Adaro Energy Berencana Bangun PLTS Terapung di Batam, Bagaimana Nasib Sunseap Group?

  • Bagikan
Solar panel terapung yang dikembangkan oleh SembCorp Industries di salah satu waduk di Singapura.

Regional.co.id, BATAM: Rencana investasi pembangunan pembangunan listrik tenaga surya (PLTS) di Waduk Duriangkang, Batam oleh Sunseap Group Singapura senilai US$2,2 miliar atau kurang lebih Rp33 triliun dipastikan gagal dan digantikan oleh PT Adaro Energy.

Rencana tersebut akan dilanjutkan oleh PT Adaro Energy Tbk yang dikabarkan sudah mendapat izin dari BP Batam untuk mengelola PLTS Terapung di Waduk Duriangkang senilai Rp30 triliun.

Dalam pertemuan virtual antara Kepala BP Batam Muhammad Rudi dengan pimpinan Harian Bisnis Indonesia, Kamis (20/10), terungkap rencana PT Adaro Energy untuk mengelola waduk Duriangkang sebagai basis pembangunan PLTS.

“Ada dua investor yang sudah masuk, salah satunya PT Adaro, investasinya cukup besar sekitar Rp30 triliun di waduk Duriangkang. Listriknya akan dimanfaatkan untuk Batam dan diekspor ke Singapura,” papar Rudi.

BACA JUGA:   Antisipasi Inflasi Tinggi, Jokowi: Kepala Daerah Jangan Diam!

Namun tidak dijelaskan berada kapasitas energi yang dihasilkan dari investasi Adaro tersebut dan kapan proyek tersebut akan dimulai.

Pada Juli lalu, BP Batam menandatangani nota kesepahaman dengan Sunseap Group dalam pengembangan ladang solar panel terapung (floating photovoltaic/FPV) di Waduk Duriangkang, senilai US$2 miliar yang akan menghasilkan energi sebesar 2,2 gigawatt-peak (GWp) di areal seluas 1.600 hektar.

Selain mengembangkan ladang solar panel terbesar di dunia, proyek tersebut juga termasuk pengembangan sistem penyimpanan listrik (energy storage system) kapasitas raksasa hingga 4.000 MWhr.

Proyek yang menelan biaya hampir Rp28 triliun itu direncanakan mulai pengerjaan pada 2022 dan selesai pada 2024 dengan menggunakan skema pembiayaan internal dan konsorsium pembiayaan.

BACA JUGA:   Ketum Hipmi Mardani H. Maming Menyerahkan Diri

Namun hingga Oktober ini belum ada tanda-tanda masuknya investasi PLTS Sunseap tersebut ke Batam. Tidak hanya Sunseap, beberapa konsorsium yang sudah ekspose rencana investasi PLTS di kawasan ini juga belum ada yang terwujud.

Upaya untuk mengoptimalkan fungsi waduk sebagai basis PLTS terapung di Batam masih terkendala aturan di Kementerian PUPR mengenai batas pemanfaatan permukaan waduk yang hanya dibolehkan sebesar 5% dari total luas waduk.

Artinya, dengan luas waduk Duriangkang 1.800 hektar maka hanya boleh dimanfaatkan seluas 90-100 hektar saja. Sementara, untuk menghasilkan 1 MW listrik dibutuhkan bentang panel surya seluas 1 hektar, dengan demikian total listrik yang bisa diproduksi dari luas areal yang diizinkan hanya 100 MW.

BACA JUGA:   Investasi Energi Hijau Butuh Payung Hukum, EnergyWatch: Percepat Pembahasan UU EBT

Rencana ekspor listrik berbasis EBT dari Indonesia ke Singapura juga masih terkendala izin dari pemerintah. Antara Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan Menteri BUMN Erick Thohir masih silang pendapat dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Sementara itu Singapura sebagai pasar tujuan ekspor masih terus berupaya mencari sumber alternatif listrik berbasis EBT.

Melalui Energy Market Authority (EMA), selain menggesa rencana proyek EBT di Kepulauan Riau, Singapura juga terus meningkatkan kerjasama integrasi listrik empat negara melalui skema Laos Thailand Malaysia Singapore – Power Integration Project (LTMS-PIP).

Pada Juni 2022 lalu, Keppel Electric dan Electricite du Laos menandatangani perjanjian pembelian listrik kapasitas 100 megawatt sebagai awal rintisan perdagangan energi terbarukan lintas batas ke Singapura.

  • Bagikan
840 views