Siap-Siap! Harga Emas Tahun ini Bakal Tembus Rp1,6 Juta Per Gram

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Harga emas baik di pasar global maupun di dalam negeri diprediksi terus meningkat seiring potensi meningkatnya permintaan akibat ancaman resesi dunia tahun ini. Harga emas dalam negeri bahkan diprediksi bisa tembus Rp1,6 juta per gram, dari level saat ini di kisaran Rp970.000 hingga Rp1 juta per gram.

Harga emas baik di pasar global maupun dalam negeri, dipengaruhi oleh permintaan dan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). 

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen memperkirakan harga emas bisa melebihi US$ 3.000 atau sekitar Rp 46,5 juta (kurs Rp 15.500) per ounce pada 2023.

Dalam hitungan gram, 1 ounce setara 28,35 gram. Artinya, per gramnya emas akan berada di harga Rp 1,6 juta. Jumlah tersebut 67% lebih tinggi dari harga saat ini sekitar US$ 1.797 per ons atau sekitar Rp 982 ribu per gram.

Harga emas di pasar spot Senin (9/1/2023) di level US$1.877 per ounce. Sedangkan harga emas Pegadaian di fitur Bareksa Emas di level Rp970.000 per gram dan harga emas Treasury di level Rp969.023 per gram.

BACA JUGA:   Usulan Kandidat Gubernur BI Dikirim Akhir Februari, Sri Mulyani Calon Kuat?

Berdasarkan informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga dasar emas 24 karat ukuran 1 gram dijual sebesar Rp1.035.000. Emas berukuran terkecil 0,5 gram dijual seharga 567.500. Sedangkan, harga emas dengan ukuran terbesar 1.000 gram mencapai Rp975.600.000.

Terkait permintaan emas, Bank Sentral China dikabarkan memborong emas dalam jumlah besar dalam dua bulan terakhir. World Gold Council melaporkan Bank Sentral China memborong 32 ton emas pada November tahun lalu dan 30 ton pada Desember sehingga China memborong 62 ton emas pada akhir tahun lalu.

Menurut CNBC Indonesia, tidak hanya Bank sentral China yang melakukan pembelian emas tapi juga sejumlah bank sentral lainnya memborong emas pada tahun lalu. World Gold Council melaporkan jumlah pembelian tersebut menjadi yang terbesar dalam 55 tahun terakhir.

Prediksi Harga Emas Dalam Negeri

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memperkirakan pada tahun ini di dalam negeri akan ada booming emas. Hal itu berarti terjadi lonjakan permintaan terhadap komoditas emas sehingga menyebabkan harganya naik tajam. 

BACA JUGA:   Persediaan Berkurang, Harga Minyak Global Naik jadi $74,20

Bhima mengatakan tahun ini akan terjadi fenomena pergeseran instrumen investasi secara global. “Akan ada booming emas. Dolar AS akan segera berganti ke emas sebagai instrumen paling diminati. Bank sentral dibanyak negara pun mulai menumpuk cadangan emas,” ujarnya dilansir Kompas.com, Sabtu (7/1/2023). 

Bhima mengatakan seiring dengan berkembangnya kondisi global, diperkirakan investor akan mengalihkan asetnya ke emas sehingga harga emas diyakini akan terus naik.

“Prediksi harga emas bisa mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 1,6 juta per gram di tahun 2023. Semakin besar ancaman resesi maka semakin menarik emas sebagai safe haven,” ucap Bhima. 

Menurut Bhima permintaan pasar akan emas yang diperkirakan akan melonjak di tahun ini disebabkan oleh tingginya inflasi global yang diiringi oleh berkurangnya kesempatan kerja. “Stagflasi akan memacu investor membeli emas dalam jumlah besar,” imbuhnya.

BACA JUGA:   Virgin Hyperloop Rilis Video Konsep Pertama

Ia menjelaskan kebijakan beberapa negara termasuk Indonesia untuk menerbitkan bank emas atau bullion bank juga turut memacu terjadinya booming emas tahun ini. Rencana pemerintah Indonesia akan mendirikan bank emas sendiri tertuang dalam Rancangan Undang-undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK). RUU tersebut menyebutkan soal pembentukan bank emas di Indonesia dan pengawasannya di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Menurut dia dengan adanya bank yang melakukan transaksi jual beli logam mulia termasuk ekspor, impor, hingga proses penyimpanan emas ini, maka akan membuat emas menjadi komoditas yang menarik bagi investor karena peminatnya menjadi semakin luas. Bhima mengungkapkan faktor yang juga bisa mendorong harga emas, adanya pengetatan moneter di negara maju membuat emas diandalkan sebagai lindung nilai atau hedging terhadap naiknya risiko suku bunga. 

Selain itu, “tidak ditemukan cadangan emas terbukti dalam jangka pendek sehingga outlook supply emas tidak akan meredam kenaikan harga,” kata dia.

  • Bagikan
165 views