Batam Surga Narkoba?

  • Bagikan
Ilustrrasi

15 tahun lalu, sekedar menyegarkan ingatan saat operasi senyap gabungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Nasional Narkotika (BNN), bersama perwakilan Drug Enforcement Administration (DEA) Singapore, Australia, Hongkong, Taiwan, dan Amerika Serikat, berhasil membongkar sindikat narkoba internasional di empat lokasi di Batam pada 20 Oktober 2007 silam.

Pengungkapan pabrik ekstasi skala besar di empat lokasi di Batam yang melibatkan dua tersangka berkebangsaan Taiwan dengan nilai ekspor Rp454 miliar dalam operasi Sabtu (20/10/2007) malam sempat menggemparkan tanah air.

Kapolri Jendral Polisi Sutanto menyatakan keberhasilan ini berkat kerjasama polri, BNN, kepolisian internasional, perwakilan Drug Enforcement Administration (DEA) Singapore, DEA Hongkong, DEA Taiwan, DEA Australia, dan DEA Amerika Serikat.

“Dari pengembangan kasus, tadi pagi di Pluit, Mura Karang, Jakarta, kepolisian menggerebek satu tempat dan menangkap tersangka Awi dengan barang bukti 40 kg sabu (35 kg+5 kg cair) yang berasal dari sini (Batam),” kata Sutanto, dikutip dari Antranews.com, Selasa (23/10/2007).

Di Batam, selain menemukan barang buti berupa peralatan dalam 150 galon setara 568 liter cairan methampitamine (sabu kristal), senilai Rp454 miliar, polisi juga menangkap 2 warga Taiwan yaitu Wang Chin I, Tsai Tsai Cheng, serta empat WNI yaitu Jaelani Usman, Darwin Silaban, Syaed Abubakar, dan Apeng.

Sutanto menyebut kejahatan narkokita terbukti selalu melibatkan beberapa sindikat dari beberapa negara. Selain memasok pasar dalam negeri, sabu-sabu batam juga untuk memasok China daratan, dan Taiwan.

Kapolri melakukan sidak ke lokasi tepat 3 hari setelah pengungkapan oleh aparat. Sutanto didampingi Kahar BNN I Made Mangku Pastika, Kapolda Kepri Sutarman, GubKepri Ismeth Abdullah, dan Ketua Otorita Batam Mustafa Widjaja dan Walikota Batam Ahmad Dahlan.

BACA JUGA:   Food Protectionism dan Bayangan Krisis Pangan Global

Lokasi tersebar

Proses peracikan bahan baku kimia hingga menjadi sabu siap jual dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan beberapa lokasi terpisah.

Lokasi I yang diungkap berada di Kompleks Pergudangan Taman Niaga Blok E No. 3, Mukakuning, disitu ditemukan 990 galon aceton dalam 14 drum masing-masing ukuran 200 liter, hydro chloride acid 613 galon, 1000 galon chloroform, 800 kg sodium hydroxide, 75 kg trichloride isocyanuric acid, 350 kg garam, 1000 kg bubuk bahan kimia yang belum diketahui jenisnya, 330 galon cairan kimia yang jenisnya masih diselidiki, serta beberapa alat pemroses.

Tempat itu dijadikan pabrik pemroses precursor menjadi sabu cair untuk kemudian dibawa ke lokasi II di Gudang penyimpanan hasil proses pertama ‘clandestine laboratory di Taman Duta Mas, Cluster II No. 57 Batam Centre. Di lokasi II ini, polisi menemukan barang buktu dua kompor gas.

Di Lokasi III, Kompleks Pertokoan Hup Seng Blok C-8 Batam Centre, dijadikan tempat pengolahan akhir (sabu cair jadi kristal), dan polisi menyita barang bukti berupa cairan methamphetamine alias sabu sebanyak 150 galon setara 568 kg ice crystal senilai Rp454 miliar (45,440 juta USD) dengan harga pasarn Rp9.000 per gram. Kemudian 34,5 kg barium sulfat, 32 kg garam, 21,5 kg sodium hydroxide, serta 35 galon hydroclrolic acid. Di ruko itu polisi menyita satu mobil Mitsubishi Grandis hijau, Mercedes Benz.

Lokasi IV berada di Kawasan Berikat Hijrah Mandiri Industrial Estate Blok C No. 5 Batam Centre, merupakan tempat pengeringan dan proses memasak dengan mesin. Pengeringan dengan mesin memerlukan enam hari. Bahan bakunya sebagai berasal dari Taiwan, dikirim ke Batam melalui kapal nelayan di perairan Indonesia.

