Menuju Era ‘One Sun One Grid’, Simak 3 Gigaproject Solar Energy Terbesar Dunia!

  • Bagikan
Atacama Desert di Chili, padang pasir dengan radiasi paling tinggi di dunia. Disini akan dibangun PLTS terbesar dunia dengan kapasitas 600 Gigawatt

Pada Oktober 2018 lalu, PM India Narendra Modi mengajukan ide untuk inisiatif One Sun One World One Grid (OSOWOG) dalam forum First Assembly of the International Solar Alliance (ISA).

Inisiatif tersebut digaungkan sebagai bentuk kepedulian global atas meningkatnya jejak karbon dan biaya energi yang dihasilkan dari pembangkit energi berbahan bakar fosil.

80 negara anggota ISA sepakat bahwa komitmen untuk mulai beralih dari pembangkit fosil ke pembangkit energi baru terbarukan sudah harus direalisasikan dalam bentuk proyek masa depan. Diantaranya adalah melalui inisiatif OSOWOG ini.

Dalam forum COP26 di Glasgow, tahun lalu, Modi dan PM Inggris Boris Jhonson kembali meluncurkan Green Grids Initiative—One Sun One World One Grid (GGI-OSOWOG), sebagai jaringan internasional pertama dalam upaya menghubungkan jaringan tenaga surya global.

“One Sun, One World & One Grid tidak hanya akan mengurangi kebutuhan penyimpanan tetapi juga meningkatkan kelangsungan proyek tenaga surya. Inisiatif kreatif ini tidak hanya akan mengurangi jejak karbon dan biaya energi, tetapi juga membuka jalan baru untuk kerja sama antara berbagai negara dan kawasan,” kata PM Modi, saat menyampaikan sambutannya di acara ‘Accelerating Clean Technology Innovation and Deployment’ di COP26, tahun lalu.

Modi dan Johnson pada hari Selasa juga merilis deklarasi One Sun, yang menyatakan, “Mewujudkan visi One Sun One World One Grid melalui jaringan hijau yang saling terhubung dapat menjadi transformasional, memungkinkan kita semua untuk memenuhi target Perjanjian Paris untuk mencegah bahaya perubahan iklim. Upaya ini dapat merangsang investasi hijau dan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan yang baik.

BACA JUGA:   Capai Target Energi Bersih, Asean Perlu Investasi US$27 Miliar per Tahun

Interkoneksi jaringan listrik lintas benua yang menjadi visi besar OSOWOG tentu memiliki banyak tantangan dalam mewujudkannya. Dibutuhkan investasi yang sangat besar untuk merealisasikan rencana tersebut.

Regional Newsroom mencatat tiga gigaproject lintas benua yang pernah diekspos ke publik. Berikut ulasannya.

SunCable Asia-Australia Power Link (AAPL)

SunCable – Asia Australia Power Link (AAPL), proyek pembangkit listrik tenaga surya yang menghubungkan Australia – Singapura di gurun pasir Darwin, Australia dengan kapasitas 20 gigawatt senilai US$22 miliar

Australia dan Singapura tengah menyiapkan sebuah proyek infrastruktur energi terbesar dalam sejarah senilai US$22 miliar atau setara Rp330 triliun yang diperkirakan selesai pada 2027 mendatang.

Giga proyek tersebut bernama Asia-Australia Powerlink Project dipimpin oleh perusahaan listrik Sun Cable berupa pembangunan ladang solar panel seluas 12.000 hektar dan jaringan kabel listrik bawah laut yang menghubungkan Darwin – Singapura sepanjang 5.000 km. Total energi yang dihasilkan mencapai 17-20 gigawatt-peak (GWp) dan fasilitas penyimpanan (storage system) berkapasitas 36-42 gigawatt-hour (GWh).

Sun Cable merupakan perusahaan penyedia energi yang berbasis di Singapura dan Australia. Proyek Asia-Australia Powerlink ini menjadi andalan perusahaan untuk membangun infrastruktur listrik dalam memenuhi kebutuhan energi di kawasan Asia.

Proyek AA Powerlink ini diperkirakan lebih besar 10 kali lipat dibandingkan fasilitas ladang solar panel terbesar didunia saat ini yang ada di Bhadia Solar Park, India dengan kapasitas 2,2 GW.

