Punya Aset Rp3 Triliun, Ini 7 BUMN Yang Akan Dibubarkan Oleh Erick

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Presiden Joko Widodo telah merestui pembubaran PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (PANN) melalui Keppres Nomor 25 tahun 2022 yang diteken pada 23 Desember lalu.

Selain PT PANN, beberapa waktu sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir pernah mengumumkan rencana pembubaran atau likuidasi tujuh BUMN lain yang masuk kategori sakit dan tidak aktif yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Kertas Leces (Persero), PT Industri Gelas (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), dan termasuk PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero).

Berdasarkan laporan keuangan Kementerian BUMN, total aset ketujuh perusahaan plat merah itu mencapai Rp3,132 triliun dengan total liabilitas Rp15,016 triliun sehingga masih ada defisit aset netto sebesar minus Rp11,884 triliun.

Dari tujuh BUMN tersebut, PT PANN memiliki aset paling besar yaitu Rp1,024 triliun namun liabilitasnya juga terbesar yaitu Rp6,831 triliun sehingga defisit aset netto nya mencapai minus Rp5,807 triliun. Selanjutnya PT Kertas Leces menempati posisi kedua sebagai BUMN sakit dengan aset terbesar.

Diolah dari berbagai sumber, berikut profil singkat tujuh BUMN yang akan ditutup Erick Thohir:

PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero)

PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) atau PT PANN merupakan BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan kapal. Perusahaan ini didirikan pada 1974. Selain bergerak di bidang pembiayaan kapal, BUMN ini juga bergerak di bidang telekomunikasi dan navigasi maritim serta jasa pelayaran untuk usaha jasa sektor maritim.

BACA JUGA:   Siap-Siap PPN Naik Jadi 12% di 2025, Apa Saja Barang Yang Bebas PPN?

Perusahaan ini memiliki aset lain berupa hotel bintang tiga dan empat di Surabaya dan Bandung. Namun pengelolaan hotel ini juga tidak maksimal karena hanya menghasilkan keuntungan Rp1,5 miliar per tahun.

PT PANN mencatatkan aset sebesar Rp1,024 triliun dengan liabilitas Rp6,831 triliun sehingga masih defisit net asset sebesar Rp5,807 triliun. Perusahaan ini berhenti beroperasi sejak 2013 silam.

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) merupakan induk dari Merpati Nusantara Airlines, salah satu maskapai penerbangan nasional yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Maskapai ini didirikan pada 1962 dan berpusat di Jakarta.

Pada 1 Februari 2014, Merpati menangguhkan seluruh penerbangan dikarenakan masalah keuangan akibat hutang. Diketahui, Merpati membutuhkan Rp7,2 triliun untuk beroperasi kembali.

PT MNA memiliki aset Rp470 miliar dengan liabilitas Rp2,391 triliun sehingga terdapat defisit net asset sebesar minus Rp1,921 triliun. Perusahaan ini stop terbang sejak 2014.

PT Kertas Leces (Persero)

PT Kertas Leces (Persero) terletak di Probolinggo, Jawa Timur. Adapun PT Kertas Leces merupakan pabrik kertas tertua kedua di Indonesia setelah pabrik Kertas Padalarang.

BACA JUGA:   Peringkat Realisasi Investasi Melorot, Kepri Makin Tidak Menarik Bagi PMA?

Pabrik kertas Leces sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda. Asalnya bernama N.V Papierfabriek Letjes, berdiri pada 1939. Pabrik ini mulai beroperasi pada 1940, dengan menghasilkan kertas 10 ton per hari.

Perusahaan ini memiliki total aset Rp584 miliar dengan total liabilitas Rp1.316 triliun sehingga defisit net asset mencapai minus Rp732 miliar. PT KL berhenti beroperasi sejak 2014.

PT Industri Gelas (Persero)

PT Industri Gelas atau PT IGLAS (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kemasan gelas, khususnya botol. Perusahaan ini didirikan pada 29 Oktober 1956 dan beroperasi pertama kali pada 1959.

PT Industri Gelas mampu memproduksi berbagai jenis botol dengan total kapasitas 340 ton per hari atau 78.205 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri bir, minuman ringan, farmasi, makanan, dan kosmetika.

IGLAS berhenti operasi sejak 2015 dan meninggalkan aset sebesar Rp10 miliar dengan beban liabilitas Rp1,369 triliun sehingga masih terdapat defisit aset sebesar minus Rp1,359 triliun.

PT Istaka Karya (Persero)

PT Istaka Karya (Persero) adalah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. Perusahaan ini sebelumnya bernama PT ICCI (Indonesian Consortium of Construction Industries) dan merupakan suatu konsorsium yang beranggotakan 18 perusahaan konstruksi Indonesia.

BACA JUGA:   Pemulihan Ekonomi Picu Permintaan Energi, Wamenkeu: Subsidi pun Membengkak!

Perusahaan masih beoperasi hingga saat ini namun kesulitas permodalan untuk melakukan ekspansi bisnis. Total aset yang dimilikinya mencapai Rp515 miliar dengan liabilitas Rp483 miliar sehingga masih surplus net aset Rp33 miliar.

PT Kertas Kraft Aceh (Persero)

PT Kertas Kraft Aceh (Persero) mulai beroperasi pada 1983 di Lhokseumawe, Aceh Utara. Adapun tujuan awal KAA didirikan dalam rangka swasembada kertas kantong semen.

Produsen pembungkus semen dari Aceh ini terpaksa berhenti beroperasi sejak 2007 karena kesulitan mendapat bahan baku dan gas.

Perusahaan ini meninggalkan aset sebesar Rp42 miliar dengan liabilitas Rp2,191 triliun sehingga masih terdapat defisit net aset sebesar minus Rp2,149 triliun.

PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

PT Industri Sandang Nusantara (Persero) merupakan perusahaan tekstil milik pemerintah Indonesia yang berkantor pusat di Bekasi, Jawa Barat. Perusahaan BUMN ini didirikan pada 1999 dalam swasembada kebutuhan pangan yang dicanangkan pada 1961.

PT Industri Sandang Nusantara memproduksi benang tenun, karung, dan karung plastik yang diproduksi oleh 7 baril pemintalan, 1 baril terpadu pemintalan dan pentenunan, serta satu pabrik karung plastik.

Perseroan berhenti operasi sejak 2018 lalu meninggalkan aset Rp487 miliar dan liabilitas Rp436 miliar sehingga masih ada surplus aset Rp51 miliar. (SYS/IDXChannel)

  • Bagikan
97 views