Mengerikan, Kasus Covid-19 Di China Tembus 37 Juta Orang Per hari

  • Bagikan
A health worker takes a swab sample from a resident to be tested for Covid-19 coronavirus in Jiayuguan, in China's northwestern Gansu province on November 24, 2022. (Photo by AFP) / China OUT

Regional.co.id, SHANGHAI: Penyebaran virus Covid-19 di China semakin parah dan tak terkendali. Data terakhir menyebutkan jumlah kasus yang terdeteksi mencapai 37 juta warga per hari dalam sepekan terakhir. Demikian catatan proyeksi kasus menurut perkiraan otoritas kesehatan pemerintah.

Bloomberg melaporkan proyeksi tersebut juga merinci catatan 20 hari pertama di bulan Desember, diperkirakan kasus infeksi COVID-19 secara akumulatif mencapai 248 juta orang. Hampir 18 persen dari populasi China.

Puncak gelombang COVID-19 Omicron diyakini China bakal tercapai sepekan ke depan. Pihak berwenang setempat memperkirakan tekanan pada sistem kesehatan negara itu bakal bertambah.

Proyeksi itu jelas jauh berbeda dari angka resmi COVID-19 di China. China melaporkan kurang dari 4 ribu kasus COVID-19 lokal bergejala secara nasional di 22 Desember, bahkan nihil kematian baru selama tiga hari berturut-turut. Mereka berdalih, hanya mencatat pasien dengan kematian gagal napas, yang spesifik diklasifikasikan sebagai kematian COVID-19.

BACA JUGA:   Singapura Waspadai Tambahan 15.000 Kasus Baru Varian Omicron

Intinya, pihak berwenang telah mempersempit kriteria kematian akibat COVID, yang memicu kritik dari banyak pakar penyakit.

”Diperkirakan akan mencapai puncak infeksi dalam seminggu,” sebut Zhang Wenhong, Direktur Pusat Nasional untuk Penyakit Menular.

Upaya untuk memvaksinasi lansia yang dimulai tiga minggu lalu juga belum membuahkan hasil. Tingkat vaksinasi keseluruhan China di atas 90 persen tetapi tingkat untuk orang dewasa yang telah mendapatkan suntikan booster turun menjadi 57,9 persen, dan menjadi 42,3 persen untuk orang berusia 80 tahun ke atas, menurut data pemerintah.

China menghabiskan banyak uang untuk fasilitas karantina dan pengujian selama tiga tahun terakhir daripada memperkuat rumah sakit dan klinik serta melatih staf medis, kata orang-orang ini.

BACA JUGA:   Hore, Turis Indonesia ke Singapura Bebas Karantina!

“Ada kurangnya persiapan yang luar biasa untuk virus yang datang meskipun mereka memiliki banyak peringatan,” kata Leong Hoe Nam, seorang dokter penyakit menular di Rophi Clinic di Singapura.

Obat Ludes

Kondisi COVID-19 di China disebut semakin mengkhawatirkan. Pelonggaran aturan lockdown justru membuat banyak warganya tertular penyakit pernapasan tersebut.

Lonjakan kasus yang terjadi di sejumlah kota-kota besar membuat rumah sakit penuh sesak oleh pasien. Di sisi lain, sejumlah warga sedang berjuang untuk mendapat pasokan obat.

Pemerintah China dilaporkan sedang berjuang mengamankan stok obat-obatan yang habis di pasaran. Tidak hanya itu, reagen alat tes COVID juga disebut tak lagi bisa ditemukan di apotek karena kekurangan stok.

BACA JUGA:   Kasus Covid di China Diprediksi Makin Parah Pasca Libur Imlek

Sejumlah apotek di kawasan China juga mengeluhkan kehabisan obat demam. Di kota Zhuhai, para pejabat mengatakan pada hari Senin bahwa kini warga perlu mendaftar sebelum membeli obat demam di apotek.

Beberapa wilayah yang mendapatkan pasokan obat tetap harus membatasi warga untuk membeli obat demam tersebut.

  • Bagikan
31 views