Peru Membara, 42 Warga Tewas Dalam Aksi Unjuk Rasa

  • Bagikan

Regional.co.id, LIMA: Pemerintah Peru mendeklarasikan status darurat di Ibu Kota Lima pada Minggu (15/1), di tengah kerusuhan tak henti yang sudah menewaskan total 42 orang dalam beberapa pekan belakangan.

Berdasarkan dekrit yang dirilis di surat kabar pemerintah, status darurat itu akan berlaku selama 30 hari. Selama periode itu, tentara dapat melakukan intervensi untuk memastikan ketertiban umum.

Mereka juga dapat menangguhkan beberapa hak warga yang dijamin konstitusi, seperti kebebasan bergerak dan berkumpul.

Peru mendeklarasikan status darurat di Ibu Kota Lima pada Minggu (15/1), di tengah kerusuhan tak henti yang sudah menewaskan total 42 orang dalam beberapa pekan belakangan.

BACA JUGA:   Gempa Maroko, Korban Tewas Tembus 2.000 Jiwa!

Berdasarkan dekrit yang dirilis di surat kabar pemerintah, status darurat itu akan berlaku selama 30 hari. Selama periode itu, tentara dapat melakukan intervensi untuk memastikan ketertiban umum.

Mereka juga dapat menangguhkan beberapa hak warga yang dijamin konstitusi, seperti kebebasan bergerak dan berkumpul.

Keputusan ini diambil setelah sejumlah kelompok demonstran dari kawasan selatan Peru mulai bergerak ke Lima “untuk mengambil alih kota.”

“Kami memutuskan untuk ke Lima. Kami belum memastikan waktunya karena kami mau pergi bersama-sama,” ujar seorang pemimpin salah satu kelompok pengunjuk rasa, Julio Vilca.

Peru memang sedang didera konflik politik berkepanjangan dalam beberapa bulan terakhir. Belakangan, para demonstran meminta Presiden Dina Boluarte mundur.

BACA JUGA:   Siaga Perang Nuklir, Putin Siapkan Rudal 'Setan'

Boluarte sendiri baru dilantik untuk menggantikan Pedro Castillo yang dimakzulkan pada 7 Desember. Ia dilengserkan ketika berupaya membubarkan parlemen dan memerintah berdasarkan dekrit.

Aparat langsung menahan Castillo ketika sang mantan presiden dalam perjalanan menuju kedutaan besar Meksiko untuk mencari suaka.

Sepeninggal Castillo, Peru masih terus membara. Warga menuntut Boluarte mundur dan menggelar pemilu lebih cepat.

Awalnya, Peru seharusnya menggelar pemilu pada 2026. Guna meredam amarah demonstran, Boluarte sempat mengajukan percepatan pemilu menjadi 2024.

Meski demikian, para pengunjuk rasa mendesak pemilu digelar sesegera mungkin. Boluarte pun kembali mengajukan usulan untuk mempercepat pemilu menjadi Desember 2023.

BACA JUGA:   Ekonomi Makin Merosot di Swedia, 3.500 Usaha Bangkrut!

Tak puas, warga tetap turun ke jalan, menuntut pemilu lebih cepat agar mereka dapat memilih pemimpin yang benar-benar diinginkan rakyat.

  • Bagikan
116 views