Survei Bloomberg, Indonesia Masuk Daftar 15 Negara Terancam Resesi

  • Bagikan
Warga membawa jerigen kosong untuk mengantri minyak goreng di halaman Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (3/2/2022). Minyak goreng curah dengan harga Rp11.500 per liter mulai didistribusikan ke pasar tradisional. Salah satu pasar yang terdapat minyak goreng sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) tersebut di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao.

Regional.co.id, JAKARTA: Hasil survei yang dilakukan Bloomberg menyebutkan Indonesia masuk dalam peringkat 14 dari daftar 15 negara di dunia yang terancam resesi.

Dalam daftar tersebut, peringkat teratas ditempat Sri Lanka yang memang hampir masuk dalam jurang kebangkrutan yang berujung pada pengunduran diri Presiden Gotabaya Rajapaksa. Potensi resesi negara tersebut sebesar 85%.

Kemudian menyusul New Zealand sebesar 33%, Korea Selatan dan Jepang dengan presentase 25%. Sedangkan China, Hongkong, Australia, Taiwan, dan Pakistan dengan presentase 20%. Malaysia 13%, Vietnam dan Thailand 10%, Filipina 8%, Indonesia 3%, dan India 0%.

Menanggapi survei tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dibandingkan dengan negara-negara lain dalam daftar itu, Indonesia memiliki indikator ekonomi yang lebih baik.

BACA JUGA:   Awal Tahun 2024, Pembiayaan Anggaran Sudah Tembus Rp107,6 Triliun

“Indikator neraca pembayaran kita, APBN kita, ketahanan dari GDP (produk domestik bruto), dan juga dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga, serta monetary policy kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3%, dibandingkan negara lain yang potensi untuk bisa mengalami resesi jauh di atas, yaitu di atas 70%,” jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers di Bali, Rabu (13/07).

Sri menyebutkan ekonomi Indonesia masih tumbuh di sekitar level 5%. APBN hingga akhir semester I-2022 juga masih surplus Rp 73,6 triliun atau 0,39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Transaksi berjalan dimungkinkan juga tetap melanjutkan tren surplus meskipun mulai menipis.

BACA JUGA:   Bappenas Luncurkan Logo Baru, Suharso: Visi dan Semangat Indonesia 2045

Menurut dia, kekhawatiran banyak pihak memang ada di inflasi. Inflasi pada Juni 2022 tercatat 0,61% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Inflasi tahun kalender adalah 3,19%

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Juni 2022 berada di 4,35%. Lebih tinggi dibandingkan Mei 2022 yang 3,55% sekaligus jadi yang tertinggi sejak Juni 2017. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,63% dan harga yang diatur pemerintah 5,33% serta yang bergejolak 10,3%.

“Dibandingkan banyak negara, inflasi yang terjadi di Indonesia cenderung rendah. Sebab pemerintah mampu menahan kenaikan harga energi lewat subsidi sebesar Rp 520 triliun. Sehingga masyarakat tidak merasakan beban berat seperti yang dialami negara lain,” papar Sri.

BACA JUGA:   Tiga Opsi Siasati Beban Subsidi Energi, Menkeu: Tiga-Tiganya Nggak Enak!

Sementara, kepala IMF Kristalina Georgieva mengatakan pihaknya akan menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global pada bulan ini.

Dalam perkiraan terakhir yang dikeluarkan pada April silam, IMF memperkirakan pertumbuhan global hanya akan mencapai 3,6% tahun ini.

Dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), Bank Dunia menyebutkan tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang diprediksi ikut terseret ke dalam jurang resesi akibat inflasi yang terus meningkat. Tak hanya negara maju, negara berkembang seperti Indonesia pun berisiko mengalami resesi ekonomi.

  • Bagikan
188 views