Dampak Ekonomi Global Terhadap Perekonomian Regional Provinsi Kepri

  • Bagikan

Tak sedikit masyarakat yang resah dan khawatir akan isu resesi global yang diperkirakan akan terjadi tahun 2023. Pada bergagai forum, Presiden dan Menteri Keuangan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat dan kemungkinan besar resesi global akan terjadi pada tahun 2023.

Apa itu Resesi?

Resesi global terdengar begitu menakutkan. Namun demikian, sudah tahukah Anda, apa itu resesi? Dikutif dari International Monetery Fund (IMF), mayoritas analis menyatakan bahwa resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi, yaitu penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua kuartal berturut-turut.

Namun IMF dan beberapa negara seperti Amerika memperluas definisi resesi. Penurunan PDB tidak menjadi satu-satunya faktor terjadinya resesi. namun juga dengan mempertimbangkan faktor tenaga kerja, produksi yang dihasilkan oleh industri, realisasi pendapatan dan indikator lainnya. Faktor lain tersebut wajar dikaitkan, karena termasuk penunjang komponen pembentuk PDB suatu negara yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor dan impor.

Resesi di Amerika, dan Perekonomian Cina Serta Eropa

Amerika mengalami resesi dengan pertumbuhan ekonomi negatif pada triwulan pertama dan kedua tahun 2022. Walaupun pada triwulan ke III, ekonomi negara Amerika membaik dengan pertumbuhan 2,6%.

Hasil survei oleh Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian Cina diperkirakan tumbuh 3,2% pada tahun 2022, jauh di bawah target pemerintah yaitu sebesar 5,5%. Pertumbuhan PDB tersebut menjadi yang terendah sejak 1976.

Perlambatan ekonomi Amerika dan Cina memengaruhi negara-negara di Eropa dan dunia. Ditengah perlambatan ekonomi dalam negri masing-masing, perang dagang antar kedua negara tersebut terus berlangsung. Belum berakhirnya perang Rusia dan Ukraina yang merupakan pemasok sektor pangan dan energi, akan berdampak pada kenaikan harga komoditas. Faktor-faktor tersebut akan membawa negara-negara Eropa memasuki resesi pada tahun 2023. Tidak hanya di Eropa, negara-negara di Asia, bahkan dunia juga akan terdampak.

Bagaimana Dampak Resesi terhadap Indonesia dan regional Kepri?

Resesi global diperkirakan akan berdampak pada perekonomian nasional dan regional. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat diperkirakan akan menurunkan permintaan ke Indonesia. Akibatnya indsutri dalam negri akan menurun. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong peningkatan risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Seperti yang telah disebutkan di atas, resesi berkaitan dengan PDB dan komponen pembentuknya. Untuk menganalisis dampak ekonomi global terhadap ekonomi regional Provinsi Kepulauan Riau, kita perlu menghubungkan kondisi ekonomi global tersebut dengan komponen PDB serta indikator ekonomi makro lainnya di Kepri.

Pertumbuhan Ekonomi Kepri

Ekonomi global diproyeksikan akan menurun dari 3,2% menjadi 2,7% pada tahun 2023 disebabkan beberapa faktor tersebut di atas. Outlook perekonomian nasional diperkirakan sebesar 5,3%. Sedangkan outlook perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) diproyeksikan akan tumbuh pada kisaran 4,10% s.d 4,90%, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,43%.

BACA JUGA:   Inside The Tuas Mega Port of Singapore

Pada triwulan III 2022, perekonomian Kepri tumbuh 6,03 persen (Y-on-Y), 4,63 persen (C-to-C), dan 0,58 persen (Q-to-Q). Pertumbuhan perekonomian Kepri lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,72%.

Pertumbuhan ekonomi Kepri tetap tumbuh karena pemerintah pusat dan daerah terus menjaga inflasi dan mendukung sektor UMKM yang tahan terhadap resesi.

Inflasi Terjaga, Ekonomi Tumbuh

Dalam rangka menjaga angka inflasi melalui antisipasi kelangkaan pangan, Pemerintah Provinsi Kepri bersama dengan TPID dan BI membuat beberapa program unggulan. Pertama adalah peningkatan konektivitas dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak. Kedua dengan pengelolaan pemasaran hasil pertanian menggunakan aplikasi. Ketiga dengan optimalisasi program pengembangan produksi cabai merah integrasi dengan program stabilisasi harga melalui gerai pangan.

Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan komoditas cabai di pasar, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mendatangkan 1 ton cabai merah keriting dan 0,5 ton cabai rawit dari Magelang, Jawa Tengah pada bulan September 2022. Cabai tersebut dijual lebih murah dari harga pasaran ke masyarakat melalui operasi pasar murah. Kebijakan ini berhasil menekan laju inflasi, karena cabai merah keriting dan cabai rawit merupakan salah satu komoditas penunjang inflasi di kepri.

