Angka Kelahiran Rendah, Jepang Dalam Ancaman Krisis Populasi

  • Bagikan

Regional.co.id, TOKYO: Jepang kini dalam situasi genting dan terancam merosotnya populasi. Ini bahkan disampaikan Perdana Menteri (PM) Fumio Kishida awal pekan ini.

“Jepang berada di ambang ketidakmampuan untuk mempertahankan fungsi sosial karena penurunan angka kelahiran,” katanya dalam pidato dihadapan legislatif, dikutip dari CNN International, Rabu (25/1/2023).

Karenanya, Kishida menambahkan, ia ingin parlemen mendukung pemerintah menggandakan pengeluarannya untuk program terkait anak. Diketahui, sebuah badan pemerintah akan dibentuk pada bulan April untuk fokus pada masalah ini.

“Terkait keberlanjutan dan inklusivitas ekonomi dan masyarakat bangsa kita, kita perlu menempatkan dukungan pengasuhan anak sebagai kebijakan terpenting,” tegasnya.

“Itu adalah hal penting untuk menyelesaikan masalah, sekarang atau tidak sama sekali. Penyelesaian tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” tambahnya.

BACA JUGA:   Boyong Produk UKM Solo Pameran di Paris, Gibran: Ini Kesempatan Tembus Pasar Global!

Jepang sebenarnya merupakan negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Pada 2020, data pemerintah menyebut hampir satu dari 1.500 orang di Jepang berusia 100 tahun atau lebih.

Namun, fakta itu justru telah mendorong krisis demografis yang berkembang. Dengan masyarakat yang menua dengan cepat, tenaga kerja telah menyusut dan tidak cukup orang muda untuk mengisi kesenjangan dalam ekonomi yang stagnan.

Jepang merupakan negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Kementerian Kesehatan memperkirakan akan ada kurang dari 800.000 kelahiran di 2022, pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1899.

Para ahli menunjuk ke beberapa faktor di balik angka kelahiran yang rendah. Biaya hidup yang tinggi di negara ini menjadi salah satu penyebab.

BACA JUGA:   Bersiap Pindah ke IKN, 60.000 ASN Ikuti Uji Kompetensi

Belum lagi ruang yang terbatas, dan kurangnya dukungan pengasuhan anak di kota-kota. Itu menimbulkan kesulitan bagi orang tua untuk membesarkan anak, yang berarti semakin sedikit pasangan yang memiliki anak.

Sikap terhadap pernikahan dan memulai keluarga juga telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak pasangan yang menunda keduanya selama pandemi.

Beberapa menunjuk pada pesimisme anak muda di Jepang terhadap masa depan. Ada frustasi dengan tekanan pekerjaan dan stagnasi ekonomi.

Sementara itu, perekonomian Jepang terhenti sejak kebangkitan pada awal 1990-an. Pertumbuhan PDB negara itu melambat dari 4,9% pada 1990 menjadi 0,3% pada 2019.

BACA JUGA:   Pemerintah Putuskan 1 Ramadhan 1445 Jatuh Pada Selasa 12 Maret 2024

Sementara itu, rata-rata pendapatan rumah tangga riil tahunan menurun dari 6,59 juta yen pada tahun 1995 menjadi 5,64 juta yen pada 2020.

Untuk mengatasi hal ini, Tokyo telah meluncurkan berbagai inisiatif, termasuk kebijakan baru untuk meningkatkan layanan penitipan anak dan meningkatkan fasilitas perumahan bagi keluarga dengan anak. Beberapa kota pedesaan bahkan mulai membayar pasangan yang tinggal di sana untuk memiliki anak.

  • Bagikan
196 views