Menanti Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas

  • Bagikan
gambar ilustrasi

Sesuai rencana, Dinas Tenaga Kerja Kota Batam akan menggelar Job Fair Batam 2022 selama tiga hari mulai 7-9 November di pelataran SP Plaza, Batu Aji, Batam.

Usai pembukaan oleh Walikota Batam Muhammad Rudi, ribuan pencari kerja yang sudah menanti di luar mulai bergegas dan berdesakan mendapatkan nomor antrian.

Bursa pencari kerja itu diikuti 32 perusahaan dari beragam sektor mulai dari manufaktur elektronik, galangan kapal, dan pendukung industri migas, dengan total lowongan tersedia sebanyak 1.800 lowongan.

Untuk mengantisipasi membludaknya peserta, panitia job fair pun menyiapkan 3.000 nomor antrian. Terbukti, peserta yang hadir di hari pertama, Senin (7/11) pun melebihi target. Diperkirakan lebih dari 3.000 pencari kerja memadati lokasi acara.

Matahari mulai beranjak tinggi, suasana makin panas, pencari kerja berdesakan sejak datang. Beberapa ada yang terhimpit, terinjak, dan pingsan. Peserta mulai panik.

Panitia pun segera mengambil tindakan menghentikan sementara acara bursa kerja tersebut untuk mengantisipasi kejadian yang lebih parah.

Belum jelas, apakah besok akan dibuka kembali. Sepertinya, kondisi yang sama akan terjadi lagi jika panitia tidak mengubah mekanisme pendaftaran peserta.

Anomali

Kita tentu cukup prihatin dengan kondisi tersebut. Itu menunjukkan betapa masih banyaknya jumlah pencari kerja di Kota Batam yang hingga kini masih berharap adanya lowongan kerja yang sesuai dengan keterampilan mereka.

BACA JUGA:   Mardani Maming Ditahan di Rutan KPK

Berdasarkan data BPS Kepri, angka pengangguran di Kota Batam sampai Agustus 2021 mencapai 11,64%, tertinggi diantara tujuh kabupaten/kota dan bahkan lebih tinggi dari rata-rata provinsi Kepri yang berada di level 9%.

Jumlah pengangguran pun terus bertambah sejak 2019 tercatat 57.602 orang menjadi 87.903 orang pada 2020. Jika mengacu pada tingkat pengangguran yang dirilis BPS Kepri tersebut sebesar 11,64% dari jumlah angkatan kerja, maka asumsi pengangguran Batam saat ini bisa mencapai 95.000 – 100.000 orang.

Dengan jumlah pengangguran sebesar itu, sangat wajar jika acara bursa kerja ramai dipadati pengunjung. Apalagi lowongan kerja melalui jalur reguler sangat sedikit.

Kecenderungan ini seperti anomali disaat pertumbuhan ekonomi Batam moncer di angka 4,7%, namun lapangan kerja tidak banyak tersedia.

Lapangan kerja tersedia tentu dari dua cara, pertama, perluasan usaha dari industri yang sudah ada, atau kedua, dari masuknya investasi asing dan domestik.

Acara bursa kerja hari ini merupakan lowongan kerja dari industri yang sudah ada yang sedang melakukan perluasan. Sebanyak 1.800 lowongan disediakan. Paling besar lowongan dari PT SMOE Indonesia sebanyak 425 lowongan.

Pertumbuhan ekonomi dan pengangguran memiliki hubungan yang erat karena penduduk yang
bekerja berkontribusi dalam menghasilkan barang dan jasa (output).

BACA JUGA:   Pemkot Bogor Kaji Ulang Perizinan 222 Minimarket

Dengan pertumbuhan ekonomi (yang berkualitas) diharapkan mampu menyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan baik di tingkat nasional maupun daerah.

Jika kita melihat asumsi dalam APBN, setiap pertumbuhan ekonomi 1% memicu tersedianya lapangan kerja sebanyak 450.000 lapangan kerja.

Maka, secara hitungan sederhana, jika ekonomi nasional tumbuh 5% sedikitnya 2 juta lapangan kerja tersedia. Itu yang disebut dengan pertumbuhan ekonomi berkualitas.

Bagaimana dengan Batam? Jika kita asumsikan setiap 1% pertumbuhan ekonomi membuka 10.000 lapangan kerja, maka di saat pertumbuhan ekonomi kota ini mencapai 4% diperkirakan 40.000 lapangan kerja tersedia di pasar kerja.

Arus Investasi

Investasi asing atau domestik merupakan andalan pemerintah untuk membuka lapangan kerja. Belanja pemerintah untuk menggerakkan sektor riil tidak lagi bisa diharapkan.

Sampai dengan triwulan III-2022 saja, pertumbuhan belanja pemerintah di Kepulauan Riau masih minus 0,48%. Ini artinya, serapan anggaran masih sangat rendah.

Ironisnya, Kepulauan Riau dengan empat kawasan perdagangan bebas dan tiga kawasan ekonomi khusus belum mampu menjadi tujuan investasi asing unggulan. Daerah ini masih kalah dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, Riau, dan Maluku Utara.

Di level Kota juga sama. Kota Batam bahkan tidak mampu meraih predikat sebagai kota dengan layanan investasi terbaik, kalah dengan Palembang, Medan, dan Pekanbaru.

BACA JUGA:   Jadi Tersangka Kasus Suap, KPK Tahan Aziz Syamsuddin

Tujuan diberikannya status khusus dan beragam fasilitas kepada daerah ini pun sepertinya sudah tidak lagi tercapai. Rendahnya arus masuk investasi baru menjadi indikator bagi pemerintah untuk meninjau kembali model pengelolaan FTZ di Batam Bintan Karimun dan Tanjungpinang.

Amanah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas mengenai integrasi kawasan Batam Bintan Karimun juga tidak mudah karena masing-masing daerah memiliki problematika sendiri-sendiri.

Jika arus masuk investasi baru masih rendah wajar saja jika lapangan kerja tidak banyak tercipta. Apalagi Batam masih jadi daerah tujuan utama para pendatang yang ingin mencari penghidupan dan pekerjaan dari berbagai daerah.

Kita berharap acara bursa kerja yang hari ini memasuki hari kedua bisa berlangsung tertib. Kita apresiasi upaya Dinas Tenaga Kerja memfasilitasi kegiatan ini untuk memberi kesempatan kepada pencari kerja mendapatkan pekerjaan impiannya.

Semoga semakin banyak investasi masuk dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat yang membutuhkkan.

Penulis: Dr. Suyono Saputro, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam | Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Kota Batam | Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Batam | Dewan Pakar MD KAHMI Kota Batam

  • Bagikan
152 views