Ini Dia Pembangkit EBT Peninggalan Belanda, Ada yang Sudah Berumur 100 tahun!

  • Bagikan
PLTA Plengan, beroperasi tahun 1922

Regional.co.id, BANDUNG: Wacana transisi energi dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT) memaksa Pemerintah Indonesia untuk mulai menghentikan pengoperasian PLTU mulai 2025-2030 mendatang, atau dikenal dengan early retirement (pensiun dini).

Kebijakan tersebut juga merupakan bagian dari komitmen masyarakat global yang akan mulai menurunkan zat karbon yang dihasilkan dari pembakaran pembangkit berbahan bakar fosil khususnya batu bara.

Indonesia sendiri menargetkan bauran energi hingga 23% pada 2025 yang didominasi oleh pembangkit listrik tenaga surya, selain juga dari pembangkit tenaga air, panas bumi, angin, dan biomassa.

Namun, para pembaca perlu tahu, bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki pembangkit EBT berbasis air (hydropower) sejak jaman Belanda lho!

Pemerintahan kolonial Belanda waktu itu telah mulai membangun pembangkit listrik untuk mengaliri listrik di perkebunan dan pabrik teh yang mereka kuasai di wilayah Jawa Barat.

Artinya konsep renewable energy atau energi baru terbarukan itu sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu yang dibawa oleh penjajah Belanda ke Indonesia yang waktu itu belum mengenal listrik terbarukan.

BACA JUGA:   Tugas Wapres Baru Ngurus Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, Seperti Apa Konsepnya?

Berikut ini tiga pembangkit tenaga air yang dibangun sejak jaman Belanda:

PLTA Plengan (1922) dan PLTA Lumajan (1924)

PLTA Lumajan, beroperasi tahun 1924

PLTA Plengan dan Lumajan merupakan pembangkit listrik tenaga air tertua di Indonesia. Dua PLTA ini berada di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, berjarak sekitar 35 kilometer dari Kota Bandung. Hingga kini keduanya masih beroperasi menyuplai listrik untuk interkoneksi Jawa-Bali.

Plengan dan Lamajan dibangun pada awal 1900-an, bersamaan dengan pembangunan sejumlah PLTA di wilayah Jawa Barat, yakni Bengkok-Dago (Bandung), Ubrug (Sukabumi), dan Kracak (Bogor). PLTA itu dikembangkan di Jawa Barat untuk memenuhi kebutuhan perkebunan dan pabrik teh.

Pembangunan Plengan dan Lamajan dilaksanakan pada 1918-1924. Plengan mulai dioperasikan sejak 1922, sedangkan Lamajan setahun kemudian pada 1924. Jarak kedua PLTA di lereng Gunung Tilu ini hanya 2 km.

BACA JUGA:   Siapkan Anggaran Rp705 Miliar, PUPR Mulai Kerjakan Jalan Akses Makassar New Port

PLTA Plengan memiliki lima turbin dengan kapasitas total 6,27 MW. Adapun turbin di Lamajan sebanyak tiga buah berkapasitas total 19 MW. Hingga saat ini kedua PLTA ini masih beroperasi di bawah kendali Unit Bisnis Pembangkit Saguling PT Indonesia Power dan menyuplai listrik untuk interkoneksi Jawa-Bali.

Untuk operasionalisasi, kedua PLTA memanfaatkan aliran air Sungai Cisangkuy dan anak-anak sungai di sekitarnya. Demi menjamin pasokan air untuk PLTA tersebut, Pemerintah Hindia Belanda membangun dua waduk di Kecamatan Pangalengan, yakni Situ Cileunca pada 1922 dan Situ Cipanunjang pada 1930. Kedua situ tersebut mampu menampung air hingga 30 juta meter kubik.

Air dari situ dialirkan melalui pipa-pipa besi yang disebut pipa pesat untuk menggerakkan turbin. Pipa berwarna kuning berdiameter 1,2-1,8 meter dipasang sepanjang 540 meter mengikuti kontur pegunungan, mulai dari situ hingga PLTA. Jaringan pipa pesat itu terlihat mencolok dari arah Jalan Raya Pangalengan, kontras dengan hijau pegunungan yang dilintasinya.

BACA JUGA:   Kepala Otorita IKN Mengundurkan Diri, Jokowi: Pembangunan Jalan Terus!

Dirut PT Indonesia Power M. Achsin Siki menjelaskan kelestarian pembangkit tersebut tidak lepas dari dukungan masyarakat sekitar yang mempertahankan lingkungan sehingga air untuk pembangkit masih terjaga.

PLTA Kracak (1926)

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kracak terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat satu di antara Sub Unit Pembangkit dari Saguling POMU yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, tepatnya pada 1926 masih beroperasi normal.

PLTA Kracak, beroperasi tahun 1926

PLTA Kracak terdiri dari tiga unit pembangkit berkapasitas total 18,90 MW di mana unit 1 dan 2 dibangun pada 1926 sedangkan unit 3 pada tahun 1958.

Lisrik yang dihasilkan disalurkan melalui Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITT) Kedung Badak dan Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITT) Bunar.



  • Bagikan
449 views