Mengapa Shinzo Abe Ditembak?

  • Bagikan
Sesaat setelah tragedi penembakan Shinzo Abe di Kota Nara dalam rangkaian kampanye pemilihan parlemen. Abe akhirnya meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Mantan PM Jepang Shinzo Abe ditembak dibagian dada saat sedang berpidato dalam kampanye pemilihan parlemen di wilayah bagian utara Kota Nara, pada Jumat (08/07) siang waktu setempat.

Abe sempat mengalami perawatan intensif di rumah sakit namun luka tembak yang cukup parah menyebabkan Abe meninggal dunia beberapa jam setelah insiden.

Publik pun bertanya-tanya, mengapa Shinzo Abe harus ditembak atau bisa dikatakan dibunuh secara brutal di depan khalayak ramai saat Abe sedang berpidato dan disiarkan secara live oleh televisi setempat?

Berbeda dengan serangan terhadap kakeknya, perdana menteri Nobosuke Kishi, yang selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 1960 yang berasal dari perseteruan internal Partai Demokrat Liberal, pembunuhan pada hari Jumat (8 Juli) atas Shinzo Abe perlu diinvestigasi lebih lanjut apakah ini adalah pekerjaan seorang pria bersenjata yang bertindak sendirian, atau jika itu adalah bagian dari sebuah konspirasi?

Tentu kita akan memperoleh informasi setelah polisi menginterogasi tersangka yang sekarang ditahan. Berdasarkan keterangan sementara, tersangka merupakan mantan anggota Pasukan Bela Diri Maritim Jepang berusia 41 tahun.

Dia mungkin berubah menjadi orang lain yang tidak stabil secara mental – seperti John Hinckley Jr, yang menembak mendiang presiden Ronald Reagan pada tahun 1981, upaya pembunuhan yang gagal; atau Mark Chapman, yang membunuh John Lennon di luar apartemennya di New York setahun sebelumnya.

Atau mungkin ini lebih mirip serangan pembunuhan terhadap Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat, di Teater Ford di Washington, D.C., pada malam 14 April 1865. Lincoln ditembak di kepala oleh simpatisan Konfederasi John Wilkes Booth.

Lincoln meninggal keesokan paginya. Pembunuhan itu terjadi hanya beberapa hari setelah penyerahan Jenderal Robert E. Lee di Gedung Pengadilan Appomattox dan Angkatan Darat Virginia Utara kepada pasukan Union yang dipimpin oleh Jenderal Ulysses S. Grant, yang telah menandai berakhirnya secara efektif Perang Saudara Amerika.

BACA JUGA:   Mikra Gugat

Kematian Lincoln menjerumuskan sebagian besar negara ke dalam keputusasaan, dan pencarian Booth dan kaki tangannya adalah perburuan terbesar dalam sejarah Amerika hingga saat itu.

Pembawa Perubahan

Namun untuk kasus Abe, selama dia menjabat sebagai perdana menteri tiga periode justru dia berhasil membawa banyak perubahan untuk ekonomi Jepang. Abe baru berusia 52 tahun ketika dilantik sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang pada tahun 2006. Ia pun menjadi PM termuda di Negeri Sakura itu.

Dilansir dari RFI, saat dilantik, Abe tak hanya menjadi simbol bagi pemuda dan perubahan, namun juga membawa silsilah baru: politisi generasi ketiga yang dipersiapkan sejak lahir oleh keluarga elit dan konservatif.

Kakeknya, Kishi Nobusuke, menjabat sebagai PM Jepang dari tahun 1957 hingga 1960, dan paman buyutnya, Sato Eisaku, memegang jabatan yang sama dari tahun 1964 hingga 1972. 

Abe sendiri menjabat dari 2006-2007. Dia sempat mengundurkan diri akibat skandal keuangan yang melibatkan pemerintahannya pada 2007. Kemudian pada 2012 dia kembali mencalonkan diri dan terpilih menjadi perdana menteri, kemudian berlanjut periode 2014-2017 dan periode 2017-2021 sebelum akhirnya mengundurkan diri dan digantikan oleh Fumio Kishida.

Dikutip dari laman The Straits Times, Jumat (8/7/2022), pencapaian rekor Abe sebagai perdana menteri sebelum mengundurkan diri pada 2020, ditunjukkan dengan membawa stabilitas ekonomi Jepang setelah enam pemerintahan.

