Berkah KTT G20 Untuk Indonesia dan Bali

  • Bagikan
Presiden Joko Widodo menyerahkan palu presidensi KTT G20 Tahun 2023 kepada PM India Narendra Modi, dalam sidang KTT G20 di Bali, Rabu (16/11)

Muhammad Hadianto, Tim Sekretariat Sherpa KTT G20 Indonesia, melontarkan pertanyaan kepada hadirin yang hadir dalam Diskusi Menengok Capaian dan Dampak Presidensi G20 Indonesia 2022 di ballroom Intercontinental Hotel, Jimbaran, Rabu, 7 Desember lalu.

“Apa saja capaian yang diperoleh dari penyelenggaraan KTT G20 tanggal 15-16 November 2022 lalu selain Leaders Declaration?”, ujar Hadianto kepada hadirin.

Hadirin hening, tidak ada yang menjawab. Benar, sosialisasi hasil capaian selama penyelenggaraan KTT G20 yang lalu harus diakui minim pemberitaan.

Hadianto pun menyambut antusias inisiatif Bank Indonesia yang melaksanakan diskusi selama dua hari tersebut dan dihadiri oleh perwakilan BI seluruh Indonesia, para akademisi dan pelaku media. Tujuannya satu, untuk melihat dampak dari penyelenggaraan KTT G20 yang lalu, bagi Indonesia dan juga Bali tentunya.

KTT G20 memang telah berakhir sejak hampir sebulan lalu. Namun gaungnya masih terasa hingga hari ini. Presidensi G20 Indonesia 2022 memang dipersiapkan secara matang selama satu tahun terakhir. Rangkaian kegiatan pendukung dilaksanakan oleh beberapa instansi secara berkesinambungan hingga acara puncak bulan November.

Iss Safitri Hafid, Direktur – Wakil Kepala Sekretariat Finance Track KTT G20 Indonesia, menyebutkan pertemuan G20 pada periode Presidensi G20 Indonesia dilakukan sepanjang tahun 2022, dimulai dengan Deputies meeting pada 9-10 Desember 2021 di Bali.

“Selain main meeting, juga diselenggarakan side-event sepanjang 2022 yang melibatkan berbagai satuan kerja di Bank Indonesia dan Kementerian/Lembaga terkait. Penyelenggaraan main meeting dan side event membutuhkan event arrangement yang kompleks meliputi penyiapan venue, IT System (mengingat penyelenggaraan secara hybrid), logistik, dan komunikasi,” ujar Iss.

Bank Indonesia sendiri melaksanakan event arrangement kurang lebih 90 side-event di sektor Finance Track sejak Desember 2021 hingga November 2022, meliputi 10 high-level meeting setingkat Menteri dan Gubernur BI diantaranya forum Finance Minister and Central Bank Governor (FMCBG), kemudian 10 working group meeting, dan 2.047 delegasi asing, serta 19.000 peserta BI-Stronger Fest.

Total Anggota G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

Kepala negara yang hadir selama 15-16 November sebanyak 17 kepala negara dan tiga presiden berhalangan hadir, salah satunya Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brasil dan Meksiko.

Menurut Iss, penyelenggaraan kegiatan pendukung selama G20 adalah untuk memberi nilai tambah baik dari sisi penyampaian substansi, kesuksesan penyelenggaraan, maupun manfaat bagi sektor pariwisata dan investasi dalam negeri.

BACA JUGA:   Menanti Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas

Tujuan pra presidensi adalah agar masyarakat memiliki pemahaman tentang G20 dan manfaat presidensi G20 bagi Indonesia, serta menunjukkan kesiapan Indonesia dalam menyelenggarakan event internasional di era pandemi.

Sedangkan tujuan selama presidensi adalah memperkaya dan menggemakan pembahasan topik-topik substansi dalam rangkaian kegiatan utama, sebagai sarana komunikasi publik terkait manfaat ekonomi dan manfaat lainnya, dan mempromosikan kemajuan ekonomi Indonesia yang telah mengalami kemajuan, walaupun tengah berada dalam kondisi pandemi.

Adapun tujuan pasca presidensi adalah mendiseminasikan hasil pertemuan G20 kepada publik dan menjelaskan manfaat dan impelementasi dari kesepakatan G20 di level nasional dan internasional.

