Ekspor Ayam Hidup Dari Indonesia Ke Singapura, Mungkinkah?

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Pemerintah Singapura menjajaki peluang impor ayam hidup dari Indonesia untuk menutupi kekurangan pasokan ayam negara itu pasca ditutupnya kran ekspor 3,6 juta ekor ayam per bulan dari Malaysia sejak 1 Juni lalu.

Menurut Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Menko Perekonomian, saat ini Indonesia dalam keadaan surplus ayam sehingga memungkinkan untuk dilakukan ekspor.

“Kami sedang mendiskusikan secara teknis dengan Singapura peluang ekspor ayam ke negara itu. Diharapkan bisa dimulai pada bulan ini,” ujarnya.

Singapore Food Agency (SFA) juga mengungkapkan tengah menjajaki peluang ini dengan otoritas di Indonesia dan mempertimbangkan berbagai potensi untuk merealisasikan pasokan ayam dalam waktu dekat.

Data dari Asosiasi Peternak Unggas Indonesia menyebutkan Indonesia memproduksi ayam sekitar 55 – 60 juta ekor per minggu dan mengalami surplus sekitar 15%-20% setelah dikurangi konsumsi domestik.

“Ekspor ke Singapura diperkirakan dapat dilakukan untuk memenuhi permintaan 3,6 juta – 4 juta ekor per bulan,” ujar Achmad Dawami, Ketua Asosiasi Peternak Unggas Indonesia, kepada Reuters, belum lama ini.

Namun masalahnya kini adalah Singapura ingin ekspor ayam dalam keadaan hidup sebagaimana dilakukan oleh Malaysia. Karena jika ayam beku mereka sudah memiliki pasokan berlebih dari Brazil dan Amerika Serikat.

BACA JUGA:   Pelabuhan Batu Ampar Dominasi Ekspor Kota Batam

Kondisi ini yang sebenarnya tidak siap dihadapi oleh peternak Indonesia. Achmad bahkan menegaskan peternak belum terbiasa mengekspor ayam dalam keadaan hidup.

“Walau begitu kami ingin peluang ekspor ini bisa digarap secepatnya karena kalau harus menunggu lagi bisa-bisa kehilangan momentum,” kata dia.

Sementara itu Malaysia telah mencabut sebagian larangan ekspor ayam, yang memungkinkan produsen dan importir unggas di Singapura untuk membawa ayam khusus jenis ayam kampung hidup dari seluruh Causeway.

Menurut importir Kee Song Food, pihak berwenang Malaysia mengizinkan perusahaan untuk melanjutkan impor ayam kampung hidup pada Selasa (14 Juni). Pihaknya juga akan mulai mendatangkan ayam hitam dari Malaysia mulai Sabtu (18 Juni).

Kepala pengembangan bisnis Kee Song James Sim mengatakan surat dari Departemen Layanan Hewan Malaysia yang menyatakan bahwa pemerintah Malaysia telah setuju untuk mengizinkan ekspor ayam kampung hidup dan ayam hitam, menyusul keputusan Kabinet yang dibuat pada 8 Juni.

BACA JUGA:   Singapura Tarik Produk Coklat Kinder Dari Pasaran

Adapun ayam boiler yang mendominasi konsumsi ayam domestik Singapura masih dilarang untuk ekspor sampai dengan pemberitahuan selanjutnya dari Pemerintah Malaysia.

Masalah Jarak

Mempertimbangkan rencana ekspor ayam dari Indonesia ke Singapura, apakah memungkinkan mengingat jarak yang jauh dari sentra produksi ayam di Jawa Barat ke pelabuhan di Singapura.

Kemungkinan itu bisa saja, namun perlu dipertimbangkan faktor jarak tempuh dari sentra produksi ayam di Indonesia ke Singapura. Keunggulan Malaysia karena perbatasan kedua negara bisa ditempuh lewat jalur darat sehingga waktu pengiriman lebih cepat.

Jika Indonesia berminat untuk ekspor ayam hidup, maka pertanyaan selanjutnya adalah dari mana daerah yang akan menjadi pemasok. Apakah Jawa Barat atau Sumatera Utara. Saat ini, produksi ayam terbesar di Indonesia ada di Jawa Barat dengan produksi 865.000 ton (BPS, 2021) untuk wilayah Jawa.

Di Sumatera, produksi terbesar ada di Sumatera Utara dengan 166.729 ton. Total produksi ayam nasional sebesar 3,426 juta ton. Dengan konsumsi ayam perkapita per tahun penduduk Indonesia sebesar 12,79 kg, maka total konsumsi nasional untuk 273.879.750 jiwa penduduk (Data Kemendagri, 2021) mencapai 3,502 miliar kilogram atau setara 3,502 juta ton.

BACA JUGA:   Dipicu Penurunan Harga Komoditas, Kepri Deflasi -0,04% pada Oktober 2022

Jika dibandingkan total produksi nasional dari data tersebut sebenarnya Indonesia masih kekurangan 76 ribu ton. Namun itu masih perhitungan diatas kertas, kita perlu bandingkan lagi dengan data riil dari Kementerian Pertanian.

Jarak antara pelabuhan Patimban ke Singapura mencapai 1.170 kilometer yang berarti ayam hidup yang dikirim dipastikan berada di laut selama berhari-hari. Bagaimana membawa ayam hidup tersebut, apakah pakai kontainer atau box ayam khusus?

Ketika sampai di pelabuhan Singapura berapa lama waktu handling yang dibutuhkan agar ayam-ayam tersebut bisa segera didistribusikan ke distributor utama? Kondisi ini yang harus diantisipasi jika Indonesia ingin ekspor ayam hidup.

Apalagi seperti disampaikan oleh Achmad Dawami tadi, para peternak belum berpengalaman dalam melakukan ekspor ayam hidup. Atau mungkin secara teknis ada cara lain yang lebih mudah dan efektif agar ayam tetap segar ketika sampai di negara tujuan.

  • Bagikan
501 views