Sektor UMKM Paling Tahan Resesi

Pertumbuhan ekonomi Kepri juga didukung oleh kontribusi UMKM. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran dan Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor dengan kontribusi terbesar keempat dan kelima terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri. Sektor tersebut merupakan sektor yang banyak dipenuhi oleh UMKM.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah memberikan dukungan pembiayaan untuk membantu keberlangsungan usaha dan kemajuan UMKM. Pemerintah pusat memberikan dukungan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Pembiayaan Ultra Mikro (Umi). Pemerintah daerah Kepri (Pemprov dan Pemda Bintan) memberikan dukungan melalui subsidi bunga pinjaman nol persen.

Kredit program telah dilaksanakan dari tahun 2007. Pada tahun 2022 (hingga bulan November), Kredit Program telah disalurkan sebanyak 2.180,82 miliar kepada 37.472 debitur di Kepri.

Selain dukungan pembiayaan, instansi pemerintah mempunyai program yang berkaitan dan mendukung pemberdayaan UMKM. Dukungan tersebut dari berbagai aspek, seperti perizinan, pengelolaan produksi, keuangan, perpajakan, ekspor dll.

Ekpor dan Impor

Singapura masih menjadi tujuan ekspor terbesar Kepri. Amerika Serikat dan Cina termasuk dalam tiga besar negara tujuan ekspor periode Januari s.d September 2022. Nilai ekspor ke Amerika dan Cina masih stabil hingga September 2022. Nilai ekpor ke Tiongkok bahkan meningkat (105,29% bulan September dan 54,15% bulan Agustus). Hal ini menunjukkan bahwa perang dagang Amerika dan Cina yang menyebabkan negara-negara tersebut mengalami resesi belum berdampak terhadap permintaan komoditas Provinsi Kepri. Komoditas ekspor Provinsi Kepri yang bersifat kebutuhan primer elektronik berupa mesin/peralatan listrik, mesin-mesin/pesawat mekanik, serta minyak dan lemak hewan/nabati masih dibutuhkan oleh kedua negara tersebut serta negara lainnya.

BACA JUGA:   Special Economic Zones: How one city helped propel its country’s economic development

Krisis energi dan krisis pangan.

Perang Rusia dan Ukraina sangat memengaruhi negara-negara Eropa. Eropa memasuki musim dingin yang membutuhkan energi pemanas. Pasokan energi dari Rusia. Musim dingin juga membutuhkan persediaan pangan. Pasokan persediaan pangan dari Ukraina. Perang kedua negara tersebut menghambat pasokan energi dan pangan ke eropa dan seluruh dunia.

Sumber energi Kepri berasal dari dalam negeri. Pembangkit listrik di Kepri dari berbagai sumber. Dirilis dari Kementerian ESDM, pembangkit listrik PLN di Kepri 70% menggunakan gas bumi dan 30% menggunakan batu bara. Bahan pembangkit listrik tersbut (Gas bumi dan Batu Bara) diperoleh dari dalam negari. Bahkan pemerintah akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Oleh karena itu, Kepri tidak bergantung dengan negara luar, sebagai sumber pemasok energi.

Begitu juga bahan makanan. Ukraina terkenal dengan penghasil gandum. Melihat komoditas pendukung inflasi Kepri yang utama adalah cabai merah, dll, maka Kepri juga tidak begitu tergantung pada bahan makanan yang dihasilkan oleh Ukraina.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perang Rusia dan Ukraina tidak akan berdampak banyak terhadap supply energi dan pangan di Kepri.

Kondisi Tenaga Kerja di Kepri

Pada bulan Agustus 2022, jumlah tenaga kerja di Kepri meningkat sebanyak 167,1 ribu orang dan pengangguran menurun sebanyak 15,8 ribu orang. Jumlah pengangguran turun menjadi 103,72 ribu orang (8,23% dari angkatan kerja) dibanding Agustus tahun 2021 sebanyak 119,60 ribu orang (9,91% dari angkatan kerja). Penurunan tingkat pengangguran terbuka di Kepri (1,68 poin) merupakan penurunan tertinggi di Indonesia. Namun walaupun tingkat pengangguran menurun, tingkat pengangguran Prov. Kepri masih berada pada posisi ke-dua nasional.

