Menakar Kekuatan Ekonomi Batam Menghadapi Resesi 2023

  • Bagikan

Wacana yang berkembang selama beberapa bulan terakhir mengenai ancaman resesi global pada 2023 turut menyita perhatian pemerintah daerah di Batam dan Kepri termasuk Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas.

Kegelisahan Presiden Joko Widodo mengenai ‘awan gelap’ resesi tahun depan berulang kali disampaikan di forum-forum resmi. Presiden wajar khawatir, sebab jika resesi terjadi maka dampaknya bisa menjalar ke Indonesia.

Padahal, Indonesia saat ini sedang berada di puncak pertumbuhan dengan membaiknya PDRB dan beberapa indikator makro lainnya. Kendati, nilai tukar rupiah dan suku bunga acuan masih terus berfluktuasi mengantisipasi potensi inflasi.

Mitra dagang utama Indonesia saat ini menjadi sorotan karena jika resesi di AS, China, dan Eropa semakin parah maka dikhawatirkan akan terjadi perlemahan terhadap permintaan produk-produk ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut.

Sektor garmen dan alas kaki sudah merasakan imbas resesi tersebut. Industri pakaian dan sepatu di Jawa Barat dan Jawa Tengah sudah mulai menghentikan produksi dan melakukan PHK terhadap karyawannya. Jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu orang hingga akhir tahun nanti.

Batam sebagai daerah industri juga terancam mengalami hal yang sama, apalagi masih ada industri padat karya di kota ini yang memiliki mitra dagang utama ke Amerika Serikat.

Satu industri pakaian jadi di salah kawasan di Batam sudah mulai mengurangi pekerjanya hingga 2.000 orang hingga akhir tahun. Mereka juga terancam tidak dapat order untuk 2023 karena hingga Desember 2022 ini belum ada pembicaraan mengenai kerjasama lanjutan.

Namun data BPS terakhir higga November 2022, neraca perdagangan RI – China mengalami surplus US$1,045 miliar. Komoditas penyumbang surplus terbesar terhadap China adalah bahan bakar mineral sebesar US$ 1,5 miliar, besi dan baja US$ 1,4 miliar dan lemak dan minyak hewan nabati US$ 913,6 juta.

Begitu juga, neraca dagang dengan AS surplus US$1,256 miliar disumbang dari komoditas mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$327,5 juta, lemak dan minyak nabati US$209,1 juta, dan alas kaki US$180,8 juta.

Kekuatan dan Peluang

Seperti halnya dengan ekonomi nasional yang masih kuat secara fundamental, begitu juga halnya dengan Batam. Pada 2021, ekonomi Batam tumbuh 4,75% setelah sempat anjlok pada 2020 sebesar -2,55% akibat pandemi.

Kota ini masih mengandalkan pertumbuhan dari sektor industri pengolahan, konstruksi, penyediaan akomodasi, dan perdagangan. Tercatat ada tujuh sektor basis yang menopang pertumbuhan kota ini dari 16 sektor lapangan usaha.

Sektor industri pengolahan masih mendominasi distribusi lapangan usaha pembentuk PDRB sebesar 60%, diikuti konstruksi 20%, perdagangan besar dan eceran 6%, dan jasa lainnya 14%.

BACA JUGA:   Sayap Patah Holywings

Sementara itu dari sisi pengeluaran, sektor konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto masih mendominasi pertumbuhan PDRB kota ini masing-masing memberikan peran 39% dan 47%.

Untuk stabilitas harga komoditas di pasaran, pada November 2022, Kota Batam mengalami deflasi sebesar 0,20% dipicu oleh penurunan harga pengeluaran transportasi sebesar 0,96% dan kelompok makanan minuman sebesar 0,61%.

Secara tahunan, inflasi kota Batam diperkirakan masih bertahan di level 5-6% dibandingkan periode tahun lalu.

Ekspor produk manufaktur Batam ke beberapa negara mitra dagang utama selain Singapura hingga periode Januari-September 2022 masih mencatatkan angka positif. Ekspor ke AS, tumbuh 52,38% secara kumulatif dari US$1,542 miliar pada Jan-Sept 2021 menjadi US$2,351 miliar. Ekspor ke China juga tumbuh 2,53% dari US$540 juta pada 2021 menjadi US$554 juta pada 2022.

