Menghadapi Ancaman Resesi 2023, Ini 7 Usulan Strategi Bank Indonesia Kepri!

  • Bagikan

Regional.co.id, BATAM: Menghadapi ancaman resesi global tahun depan, Bank Indonesia mengusulkan tujuh strategi menjaga pertumbuhan ekonomi Provinsi KepriStrategi pertumbuhan perekonomian Kepulauan Riau agar lebih kuat dan inklusif.

Adidoyo Prakoso, Deputi Kepala Pewakilan Bank Indonesia Wilayah Kepri, menegaskan ada beberapa strategi yang harus diperhatikan pemangku kebijakan dan pemimpin daerah terutama menjaga inflasi dan penyerapan tenaga kerja.

“Perekonomian Kepri diperkirakan berada di level 3,9 persen hingga 4,7 persen secara tahunan pada 2023. Proyeksi sebenarnya dipangkas turun dari proyeksi pertumbuhan perekonomian Kepri tahun 2022 sebesar 4,1 persen hingga 4,9 persen,” ujarnya dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Radisson Golf and Convention Centre, Rabu (30/11).

BACA JUGA:   Bappenas Luncurkan Logo Baru, Suharso: Visi dan Semangat Indonesia 2045

BI memperhitungkan sejumlah tantangan yang mungkin dihadapi kondisi perekonomian tahun mendatang. Terutama dari sisi eksternal, tantangan ini sejalan dengan meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global, diikuti dengan peningkatan inflasi dan kenaikan suku bunga sehingga berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. 

“Menghadapi potensi tantangan tersebut, Bank Indonesia Kepri berfokus menjaga pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ungkap Adidoyo.

Dalam pertemuan itu, Bank Indonesia memaparkan strategi agar Kepri bisa menjaga momentum pemulihan ekonomi. Pertama, dengan menjaga konsumsi rumah tangga tetap tumbuh tinggi dengan menjaga inflasi pada level rendah dan stabil.

Kedua, mengoptimalkan dampak ekonomi dari belanja pemerintah daerah, baik APBD maupun APBN. Ketiga, meningkatkan daya saing investasi melalui beragam inovasi yang dapat mendukung iklim usaha semakin kondusif. “Inovasi ini dapat berupa kemudahan perizinan usaha dan insentif yang mendorong investasi, serta diperkuat dengan promosi investasi baik domestik maupun luar negeri,” jelas Adidoyo.

BACA JUGA:   Imbas Kenaikan BBM, Batam Inflasi 1,08% pada September

Keempat, mendorong program hilirisasi komoditas unggulan berbasis sumber daya alam (SDA) di Kepri. Kelima, menurunkan tingkat pengangguran dengan memperkuat ‘link and match’ antara lembaga pendidikan dengan dunia kerja.

Keenam, meningkatkan kapasitas dan memperkuat kelembagaan petani, nelayan, dan UMKM serta mendorong kemitraan dengan industri dan digitalisasi UMKM untuk memperluas akses pemasaran maupun pembiayaan.

Ketujuh, mengoptimalkan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan status Free Trade Zone (FTZ) untuk menarik investasi. “Terakhir, tentunya kami memperkuat pemulihan sektor pariwisata melalui penguatan sinergi antar pelaku usaha pariwisata dan Pemerintah Daerah serta promosi pariwisata,” tambah Adidoyo.

BACA JUGA:   Tiga Opsi Siasati Beban Subsidi Energi, Menkeu: Tiga-Tiganya Nggak Enak!
  • Bagikan
69 views