Ekspor Listrik Dilarang, Fabby: Ini Kebijakan Tidak Berdasar!

  • Bagikan
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, saat tampil dalam webinar tentang renewable energy di Indonesia, yang diselenggarakan oleh ICDX, Kamis (28/7)

Regional.co.id, JAKARTA: Rencana pemerintah Indonesia untuk melarang ekspor energi ke Singapura dinilai sebagai tindakan yang tidak berdasar karena menghilangkan kesempatan bagi perusahaan domestik untuk belajar.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menegaskan rencana pengembangan solar energy di Indonesia khususnya di Kepulauan Riau memberikan kesempatan bagi pelaku usaha nasional untuk membangun portofolio.

“Saya tidak habis pikir apa yang mendasari kebijakan pelarangan ekspor ini. Padahal ini peluang bagus bagi perusahaan nasional untuk bekerjasama dengan perusahaan Singapura yang sudah berpengalaman dalam pengembangan solar energy,” ujarnya dalam webinar Advancing Low Carbon Economy Through Renewable Energy presented by ICDX Group in collaboration with B20 Trade & Investment Task Force secara online, Kamis (28/7).

BACA JUGA:   Sun Cable Diambang Kebangkrutan, Pasokan Listrik 1,8 GW dari Australia ke Singapura Terancam Gagal!

Menurut dia, secara ekonomi dan sumberdaya Indonesia tidak dirugikan sama sekali justru diuntungkan karena sumber energi dari matahari tidak akan pernah habis dan secara ekonomi Indonesia kedatangan arus investasi solar energy yang nilainya ratusan triliun.

Fabby menyebutkan nama-nama besar perusahaan Singapura yang berencana untuk berinvestasi solar energy di Indonesia bisa dijadikan mitra untuk belajar sehingga ke depan perusahaan domestik bisa mengembangkan bisnis serupa ke luar negeri.

“Jika sudah bekerjasama, perusahaan lokal tentu memiliki portofolio yang bagus untuk mengembangkan proyek solar energy ke negara lain. Jadi sangat disayangkan peluang ini justru dihambat oleh kebijakan pelarangan ekspor,” paparnya.

BACA JUGA:   Lima Perusahaan Konsorsium Dapat Izin Ekspor Listrik 2 GW ke Singapura, Ada Adaro dan Medco!

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak tujuh konsorsium perusahaan Singapura-Indonesia berminat untuk berinvestasi solar energy di Kepulauan Riau dengan total kapasitas 20 GW dan nilai investasi mendekati Rp250 triliun.

Rencana tersebut dipicu oleh permintaan pasokan energi dari Singapura sebesar 4 GW hingga 2030 mendatang yang diimpor secara bertahap mulai 2027 sebesar 1,8 GW dan pada 2030 sebesar 2,8 GW.

Beberapa nama besar sudah menyatakan minat seperti Sunseap Group, PacificLight Power, SembCorp Industries, ibVogt dan Quantom Power, didukung oleh mitra lokal seperti Medco Energy, PLN Batam, SuryaGen, Toba Bara Energy, Indonesia Power, dan lainnya.

BACA JUGA:   Larangan Ekspor Energi, Darwin: Itu Kewenangan Pusat!

  • Bagikan
207 views