Kinerja ekspor keseluruhan Batam mencapai US$11,631 miliar, sedangkan impor US$9,912 miliar sehingga kota ini mengalami surplus neraca perdagangan sebesar US$1,178 miliar selama periode Januari – September 2022.

Dari sisi infrastruktur, Batam terus berbenah memperbaiki fasilitas yang ada, mulai dari memperlebar jalan akses dari kawasan ke pelabuhan, meningkatkan fasilitas layanan di Pelabuhan Batu Ampar, menambah kapasitas terminal di Bandara Hang Hadim, dan memperbaiki regulasi dan birokrasi perizinan keluar masuk barang.

Kekuatan anggaran pembangunan yang ditopang oleh BP Batam (Rp2,1 triliun) dan Pemko Batam (Rp3,4 triliun), termasuk dana trasfer pusat menjadi modal bagi pemangku kebijakan untuk meningkatkan belanja modal pemerintah daerah.

Mempertimbangkan data indikatif makro yang ada, Kota Batam cukup percaya diri menatap tahun 2023 mendatang ditengah kekhawatiran global akan adanya resesi di beberapa negara tujuan ekspor utama.

Batam juga masih memiliki potensi dan peluang untuk meningkatkan arus masuk investasi asing. Kondisi geo politik pasca perang Rusia-Ukraina, dan belum pulihnya hubungan AS-China tentu harus ditangkap sebagai peluang untuk menampung limpahan industri manufaktur yang ingin relokasi usaha.

Beberapa industri semikonduktor asal Taiwan baru saja memutuskan relokasi ke Amerika Serikat ketimbang memilih China. China sendiri masih menerapkan kebijakan zero Covid yang menyebabkan pembatasan kegiatan total (lockdown) termasuk industri.

Kerusuhan yang terjadi di pabrik produksi Apple milik Foxconn di Zhengzhou pada beberapa minggu lalu menjadi contoh tidak stabilnya kondisi di China selama pandemi belum benar-benar berakhir.

Pembatasan kegiatan di China juga membuat pasokan bahan baku manufaktur ke Vietnam menjadi terhambat dan mengakibatkan kekacauan rantai pasok industri elektronik di sana.

BACA JUGA:   Ekspor Pasir Laut, Berkah atau Bencana?

Informasi yang diterima penulis terungkap beberapa calon investor mulai melakukan pendekatan ke Batam mencari lahan untuk pabrik baru. Beberapa industri baru mencari lahan dengan luasan 5-10 hektar baik di luar maupun di dalam kawasan industri.

Namun informasi mengenai ketersediaan lahan bagi investasi baru ini memang susah didapat kecuali dari tangan ketiga dan tentunya dengan harga yang semakin mahal.

Sebenarnya BP Batam masih memiliki cadangan lahan yang cukup besar di Rempang dan Galang. Walau sebagian sudah dalam penguasaan pihak tertentu, keberadaan Relang harus dimaksimalkan sebagai landbank untuk mengakomodir kedatangan investor baru.

Upaya meningkatkan daya saing memang terus dilakukan oleh Batam dibawah kepemimpinan Muhammad Rudi sebagai Kepala BP Batam dan Walikota. Kendati tidak cukup dengan hanya membangun jalan dan peningkatan kualitas infrastruktur, Batam tentu harus menjelma menjadi kota modern dengan pelayanan kelas dunia.

Kehadiran KEK Nongsa Digital sebagai basis industri animasi dan data centre, peluang investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) memanfaatkan permukaan waduk, dan pembangunan basis LNG di Kabil, kesemuanya jika terealisasi tentu akan berdampak terhadap pertumbuhan.

Kelemahan dan Ancaman

Namun begitu, percaya diri saja tidak cukup, pemangku kebijakan di kota ini juga harus mempersiapkan serangkaian langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, dan insentif bagi pelaku industri yang terkena dampak.

