Kuota Berkurang, Masa Tunggu Haji di Kab. Bantaeng Hampir Satu Abad!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Calon jemaah haji asal Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan harus menunggu hampir satu abad untuk mendapatkan kesempatan pergi menunaikan ibadah haji dan menjadikan kabupaten ini sebagai daerah dengan masa tunggu paling lama.

Data perkiraan daftar tunggu yang dirilis dalam situs haji.kemenag.go.id menyebutkan perkiraan masa tunggu calon jemaah haji Kabupaten Bantaeng adalah 97 tahun dengan rincian jumlah jemaah nya sebanyak 8.111 orang dan perkiraan kuota per tahun 85 jemaah.

Kabupaten kedua terlama adalah Kabupaten Sidrap dengan masa tunggu 94 tahun. Di sini jumlah calon terdaftar sebanyak 10.707 jemaah dengan kuota per tahun 116 orang.

Selanjutnya ada Kota Pinrang dengan masa tunggu 91 tahun, Kabupaten Wajo 86 tahun, Kota Pare-Pare 85 tahun, Kota Makassar 84 tahun, Kabupaten Jeneponto 83 tahun, Kota Bontang 82 tahun, dan kota-kabupaten lain dengan masa tunggu beragam mulai 20-70 tahun.

BACA JUGA:   Anggaran Bukber Pemko Batam Rp1,2 Miliar Dibatalkan, Netizen: Begitu ya Selama ini!

Sementara itu, Provinsi Kepulauan Riau tercatat masa tunggu selama 46 tahun dengan jumlah jemaah terdaftar 25.857 orang dan kuota per tahun sebanyak 586 jemaah.

Mengapa masa tunggu berangkat haji makin lama? Ternyata ini terkait dengan jumlah kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada negara-negara yang menunaikan ibadah haji setiap tahun.

Pada tahun 2022 ini, kuota yang disediakan hanya 1 juta jemaah dan dibagi-bagi termasuk untuk Indonesia hanya mendapatkan jatah 100.051 jemaah. Pengurangan ini dipengaruhi oleh faktor pandemi Covid-19, setelah dua tahun sebelumnya kegiatan ibadah haji ditiadakan.

Pada masa normal sebelum pandemi, kuota untuk Indonesia berjumlah 210.000 jemaah dan angka itu yang dibagi secara proporsional untuk seluruh provinsi dan kabupaten/kota.

Kasubdit Siskohat Ditjen PHU Hasan Afandi menjelaskan bahwa mundurnya estimasi keberangkatan disebabkan bilangan pembagi daftar tunggunya didasarkan pada kuota haji tahun berjalan.

BACA JUGA:   Pelabuhan Batu Ampar Operasikan STS Crane, Rudi: Bongkar Muat Makin Cepat dan Efisien!

“Estimasi keberangkatan selalu menggunakan angka kuota tahun terakhir sebagai angka pembagi. Tahun ini kebetulan kuota haji Indonesia hanya 100.051 atau sekitar 46% dari kuota normal tahun-tahun sebelumnya,” terang Hasan yang saat ini tengah bertugas sebagai Kabid Siskohat di Kantor Urusan Haji Jeddah, Arab Saudi.

Menurut dia, sebelum ada kepastian kuota penyelenggaraan haji 1443 H pada pertengahan Mei 2022, maka bilangan asumsi yang digunakan sebagai bilangan pembagi masih menggunakan kuota berdasarjan MoU penyelenggaraan haji 2020 (pada akhirnya ada kebijakan membatalkan keberangkatan karena pandemi Covid-19), yaitu 210ribu.

Sejak ada kepastian bahwa kuota haji 1443 H adalah sekitar 100 ribu, maka bilangan pembaginya mengalami penyesuaian.

Estimasi ini akan terus berjalan sampai dengan adanya kepastian kuota haji pada tahun 1444 H/2023 M. Jika kuota kembali normal, misalnya kembali ke 210 ribu atau bahkan lebih, maka estimasi keberangkatan akan mengalami penyesuaian.

BACA JUGA:   Ruas Jalan Provinsi Dilimpahkan ke Pemko Batam, Ansar: Pertimbangan Status Lahan!

Saat ini, daftar tunggu jemaah terbanyak ada di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah 1.087.584 jemaah dengan masa tunggu 70 tahun untuk kuota per tahun sebanyak 15.956 jemaah.

Kemudian masa tunggu tercepat se-Indonesia adalah Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat dengan masa tunggu 9 tahun dan kuota kabupaten sebanyak 2 jemaah per tahun.

Selain bilangan pembagi yang belum normal, semakin lamanya waktu tunggu berangkat haji karena jumlah pendaftar haji yang setiap tahun terus bertambah.

Masa tunggu yang semakin lama justru membuka kesempatan peluang bisnis haji furoda atau haji plus. Jemaah yang memilih berangkat dengan paket khusus ini terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam dengan kisaran harga Rp250 juta – Rp900 juta.

  • Bagikan
136 views