Tingkatkan Produksi Chips Semikonduktor, Infineon Batam Tambah Investasi Rp1,3 Triliun Hingga 2030

  • Bagikan

Regional.co.id, BATAM: PT Infineon Technologies Batam telah berkomitmen meningkatkan investasinya sebesar EUR35,37 juta atau setara Rp569,3 miliar untuk menambah kapasitas produksi chips semikonduktor menjadi 65 juta unit per minggu pada 2025, dan akan bertambah menjadi EUR83,57 juta atau Rp1,3 triliun pada 2030.

Dikutip dari situs Kemenperin.go.id, pabrikan semikonduktor asal Jerman itu akan menambah investasinya di Indonesia secara bertahap hingga mencapai Rp1,3 triliun pada 2030 dengan kapasitas produksi hingga 150 juta unit per minggu.

PT Infineon Technologies Batam merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri semikonduktor, dan telah berinvestasi di Indonesia sejak 1996. Kapasitas produksi PT Infineon Technologies Batam pada tahun 2020 mencapai 15 juta pcs per minggu dan meningkat menjadi 22 juta pcs per minggu tahun 2021.

BACA JUGA:   Pertamina Siapkan Opsi Penjualan Pertalite Hanya Untuk Sepeda Motor

Melalui pertemuan pada kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier, Indonesia dan Jerman sepakat untuk meningkatkan investasi di bidang industri berteknologi tinggi dan membuka peluang untuk mengembangkan pabrik semikonduktor di Indonesia agar industri tersebut dapat berperan dalam rantai pasok chip global.

Ketua Gabungan Perusahaan Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Yohanes Nangoi mengatakan rencana ekspansi Infineon tersebut diharapkan mampu mengatasi kelangkaan chips semikonduktor yang menjadi suku cadang vital dalam sebuah mobil.

Dia mengatakan kekurangan pasokan semikonduktor sangat berimbas pada produksi kendaraan. Maka dari itu, dia mendorong agar prinsipal memberikan jatah lebih kepada industri otomotif Tanah Air.

BACA JUGA:   Ford Investasi Pabrik Pemurnian Nikel Senilai US$4,5 Miliar, Tesla Masih Gelap!

“Pak menteri (Agus Gumiwang) mengatakan ada pabrik semikonduktor yang akan dibangun di sana (Batam), dan kita akan diskusikan itu,” ujar Nangoi dikutip dari Detik.com.

Dia menjelaskan kelangkaan ini bukan hanya Indonesia, tapi juga dialami oleh produsen mobil di dunia. “Chip ini berbeda-beda tergantung penggunaannya. Untuk mobil chip ada yang khusus, ataupun sifatnya sama dengan elektronik,” ujar Nangoi.

Menurut dia, untuk mendapat supply tambahan chip, pihaknya telah menghubungi prinsipal dengan menggunakan tangan kementerian untuk membujuk prinsipal supaya memberikan chip yang lebih kepada Indonesia. Karena sebagian besar produksi mobil di Indonesia masih combustion engine.

  • Bagikan
349 views