BP Batam dan Pemko Batam perlu memperhatikan pergerakan angka pengangguran yang masih masuk level mengkhawatirkan walau sudah menurun menjadi 9,56% pada Agustus 2022 dibandingkan angka 11,64% pada Agustus 2021.

Jumlah pengangguran terbuka di Kota Batam tercatat sebanyak 81.121 orang dari total 848.628 angkatan kerja yang ada.

Kenaikan upah minimum kota (UMK) Batam tahun 2023 menjadi Rp4.5 juta akan menjadi magnet bagi pencari kerja dari daerah lain untuk mengadu nasib ke Batam. Situasi ini tentu akan menambah jumlah pencari kerja yang ada.

BP Batam harus memetakan kelompok industri padat modal dan padat karya yang berpotensi terdampak langsung oleh resesi di negara mitra ekspor. Jika saat ini sektor industri padat karya sudah mulai PHK dan berkontribusi terhadap jumlah pengangguran, maka bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terjadi terhadap industri padat modal jika eskalasi krisis makin meluas.

Selain itu, angka kemiskinan di Batam juga terus meningkat dari 4,85% (66.210 orang) pada 2019 menjadi 5.05% (77.100 orang) pada 2021 lalu. Ada banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan ini, dan yang paling utama adalah tingkat pendapatan keluarga yang masih dibawah garis kemiskinan.

BACA JUGA:   Mengapa Malaysia Stop Ekspor Ayam, Ternyata Ini Alasannya!

Untuk menjadi bagian dari global value chain, Batam juga perlu memastikan ekosistem industri manufaktur teknologi tinggi yang kuat. Keunggulan Vietnam hari ini karena ekosistem industri sudah terbangun sehingga banyak investasi teknologi memilih ke sana.

Saingan Batam saat ini juga bukan lagi kawasan investasi regional, tapi juga nasional. Hadirnya beberapa KEK baru memberikan alternatif tujuan investasi bagi pelaku industri seperti di KEK Singasari, Malang, KI Batang, dan KEK JIPE, Gresik. Mereka juga didukung oleh upah yang murah.

Mendorong hadirnya industri kecil menengah sebagai supporting industry sudah saatnya digagas oleh otoritas berwenang. Pola kemitraan antara industri lokal dan industri besar bisa mulai ditingkatkan agar transfer teknologi dapat terwujud.

Optimis

Menghadapi 2023 mendatang, tidak ada kata lain selain optimis walau tetap waspada. Bank Indonesia Kepri sudah merilis angka pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2022 ini diperkirakan berada pada level 4,1%-4,9%, dan tahun 2023 diproyeksikan 3,9% – 4,7%.

Untuk Batam, estimasi penulis, kita masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi positif pada level 5,2% – 5,5% pada 2022 ini, dan diprediksi tren positif ini berlanjut hingga 2023.

Indikator pendukung pertumbuhan PDRB masih cukup kuat hingga tahun depan, salah satunya sektor industri pengolahan dan konstruksi. Sektor penyediaan akomodasi (termasuk didalamnya perhotelan dan restoran) walau angka distribusinya dibawah 3% dari PDRB namun diharapkan dapat memberikan multiplier effect yang besar terhadap perekonomian.

Berputarnya sektor usaha pendukung pariwisata ini tentunya akan membuka lebih banyak lapangan kerja di samping lapangan kerja sektor formal di industri.

Kelompok industri padat modal dan teknologi masih mendapat kepastian pesanan dari pasar ekspor utama di AS dan China hingga 2023. Kelompok galangan kapal sudah full-house pada 2022 dan berlanjut hingga 2023.

Kelompok properti di topang oleh konstruksi dan realestate juga optimis tetap tumbuh positif, didukung sektor pariwisata yang sudah mulai ramai. Kondisi ini tentu akan membantu sektor perdagangan besar dan eceran serta jasa lainnya.

Seperti apa resesi dan dampaknya pada 2023 nanti, belum ada yang tahu. Kita hanya bisa membuat eskalasi dan langkah mitigasi, selanjutnya, mari kita tunggu!


Penulis: Dr. Suyono Saputro | Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam | Regional Economist mitra Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau

  • Bagikan
161 views