Tingginya tingkat pencari kerja dari luar Kepri ke Kota Batam yang menjadi sentra perekonomian Kepri menjadi salah satu faktor penyebab tingginya tingkat pengangguran. Namun demikian, potensi peluang lapangan kerja tetap terbuka. Beberapa pabrik di Batam sedang melakukan ekspansi usaha, seperti PT. Infineon Technologies Batam yang menyediakan kebutuhan semikonduktor otomotif. Saat ini telah mempunyai 2 pabrik dan sedang mendirikan pabrik ketiga serta menyiapkan ekspansi pabrik ke 4 di Kota Batam. PT. Bintan Alumina Indonesia yang memproduksi Smelter Grade Alumina (SGA) dengan tujuan ekspor juga melakukan ekspansi. Selain itu terdapat perusahaan Purwadika school yang bergerak di sektor vokasi digital, akan membuka cabang pertama di luar pulau Jawa, yaitu di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa, Kota Batam.

Ekspansi beberapa perusahan tersebut menunjukkan potensi produksi manufaktur cenderung meningkat dan justru memerlukan tenaga kerja lebih banyak. Oleh karena itu, untuk menjaring tenaga kerja Disnakertrans Prov. Kepri mengadakan job fair di Batam pada Bulan November 2022, dan di Bintan pada awal Desember 2022. Antusiasme pencari kerja sangat tinggi, jauh melebihi jumlah posisi tenaga kerja yang ditawarkan. Namun masih terdapat gap antara SDM yang dibutuhkan oleh perusahaan dengan skill yang tersedia (pelamar kerja). Selain itu terdapat pergeseran kebutuhan tenaga kerja, yang semula tenaga buruh kasar menjadi tenaga yang memiliki skill dibidang teknologi informasi.

BACA JUGA:   Mengapa Shinzo Abe Ditembak?

Optimalisasi Potensi Investor Asing

Ekpansi beberapa perusahaan yang telah beroperasi di Kepri dapat menampung tenaga kerja baru. Untuk memperluas lapangan kerja agar dapat menampung para pencari kerja, perlu untuk membuat kondisi investasi yang dapat menarik minat calon investor baru untuk membuka perusahaan di Kepri.

Dikutip dari CNBCIndonesia, Presiden Jokowi mengatakan bahwa saat ini investasi dan investor menjadi rebutan semua negara. Kondisi ini semakin mempersulit posisi Indonesia untuk menggaet investor asing untuk berinvestasi di Kepri khususnya.

Kepri harus punya daya tawar yang baik agar investor berdatang, seperti kemudahan memperoleh bahan baku dan upah tenaga kerja yang kompetitif. Selain itu, pemerintah juga perlu untuk “mempermudah/menyederhanakan” izin investasi.

Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan harga Upah Minimum Regional (UMR). Di Kepri, UMR naik sebesar 7,15%. Semula Rp3,05 juta menjadi Rp3,27 juta. Disatu sisi kebijakan tersebut sangat baik bagi para pekerja. Namun demikian, kebijakan menaikkan UMR juga harus mempertimbangkan daya saing upah tenaga kerja dengan daerah lain di Indonesia ataupun dengan negara lain. Kenaikan UMR menjadi tidak efektif jika tidak ada investor yang berinvestasi karena pertimbangan upah tenaga kerja yang tidak kompetitif.

Daripembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa resesi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global saat ini belum berdampak terhadap perekonomian regional Kepulauan Riau. Ekonomi Kepulauan Riau Triwulan III-2022 tumbuh 6,03% (Y-on-Y), bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,72%.

Perang Rusia-Ukraina yang mempengaruhi persediaan pangan dan energi global juga belum berdampak pada regional Kepulauan Riau. Hal ini dapat diantisipasi dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan daerah, yaitu dengan dukungan pembiayaan untuk membantu keberlangsungan usaha UMKM dan penguatan sinergi pemerintah daerah bersama BI dan TPID yang mengeluarkan enam program TPID untuk ketahanan pangan regional Kepri. Selain itu, pasokan pangan dan energi kepri disediakan mandiri oleh Kepri atau dari dalam negeri.

Perekonomian yang terjadi pada Amerika dan Cina yang merupakan mitra dagang terbesar Kepri belum berdampak pada Kepri. Namun demikian, bukan tidak mungkin akan berdampak dalam waktu dekat pada neraca perdagangan. Untuk itu, Indonesia dan Kepri khususnya perlu untuk mencari alternatif strategi agar neraca perdagangan tetap membaik. Misalnya dengan memperbanyak dan memperluas komoditas ekspor ke negara-negara Asia. Misalnya dengan memperbanyak kuantitas dan jenis komoditas ekspor ke Singapura dan Malaysia sebagai negara tetangga terdekat.

—————————————–

Penulis: Rolly Indra | Kepala Seksi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II-A Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau

  • Bagikan
274 views