Keberhasilan Indonesia menyelenggarakan acara sebesar G20 tentu bukan pencapaian biasa. Ini membuktikan bahwa Indonesia juga memiliki kemampuan yang setara dengan negara maju, termasuk juga pencapaian ini menunjukkan posisi Bali sebagai pusat MICE skala global.

Capaian G20

Hadianto menjelaskan pelaksanaan G20 di Indonesia membahas dua aspek utama yaitu Finance Track dan Sherpa Track (non-finance). Untuk finance track dibawah coordinator Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, sedangkan sherpa track melibatkan lintas kementerian.

“Sherpa track relative lebih kompleks karena melibatkan banyak kementerian membahas isu yang beragam seperti anti-korupsi, digital economy, pendidikan, keberlanjutan energi, perdagangan, investasi, dan industri, serta pariwisata,” kata dia.

Produk utama capaian KTT G20 yang selama ini ramai dipemberitaan adalah G20 Bali Leader’s Declaration. Deklarasi para pemimpin G20 ini disepakati dalam dokumen setebal 1.186 halaman, 52 paragraf, dan dua lampiran annexes.

Substansi muatan deklarasi tersebut terdiri dari chapeau (pembukaan), ensuring food security, sustainable energy transitions, strengthening global health architecture, advancing digital transformation, towards stronger recovery, dan closing.

“Banyak yang meragukan KTT G20 di Indonesia akan menghasilkan komunike. Kami baca pemberitaan gencar sekali soal itu. Padahal kami selama pelaksanaan KTT terus berupaya agar seluruh delegasi bisa menghasilkan kesepakatan,” ungkap Hadianto.

Hadianto menceritakan detik-detik terakhir disepakatinya Deklarasi Bali oleh delegasi yang berkumpul di ballroom Intercontinental Hotel waktu itu, sebelumnya akhirnya dibawa dalam sidang pleno pemimpin G20 di Apurva Kempinsky, keesokan harinya. “Saya sampai merinding, di ruangan ini (ballroom Intercontinental) kesepakatan itu dicapai.”

Selain Deklarasi Bali, KTT G20 telah menghasilkan beberapa komitmen diantaranya Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai US$20 miliar yang didukung oleh AS, Jepang, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Kanada, Denmark, Norwegia, dan Uni Eropa.

Kemudian Asia Zero Emission Community (AZEC), sebuah komitmen kerjasama joint crediting mechanism (JCM) bersama Jepang. Indonesia mendapat prioritas pertama untuk pendanaan sebesar US$500 juta dalam lingkup AZEC.

BACA JUGA:   Singapore’s Energy Dilemma a Small-Nation Warning

Selain itu, disepakati juga Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII) di mana didalamnya termasuk komitmen JETP sebesar US$20 miliar, kemitraan US$600 miliar, dan global gateway sebesar EUR300 miliar.

Deklarasi Bali juga menyepakati beberapa komitmen seperti pengumpulkan komitmen FIF PFR (pandemic fund) sebesar US$1,5 miliar di mana Indonesia berkontribusi sebesar US$50 juta. Komitmen untuk pemulihan negara rentan melalui alokasi SDR sebesar US$81,6 miliar, komitmen negara maju untuk perubahan iklim sebesar US$100 miliar per tahun dari 2020 hingga 2025.

Kelanjutan komitmen untuk memastikan setidaknya 30% dari daratan di dunia dan 30% dari laut dunia untuk dikonservasi dan dilindungi pada 2030 serta kelanjutan komitmen untuk mengurangi degradasi tanah sampai 50% di tahun 2040 secara sukarela.

KTT G20 di Indonesia dilaksanakan dalam suasana yang kurang nyaman. Selain krisis pasca pandemic yang belum sepenuhnya selesai, dunia hari ini juga tengah berjibaku dengan krisis pangan dan energi akibat perang Rusia-Ukraina.

Beberapa negara anggota G20 yang hadir di Bali pun terbelah, antara pendukung Rusia (China) dan pendukung Ukraina (Amerika Serikat dan sekutunya). Kepiawaian Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo mampu meredam ketegangan antara kepala negara selama bersidang dua hari di Apurva.

Hikmahanto Juwana, Pakar Hukum Internasional/Rektor Universitas Jendral Achmad Yani, mengaku salut dengan gaya diplomasi Presiden Joko Widodo dan diapresiasi oleh pemimpin dunia.

