Persiapkan Interkoneksi Energi, EMA Singapura Tetapkan 8 Titik Landing Site

  • Bagikan

Regional.co.id, SINGAPURA: Energy Market Authority (EMA) Singapura telah menetapkan delapan lokasi tepi laut yang diperlukan untuk pendaratan (landing site) bagi jaringan interkoneksi tegangan tinggi yang menghubungkan sumber energi dengan pulau Singapura.

Delapan lokasi tersebut tercantum dalam dokumen Request for Proposal (RfP) Tahap Dua yang dirilis pada 1 Juli lalu dan akan berakhir pada Desember 2023 mendatang.

Otoritas energi negara tersebut telah mempersiapkan kebutuhan lokasi bagi eksportir listrik untuk membangun stasiun penerima jaringan transmisi High Voltage Direct Current (HVDC) untuk diubah (converted) menjadi High Voltage Alternated Current (HVAC).

“EMA telah mengidentifikasi lokasi yang potensial untuk pendaratan infrastruktur impor listrik. Para peserta RfP harus mempelajari lokasi-lokasi tersebut untuk menentukan kelayakannya,” demikian tertulis dalam dokumen RfP Tahap Dua yang diperoleh Regional Newsroom, pekan lalu.

BACA JUGA:   Gawat! Jokowi Bakal Percepat Pensiun Dini PLTU Pada 2025

Delapan titik landing sites tersebut tersebar mulai dari North Coast, Pulau Punggol, Changi East, Pulau Ular, Pulau Semakau-Lambrador, Jurong Island, Tuas South dan Tuas West. Untuk lokasi stasiun HVDC ada di Changi, Pulau Ular, dan Pulau Semakau, lokasi landing site HVDC ada di North Coast, Changi East, Pulau Ular, dan Pulau Semakau. Untuk landing sites HVAC ada di Pulau Punggol, Tuas South, dan Tuas East.

Selain itu, peserta juga didorong untuk mengusulkan disain inovatif untuk interkoneksi dengan mengoptimalkan penggunaan lahan pada lokasi potensial tersebut.

Lokasi pendaratan (landing sites) yang tercantum dalam dokumen tersebut, bersifat indikatif dan kepada pemenang tender impor listrik ini nantinya akan diberikan persetujuan bersyarat (conditional approval), serta penggunaannya tunduk kepada otoritas terkait.

BACA JUGA:   Kontrak Ekspor Gas ke Singapura Diperpanjang Hingga 2028

“Ini akan menjadi tanggung jawab peserta yang telah diberikan persetujuan bersyarat, untuk menyelesaikan seluruh persetujuan yang dibutuhkan,” kata EMA.

Melalui RfP Tahap Dua ini, EMA telah memutuskan untuk merampingkan kedua RFP (yaitu RFP1 dan RFP2) menjadi satu RFP2. Ini akan memberikan lebih banyak waktu dan fleksibilitas bagi peserta yang tertarik untuk menyiapkan proposal mereka, dan memungkinkan EMA untuk mencapai tujuannya dalam menunjuk Importir untuk mengimpor dan menjual hingga 4GW pada tahun 2035.

Sebelumnya, pada Oktober 2021 lalu, EMA merilis RfP Tahap Pertama dan berakhir pada 14 April 2022 lalu. Sebanyak 20 proposal dari empat negara telah diterima oleh EMA yang akan diproses pada akhir 2022 ini.

BACA JUGA:   Investasi Energi Hijau Butuh Payung Hukum, EnergyWatch: Percepat Pembahasan UU EBT

Namun para peminat yang telah mengirimkan proposal mengeluhkan waktu yang cukup pendek pada RfP Tahap Pertama, sehingga akhirnya diputuskan untuk mengintegrasikan dua RfP tersebut agar peminat lebih fleksibel dalam mempersiapkan proposalnya.

  • Bagikan
246 views