BACA JUGA:   Investasi Energi Hijau Butuh Payung Hukum, EnergyWatch: Percepat Pembahasan UU EBT

Xlink Morocco- UK (Solar-Wind Combined)

Gurun Pasir Guelmin-Oued Noun di Maroko akan menjadi basis PLTS kapasitas 10,5 Gigawatt senilai US$21,9 miliar, yang menghubungkan jaringan listrik bawah laut dari Maroko ke Inggris Raya sepanjang 3.800 km

Proyek Pembangkit Listrik Xlinks Maroko-Inggris akan menjadi fasilitas pembangkit listrik baru yang sepenuhnya ditenagai oleh energi matahari dan angin (solar-wind combined) yang dikombinasikan dengan fasilitas penyimpanan baterai.

Terletak di wilayah kaya energi terbarukan Maroko Guelmim Oued Noun, itu akan mencakup area sekitar 1.500 km2 dan akan terhubung secara eksklusif ke Inggris Raya melalui 3.800 km kabel bawah laut HVDC.

Proyek bernilai US$21,9 miliar atau setara Rp328,5 triliun ini akan menghasilkan 10,5GW listrik nol karbon dari matahari dan angin untuk menghasilkan 3,6GW energi yang dapat diandalkan untuk rata-rata 20+ jam sehari. Ini cukup untuk menyediakan listrik murah dan bersih ke lebih dari 7 juta rumah di Inggris pada tahun 2030. Setelah selesai, proyek ini akan mampu memasok 8 persen kebutuhan listrik Inggris Raya.

Di samping output yang konsisten dari panel surya dan turbin anginnya, fasilitas baterai 20GWh/5GW di lokasi menyediakan penyimpanan yang cukup untuk mengirimkan energi secara andal setiap hari, sumber energi bersih yang fleksibel dan dapat diprediksi yang berdedikasi hampir konstan untuk Inggris, yang dirancang untuk melengkapi energi terbarukan yang sudah dihasilkan di seluruh Inggris.

Ketika pembangkit energi terbarukan domestik di Inggris turun karena angin rendah dan periode matahari yang pendek, proyek ini akan memperoleh manfaat dari sinar matahari berjam-jam di Maroko di samping konsistensi Trade Winds konveksinya, untuk menyediakan sumber energi yang kuat namun fleksibel menghasilkan listrik bebas karbon.

BACA JUGA:   PLN Cari Mitra Strategis Tawarkan 2 Proyek PLTS Terapung Kapasitas 200 MW

Chile’s Antipodas Project

Gurun Pasir Atacama di Chili, tempat dengan radiasi matahari paling tinggi di dunia akan menjadi basis PLTS kapasitas 600 gigawatt dengan investasi US$24 miliar, dan menghubungkan jaringan bawah laut sepanjang 15.000 km dari Chili ke dataran China.

Antipodas Project pertama kali disampaikan oleh Presiden Chili Sebastian Pinera dalam forum National Meeting of Entrepreneurs (ENADE). Pemerintah Chili berencana untuk membangun kabel bawah laut sepanjang 15.000 km untuk mengekspor energi matahari ke China.

Antípodas Project ini memanfaatkan potensi matahari yang sangat besar di Gurun Atacama, yang merupakan wilayah dunia dengan radiasi matahari tertinggi. Suhu di Atacama biasanya relatif sedang, namun kadang bisa melonjak drastis hingga 130 derajat Fahrenheit (50 derajat Celcius). Gurun yang hampir seluruhnya tidak berawan adalah wilayah di dunia dengan tingkat radiasi matahari tertinggi, menjadikannya lokasi utama untuk ladang tenaga surya paling ideal.

Piñera menjelaskan listrik yang dihasilkan dari pembangkit tenaga surya berkisar antara 200 GW – 600 GW akan dialirkan melalui kabel bawah laut dan diperkirakan cukup untuk menyalurkan energi ke negara-negara Asia pada siang dan malam hari.

“Kami memiliki gurun pasir dengan radiasi matahari tertinggi di dunia dan potensi besar untuk menghasilkan energi surya yang bersih, terbarukan, dan ekonomis, yang dapat kami ekspor sepanjang hari untuk memasok negara-negara Asia,” kata Piñera.

Total investasi untuk proyek Antipodas Chili berkapasitas 600 GW ini diperkirakan mencapai US$24,1 miliar atau setara Rp361,5 triliun dan menjadikannya proyek solar energi terbesar di dunia.

  • Bagikan
151 views