Meski Dihajar Resesi, Investasi Baru Sektor Garmen dan Alas Kaki Tumbuh 132%

  • Bagikan
gambar ilustrasi

Regional.co.id, JAKARTA: Ditengah gelombang PHK industri alas kaki dan garmen di Indonesia sebagai imbas dari resesi yang terjadi di beberapa negara tujuan ekspor, ada kabar gembira dari Ditjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian.

Plt Direktur Jenderal IKFT Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito menyebutkan perlambatan ekonomi dan anjloknya permintaan ekspor menjadi penekan kedua industri padat karya unggulan ini. Meski demikian, Kemendag mencatat pertumbuhan investasi sehingga diharapkan bisa menyerap pekerja.

“Ada pemberitaan tentang kondisi industri alas kaki dan tekstil, namun harusnya juga diimbangi dengan pemberitaan bahwa industri ini juga mengalami pertumbuhan yang baik dari sisi investasi,” ujarnya dalam wawancara virtual dengan cnbcindonesia, Jumat (2/12).

BACA JUGA:   Investasi Jumbo di Rempang, Ini Profil Keuangan dan Bisnis Xinyi!

Warsito mengatakan secara year-on-year hingga triwulan III-2022, investasi sektor alas kaki dan tekstil ini mencapai Rp11,83 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 132%, dan diperkirakan akan banyak menyerap tenaga kerja.

Andry Satrio Nugroho, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, mengatakan industri garment dan alas kaki ini memang mengalami hantaman yang cukup besar sejak masa pandemi yang lalu hingga tahun ini.

“Pada masa pandemi industri ini minus 8,93% pada 2020 dan pada 2021 masih minus 4,1%, kondisi ini dipicu oleh permintaan dari Eropa dan Amerika yang sedang menurun hingga 50%-70%,” ujarnya.

BACA JUGA:   Bisnis Pendukung Migas Makin Cerah, McDermott Tambah 12.000 Tenaga Kerja Hingga 2024

Menurut dia, keadaan itu menyebabkan utilitas industri ini turun hingga 50%. Pelemahan permintaan di dua pasar utama tersebut akibat krisis pasca pandemi dan perang Rusia-Ukraina yang memicu krisis pangan dan energi.

Andry melihat keterpurukan industri garment dan alas kaki dalam negeri semakin parah karena impor barang sejenis yang semakin tinggi.

“Untuk mengatasi situasi seperti ini tentu tidak bisa kita serahkan ke Kementerian Perindustrian sendiri, tapi juga bisa melibatkan Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan Ketenagakerjaan,” paparnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri mengungkapkan, industri alas kaki di Tanah Air sejak Juli 2022 terus mengalami penurunan order ekspor.

BACA JUGA:   Rilis Laporan Keuangan Tahun 2021, Garuda Indonesia Masih Rugi Rp62 Triliun

Menyusul tekanan ekonomi akibat lonjakan inflasi di negara-negara tujuan ekspor, seperti Amerika Serikat (AS) dan negara Uni Eropa (UE). Yang mendorong konsumen lebih mengutamakan belanja energi maupun bahan makanan.

Padahal, imbuh dia, meski ada pandemi Covid-19, industri alas kaki nasional masih bisa cetak pertumbuhan ekspor. Tahun 2020, katanya, nilai ekspor masih tumbuh 8,9%, lalu tahun 2021 bahkan melonjak 32,5%. Dan, tahun 2022, per Agustus masih tumbuh 36%.

  • Bagikan
267 views