BACA JUGA:   Mengapa Malaysia Stop Ekspor Ayam, Ternyata Ini Alasannya!

Belakangan, polisi juga menemukan lokasi lain yang menjadi gudang penyimpanan precursor atau bahan baku pembuatan shabu di gudang PT Shie Lee di kawasan Taiwan Internasional Industrial Park Blok A Nomor 4 Kabil Batam.

Hasil pengembangan aparat kepolisian, sindikat shabu Batam ternyata terbentang hingga Jakarta yakni di perumahan Pluit Muara Karang Sari III Blok P.7 Selatan Nomor 18, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara.

Sejumlah orang ditangkap. Selain Mister Wang alias Wang Chin I, ada dua warga Taiwan lain yakni Tsai Tsai Chen dan Lai Yao Hsin. Sindikat ini diperkirakan sudah berproduksi sejak Mei 2007.

Total bahan baku yang siap diproduksi menjadi shabu, menurut perhitungan Badan Narkotika Nasional serta DEA dan Laboratorium Forensik, setara dengan produksi lima ton shabu jadi atau mencapai Rp 5 triliun. Selain diedarkan di pasar lokal, Shabu made in Batam diduga dipasarkan ke pasar internasional seperti Taiwan, Cina, dan Singapura.

Pabrik Sukajadi

Operasi senyap kembali dilakukan aparat BNN Provinsi Kepulauan Riau terhadap satu lokasi pembuatan sabu di sebuah rumah dalam komplek pemukiman elit Sukajadi, Batam pada Kamis (21/7/2022). Penggerebekan yang dilakukan berhasil mengamankan beberapa barang bukti berupa kristal yang diduga narkotika jenis sabu seberat 2.261 gram, satu buah tempat air warna putih yang didalamnya berisi kristal berwarna ungu tua yang diduga sabu seberat 2.771 gram.

Kemudian terdapat juga cairan yang diduga prekusor narkotika serta beberapa peralatan pendukung yang digunakan untuk membuat sabu.

BNNP Kepri mengamankan tiga orang tersangka termasuk satu orang WNA Malaysia yaitu dua orang warga Batam berinisial As (25) dan NS (47) serta satu orang Warga Negara Malaysia berinisial MS (43). Diketahui, MS merupakan mantan anggota Polis Diraja Malaysia (PDRM) yang kini statusnya sudah tak aktif lagi di Kepolisian Malaysia.

BACA JUGA:   Menyorot Kelanjutan Investasi Solar Energy di Provinsi Kepulauan Riau

Jika dibandingkan dengan pabrik HupSeng dan Taman Niaga, penangkapan pabrik Sukajadi memang belum sebanding. Namun, kejadian ini kembali membuka mata publik bahwa Batam sangat ‘seksi’ sebagai pusat produksi dan lalu lintas narkoba.

Diberkahi posisi yang strategis, tidak dipungkiri, kota ini kerap menjadi perlintasan para kurir narkoba dalam skala besar dan kecil. Kasus seperti ini terus terjadi dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir.

Kita bisa membaca berita adanya penangkapan penumpang pesawat membawa sabu-sabu di Bandara Hang Nadim atau di Terminal Ferry Batam Centre dengan berbagai modus operandinya. Mayoritas pelaku berasal dari Malaysia dengan tujuan wilayah lain di Indonesia dengan transit ke Batam.

Entah sampai kapan jaringan dan sindikat internasional ini akan terputus setelah satu persatu kasus diungkap oleh aparat BNN dan kepolisian.

Setelah kasus Hup Seng yang terjadi 15 tahun lalu, tidak ada lagi terdengar adanya kasus serupa hingga penggerebekan Sukajadi. Kita tentu tidak berharap ada kejadian seperti ini lagi. Citra positif Batam sebagai pusat industri dan investasi jangan sampai tercoreng oleh kasus peredaran narkoba dari oknum tak bertanggung jawab.

Selain mengharapkan kerja maksimal dari aparat terkait, juga kepada warga pemukiman di manapun sebaiknya sudah harus meningkatkan kewaspadaan kepada para penghuni rumah apalagi jika ada yang tidak melapor dan menunjukkan gelagat mencurigakan.

Mari sama-sama kita jaga Batam!

Penulis: Dr. Suyono Saputro, chief editor Regional.co.id

  • Bagikan
200 views