bara dan minyak sawit.

BACA JUGA:   Jalan-Jalan Ke Johor Bahru, Ingat 4 Hal Ini!

Ia menegaskan bahwa keputusan pemerintah melarang ekspor listrik dari energi bersih merupakan kebijakan lumrah, mengingat RI membutuhkan EBT. Apalagi, pemerintah semakin aktif mendorong pembangunan dan pengembangan industri hijau di dalam negeri.

“Ketika negara membutuhkan energi terbarukan diprioritaskan ke dalam negeri sebelum ke luar negeri. Itu mah sah-sah saja,” ujar Erick.

Beberapa pekan sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dari forum ekonomi dunia di Davos menegaskan pemerintah tengah mempersiapkan aturan pelarangan ekspor listrik berbasis EBT ke negara manapun termasuk Singapura.

Pelarangan ekspor tersebut tentu saja akan berdampak pada kelanjutan investasi solar energy yang sudah menyatakan berminat untuk membangun di Provinsi Kepri dengan total investasi mencapai lebih dari Rp250 triliun dengan total kapasitas mencapai 20 gigawatt.

BACA JUGA:   Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru PTN Berubah, Ini Penjelasan Nadiem!

Rencana pembangunan fasilitas solar energi tersebut dalam rangka mengisi ceruk pasar ekspor ke Singapura yang membutuhkan pasokan listrik dari energi baru terbarukan sebesar 4.000 megawatt hingga 2035 mendatang.

Dalam catatan Regional Newsroom, sebanyak tujuh konsorsium sudah menyatakan minat untuk berinvestasi solar energi di beberapa lokasi di Provinsi Kepri. Bahkan ada konsorsium yang mendapat penunjukan dari otoritas listrik Singapura untuk mulai melakukan ekspor listrik pada 2024 mendatang.

Hingga berita ini diturunkan belum ada satupun konsorsium yang memberikan komentar terkait rencana pelarangan ekspor listrik dari pemerintah Indonesia tersebut.

  • Bagikan
79 views