BACA JUGA:   Dampak Ekonomi Global Terhadap Perekonomian Regional Provinsi Kepri

Ia membantu Jepang keluar dari siklus deflasi, menghadapi pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mempertanyakan satu-satunya aliansi militer negara itu, dan bekerja untuk meningkatkan hubungan dengan mitra dagang terbesarnya China, yang paling bermusuhan dalam beberapa dekade saat dirinya menjabat.

Abe mungkin paling dikenal karena rencananya untuk menghidupkan kembali ekonomi Jepang yang lesu melalui pelonggaran moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya dan reformasi peraturan yang akhirnya diberi label ‘Abenomics’.

Ia dipandang sebagai tangan yang sanggup mengkonsolidasikan kekuatan selama rekor jabatan kali kedua, dan mampu mengatasi skandal yang terjadi di Jepang.

Simpati Dunia

Beberapa jam setelah kabar meninggalnya Abe tersiar ke seluruh dunia, berbagai ucapan belasungkawa berdatangan dari para pemimpin dunia. Salah satunya India.

Manmohan Singh, mantan PM India periode 2004-2014, mengucapkan rasa kehilangannya atas tragedi penembakan Abe. Singh sudah menganggap Abe sebagai teman baik karena sama-sama menjalin kemitraan India – Jepang saat keduanya masih menjabat.

Presiden Perancis Emmanuel Macron menuliskan rasa belasungkawa yang teramat dalam atas nama pribadi dan rakyat Perancis terhadap tragedi yang menimpa Abe dalam status akun twitter resminya.

Mantan Presiden AS Barack Obama juga menyatakan keterkejutannya atas kejadian tersebut. “Saya terkejut dan sedih dengan pembunuhan teman dan mitra lama saya Shinzo Abe di Jepang. Mantan Perdana Menteri Abe mengabdikan diri pada negara yang dia layani dan aliansi luar biasa antara Amerika Serikat dan Jepang,” ujarnya.

“Saya akan selalu mengingat pekerjaan yang kami lakukan untuk memperkuat aliansi kami, pengalaman yang mengharukan dalam perjalanan ke Hiroshima dan Pearl Harbor bersama, dan rahmat yang dia dan istrinya Akie Abe tunjukkan kepada saya dan Michelle. Michelle dan saya mengirimkan belasungkawa terdalam kami kepada orang-orang dari Jepang yang sangat kami pikirkan pada saat yang menyakitkan ini.” tulis Obama.

BACA JUGA:   Mengapa Malaysia Stop Ekspor Ayam, Ternyata Ini Alasannya!

Tragedi Penembakan di Jepang

Selain kasus Abe, di Jepang pernah terjadi kasus penembakan terhadap pejabat pemerintahan baik yang mengakibatkan korban jiwa ataupun luka-luka.

Pada tahun 1990, Walikota Nagasaki Motoshima Hitoshi mengalami luka serius setelah ditembak oleh orang tak dikenal dari kelompok sayap kanan.

Pada tahun 1992, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan ke Wakil Presiden Partai Demokrat Liberal saat itu, Kanemaru Shin dalam pidatonya di Prefektur Tochigi. Kejadian itu luput dan tidak melukai Kanemaru.

Selanjutnya pada tahun 1994, mantan Perdana Menteri Hosokawa Morihiro ditembak oleh mantan anggota kelompok sayap kanan di sebuah hotel di Tokyo. Hosokawa lolos tanpa cedera dalam insiden itu.

Pada tahun 1995, Komisaris Jenderal Badan Kepolisian Nasional saat itu Kunimatsu Takaji ditembak dan terluka parah di depan kediamannya di Tokyo.

Berikutnya, pada tahun 2007, walikota Nagasaki lainnya, Ito Itcho, ditembak mati oleh seorang anggota kelompok kejahatan terorganisir.

Penembakan yang dialami Abe merupakan pengulangan kasus setelah hampir 15 tahun Jepang tidak pernah lagi terjadi kasus penembakan terhadap pejabat.

Kali ini, Abe harus meregang nyawa disaat dia sedang berkampanye untuk memenangkan pemilihan parlemen yang akan digelar tak lama lagi.

Kita masih menunggu hasil pemeriksaan kepolisian terhadap pelaku untuk mengetahui motif penembakan serta siapa dalang dibalik penembakan tersebut.

Penulis: Dr. Suyono Saputro | Chief Editor Regional.co.id

IG: @jonosaputro1905

  • Bagikan
233 views