Mengapa Malaysia Stop Ekspor Ayam, Ternyata Ini Alasannya!

  • Bagikan

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yakoob memutuskan melarang ekspor ayam sejak 1 Juni 2022 lalu. Keputusan ini menyebabkan suplai 3,6 juta ekor ayam hidup per bulan ke Singapura terpaksa terhenti.

Kebijakan tidak populer ini seperti malapetaka susulan bagi Singapura setelah dua tahun terakhir terhempas badai virus Covid-19 dan ditambah efek perang Rusia-Ukraina. Sebagai negara pulau, Negeri Singa itu pulau sangat bergantung dengan ayam segar terutama sebagai sumber protein utama dari makanan favorit utama mereka, Chicken Rice atau nasi ayam.

Menjelang 1 Juni lalu, para pemasok ayam di Singapura sudah was-was. Mereka terpaksa harus gulung tikar jika kiriman ayam segar terhenti dari negeri tetangga. Angka 3,6 juta ekor per bulan tentu bukan angka main-main, sebab itu setara dengan 34% kebutuhan unggas negara tersebut, selain suplai Brazil 49% dan Amerika Serikat 12%. Namun, kedua negara itu khusus ayam beku.

Seluruh kebutuhan sayur dan unggas di Singapura didatangkan dari negara lain. Singapura jelas tidak bisa mempersiapkan diri untuk mengembangkan ternak unggas dan holti karena keterbatasan lahan di negara tersebut.

Sebagian besar warga sempat panik karena terbayang suguhan nasi ayam tanpa ayam segar seperti biasanya. Harga jual nasi ayam juga dipastikan akan melambung dan kemungkinan terburuk menu favorit tersebut bisa-bisa tak ada lagi.

BACA JUGA:   Menyorot Kelanjutan Investasi Solar Energy di Provinsi Kepulauan Riau

Namun Desmond Tan, Menteri Negara bidang Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura memastikan pasokan ayam beku masih bisa bertahan hingga empat bulan. Dia mendapatkan data dari para distributor bahwa persediaan masih mencukupi.

“Warga tidak perlu panik dan menumpuk barang karena persediaan ayam mencukupi. Kita memang terpengaruh dengan kebijakan larangan ekspor ini tapi kita harus mencari solusi agar kebutuhan tetap terpenuhi,” ujarnya kepada media setempat.

Era food protectionism sepertinya menjadi pilihan pahit bagi negara-negara sumber bahan pangan. Kebutuhan pasar domestik saat ini menjadi prioritas ketimbang harus melanjutkan ekspor agar pasokan dan harga tetap terjaga.

Beberapa negara sudah lebih dulu melindungi sumber pangannya dengan melarang ekspor. Argentina meghentikan pasokan minyak kedelai ke pasar global sejak Maret lalu. India mengikuti dengan melarang ekspor gandum dan gula. Indonesia sempat menghentikan ekspor turunan minyak sawit selama tiga minggu.

Begitu juga keputusan PM Malaysia melarang ekspor ayam. Semua kebijakan diambil sebagai imbas dari perang Rusia-Ukraina. Suplai gandum dan biji-bijian dari Ukraina tertahan di pelabuhan karena perairan dikuasai armada Rusia.

Akibatnya suplai global terbatas yang memicu harga naik gila-gilaan. Salah satunya sumber bahan baku pakan ternak yang masih diimpor oleh para peternak ayam di Malaysia dari Ukraina. Harga pakan naik maka harga jual per ekor ayam pasti akan ikut naik.

BACA JUGA:   Jokowi Undang Pangeran Mohammed Bin Zayed ke KTT G20 di Indonesia

Sebagian peternak sudah memutuskan berhenti berproduksi karena tak sanggup lagi menghadapi tingginya harga pakan ayam. Mau menaikkan harga jual juga tidak bisa sembarangan karena pemerintah sudah menetapkan harga batas atas. Pemerintah menetapkan batas atas pada level harga RM8,9 per kilogram atau $2,03 per kilogram.

Situasi ini yang ingin diantisipasi oleh pemerintah Malaysia untuk memastikan pasokan di pasar domestik mencukupi dan harga masih terkendali. Pemerintah juga mencium dugaan kartel ayam yang dapat membuat harga jual semakin tinggi mengikuti harga ekspor.

Dugaan kartel ini tengah diselidiki oleh Komisi Persaingan Usaha Malaysia mengingat suplai ayam di pasar domestik mulai terbatas. Kondisi ini dirasakan oleh Federasi Perlindungan Konsumen Malaysia yang menilai respon pemerintah masih lambat dalam menyikapi soal dugaan kartel ini.

Menteri Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen Malaysia Alexander Nanta Linggi memastikan investigasi yang dilakukan Komisi Persaingan Usaha Malaysia (MyCC) terhadap dugaan kartel ayam ini akan selesai pada akhir Juni mendatang.

“Inisiatif untuk investigasi ini dilakukan oleh MyCC terhadap seluruh pemain industri unggas di Malaysia termasuk aktivitas upstream dan downstream,” ujarnya.

Harga naik

Sampai kapan pelarangan ekspor ayam ini akan berakhir? Tampaknya belum dalam waktu dekat sampai pemerintah Malaysia mendapatkan rekomendasi dari MyCC dan kementerian terkait terhadap dugaan kartel dan kepastian pasokan dalam negeri.

BACA JUGA:   Sebanyak 13 orang Tewas dan Ratusan Terluka Akibat Ledakan Tanki Gas Klorin

Namun demikian harga jual ayam sepertinya akan semakin tinggi di Singapura. Data yang dihimpun dari Pusat Statistik Singapura menunjukkan harga ayam sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda kenaikan sejak setahun terakhir.

Pada Mei 2021 lalu, harga ayam utuh berada pada kisaran $6,34 per kilogram, kemudian naik tipis pada Desember 2021 menjadi $6,381, sebelumnya akhirnya naik cukup signifikan pada Januari 2022 menjadi $6,55. Pada April 2022 lalu menyentuh level tertinggi menjadi $7,21.

Kenyataannya hari ini harga jual ayam di beberapa pusat perdagangan sudah menyentuh level $8 hingga $10 per kilogram. Bahkan untuk ayam kampung di NTUC FairPrices dijual dengan harga $22,5 per kilogram.

Pemerintah Singapura terus berupaya memastikan keamanan stok dan mengantisipasi kenaikan harga yang terlalu tinggi. Sementara disisi lain, konsumen terpaksa harus mulai membiasakan untuk mengkonsumsi ayam beku bahkan sebagai sajian utama menu favorit chicken rice.

Mari sama-sama kita tunggu perkembangan selanjutnya!

Penulis: Dr. Suyono Saputro, chief editor Regional.co.id/Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam/Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kota Batam

  • Bagikan
297 views