Ekonomi Makin Merosot di Swedia, 3.500 Usaha Bangkrut!

  • Bagikan

Regional.co.id, STOCKHOLM: Tsunami kebangkrutan melanda negara kaya Eropa, Swedia. Menurut lembaga referensi bisnis dan kredit UC, jumlah usaha bangkrut mencapai level tertinggi dalam satu dekade di paruh kedua 2022 lalu.

Angkanya mencapai 22% di rentang Juli dan Desember 2022, jika dibandingkan periode yang sama di 2021. Data ini menimbulkan keraguan pada pemulihan pasca-Covid-19 dan optimisme awal tahun 2023.

“Kalau dipikir-pikir, banyak hal menunjukkan bahwa ini baru permulaan,” kata ekonom UC Johanna Blome dalam siaran pers, dikutip Almayadeen, Jumat (6/1/2023).

Tahun 2022 sebenarnya dimulai dengan optimisme tinggi, tetapi situasinya dengan cepat memburuk. Hampir 3.500 bisnis menyatakan bangkrut pada paruh kedua tahun ini saja.

BACA JUGA:   Boyong Produk UKM Solo Pameran di Paris, Gibran: Ini Kesempatan Tembus Pasar Global!

Proporsi kebangkrutan tertinggi terjadi di hotel, restoran, dan ritel. Di mana angka yang umumnya memburuk dari bulan ke bulan.

UC juga memprediksi adanya peningkatan dan efek jangka panjang bagi Swedia dari konflik Rusia di Ukraina. Ini menyebabkan laju inflasi yang makin cepat, dan harga listrik yang tinggi akibat sanksi UE terhadap Kremlin.

UC meramalkan 2023 yang sulit bagi Swedia, di mana perusahaan kecil menghadapi kemunduran likuiditas sebagai akibat dari peningkatan biaya listrik dan pembelian, serta bunga. Selain itu, peningkatan kebangkrutan dan penurunan jangka panjang dalam jumlah startup juga diprediksi terjadi.

BACA JUGA:   KTT Ke-43 Asean Tahun 2023 di Jakarta, Ini Agenda Lengkapnya!

Perusahaan informasi kredit Creditsafe juga mengemukakan hal serupa. Mereka menyebut lonjakan kebangkrutan baru-baru ini sebagai “awal dari gelombang kebangkrutan besar”.

“Perkiraannya adalah kebangkrutan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang,” kata CEO Creditsafe Henrik Jacobsson dalam sebuah pernyataan, sembari menyinggung masalah utang yang kian menumpuk.

“Banyak perusahaan yang secara historis akan bangkrut selamat dari pandemi berkat dukungan pemerintah tetapi dengan kewajiban pajak tangguhan yang makin mendekat ditambah dengan biaya bunga yang lebih tinggi, harga listrik dan bahan bakar yang tinggi, dan resesi. Kita berada dalam lingkungan yang tidak pasti dengan sangat banyak sinyal peringatan,” tambahnya.

BACA JUGA:   Jokowi Undang Negara G7 Hadir dalam KTT G20 di Bali

Pemerintah Swedia pada akhir 2022 mengumumkan bahwa negara Nordik memasuki resesi jangka panjang yang akan berlangsung hingga tahun 2025. PDB negara tersebut diperkirakan akan turun sebesar 0,7%, sementara pengangguran diperkirakan akan meningkat menjadi 7,8% pada 2023 dan 8,2% pada 2024.

  • Bagikan
119 views