Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp15.000, Ini Kata Bank Indonesia!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Rupiah akhirnya tidak kuat menahan tekanan dari gejolak pasar keuangan global. Setelah beberapa hari, Dolar Amerika Serikat (AS) kini bertengger di level Rp 15.000.

Rupiah membuka perdagangan hari ini di Rp 14.990/US$ atau melemah 0,03% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Setelahnya rupiah sempat menyentuh Rp 14.995/US$, sebelum berbalik menguat tipis 0,03% ke Rp 14.981/US$.

Rupiah tak kuasa menahan tekanan dan akhirnya menyentuh Rp 15.000/US$ pada pukul 09:06 WIB. Level tersebut merupakan yang terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Edi Susianto memberikan penjelasan lengkap, Rabu (6/7/2022) mengenai kondisi rupiah terkini.

BACA JUGA:   Temuan BPK Tahun 2021, 124.960 Pensiunan Belum Terima Pengembalian Dana Tapera Senilai Rp567 Miliar

Edi menuturkan, kondisi ini berasal ketidakpastian perekonomian global yang semakin tinggi. Pelaku pasar, menurutnya khawatir dunia akan masuk ke resesi. AS dan sederet negara kini sudah hadapi lonjakan inflasi.

“Pasar global khawatir akan terjadinya perlambatan lebih jauh atas ekonomi global bahkan khawatir bisa masuk ke kondisi resesi, khususnya ekonomi AS dimana data yang terkini sepertinya mendukung terhadap kekhawatiran tersebut,” jelasnya.

Sehingga opsi yang dipilih adalah mengamankan modal ke tempat yang dianggap paling aman, adalah dolar AS dan US Treasury. Maka dari itu penguatan dolar AS kini sudah mencapai level tertinggi sejak 20 tahun terakhir.

BACA JUGA:   Dolar Tembus Rp16.250, OJK Himbau Masyarakat Tidak Panik

“Artinya dari pergerakan nilai tukar, banyak mata uang non USD khususnya mata uang EM (Emerging Market) mengalami pelemahan, tentunya termasuk Rupiah,” paparnya.

Akan tetapi, Edi menyampaikan, posisi rupiah masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang Thailand, Malaysia, Filipina, India, dan Korea Selatan.

BI akan selalu berada di pasar, memastikan rupiah bergerak stabil. Ada beragam intervensi yang bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Meskipun hingga saat ini kebutuhan valuta asing sudah dipenuhi oleh eksportir.

“BI memastikan ada di pasar melalui triple intervention agar supaya mekanisme pasar dapat bekerja dg baik melalui menjaga keseimbangan supply – demand valas di market,” ujarnya

BACA JUGA:   BPR Bertumbangan Di Awal 2024, LPS: Uang Nasabah Aman!

“BI menjaga kondisi likuiditas Rupiah dalam level yang optimal,” tegas Edi. (Sys/CNBCIndonesia)

  • Bagikan
269 views