“Presiden Jokowi tanpa sungkan langsung menelepon dan mengontak kepala negara dan kepala pemerintahan agar hadir di Bali. Indonesia juga mampu membangun suasana G20 yang rileks agar para kepala negara bisa berinteraksi secara formal,” kata Hikmahanto.

Situasi yang nyaman dan enjoy ini dirasakan betul oleh PM Inggris yang baru Rishi Sunak dan PM Kanada Justin Trudeau. Mereka menyempatkan bertemu sambil nongkrong di Art Bumbu Bali Café di kawasan Badung.

Begitu juga dengan PM Perancis Emmanuel Macron yang berjalan kaki sejauh dua kilometer dari kompleks GWK usai acara makan malam resmi.

Masyarakat global, kata Hikmahanto, tentu akan melihat keberhasilan Indonesia dalam penyelenggaraan KTT G20 tahun 2022 ini sebagai kredensial untuk berperan lebih luas dalam percaturan politik luar negeri.

Kebangkitan Bali

KTT G20 memang telah berakhir, palu presidensi sudah diserahkan kepada India yang akan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan tahun 2023 mendatang. Keberhasilan pelaksanaan KTT G20 memang patut diapresiasi dan dikenang sebagai sejarah bangsa ini sebagaimana kita mengenang sejarah pelaksanaan KTT Asia Afrika di Bandung pada April 1955.

BACA JUGA:   Menguak Misteri Blackout 1 Januari

Dipilihnya Bali sebagai kota penyelenggaraan dinilai sebagai momentum kebangkitan industri pariwisata Bali yang luluh lantak dihajar virus Corona selama dua tahun terakhir.

Trisno Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, salah satu yang sangat antusias dengan pelaksanaan KTT G20 di wilayahnya.

“Pada 2020, pertumbuhan ekonomi Bali anjlok pada level -9,33% dan berlanjut pada 2021 sebesar -2,7%. Peringkat Bali berada di posisi paling bawah dibandingkan provinsi lain di Indonesia,” tutur Trisno.

Secara perlahan seiring dengan dibukanya pembatasan kegiatan pasca Covid, ekonomi Bali mulai bergeliat. Turis asing mulai berdatangan, hotel mulai buka kembali. Walau tidak seramai seperti sebelum Covid, namun kondisi hari ini sudah cukup membuat Bali bergairah lagi.

Sampai dengan Triwulan III-2022 (Juli – September), perekonomian Bali melonjak hingga peringkat tiga dengan pertumbuhan 8,09%, dibawah Maluku Utara sebesar 24,85% dan Sulawesi Tengah sebesar 19,13%. “Pelaksanaan KTT G20 ini tentu akan membawa ekonomi Bali semakin tinggi.”

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, Rai Suryawijaya, mengatakan tingkat okupansi hotel di Bali saat KTT G20 mencapai 75%, terutama di kawasan Nusa Dua.

“Peningkatan okupansi juga dirasakan oleh hotel di luar wilayah Nusa Dua, di luar yang dipakai G20 [di Nusa Dua], biasanya tamu-tamu yang reguler di luar itu seperti Jimbaran, Seminyak, Sanur, itu sampai 75% rata-rata untuk hotel bintang 5, 4, dan 3,” kata Rai kepada Bisnis, Senin (14/11/2022).

Jika melihat data terakhir Badan Pusat Stasistik (BPS) Provinsi Bali, tingkat penghunian kamar (TPK) mencapai 46,45% mencakup seluruh kelas per September 2022. Artinya, KTT G20 Bali memberikan sumbangsih peningkatan nyaris 20% di November.

Kita berharap semangat KTT G20 menjadi awal kebangkitan ekonomi nasional dan menjalar hingga ke daerah. Tidak saja realisasi komitmen yang tercantum dalam Deklarasi Bali, namun lebih dari itu, posisi Indonesia di mata internasional akan semakin tinggi dan disegani.

Recover together, recover stronger!


Penulis: Dr. Suyono Saputro | Dosen Fak. Ekonomi- Universitas Internasional Batam | Wakil Ketua ISEI Cabang Batam | Anggota Dewan Pakar ICMI Orda Batam | Anggota Dewan Pakar MD KAHMI Kota Batam dan Provinsi Kepri | Konsultan Bisnis pada PT Divitia Global Consulting

  • Bagikan
108 views