Kejar Bauran Energi 2025, Bahlil: Stop Ekspor EBT ke Luar Negeri!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Pemerintah Indonesia tetap pada pendiriannya untuk tidak melakukan ekspor energi baru terbarukan (EBT) ke negara manapun sebagai upaya menjaga ketahanan energi nasional pada masa datang.

Penegasan itu disampaikan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia di hadapan kurang lebih 670 peserta yang hadir di acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2023, Rabu (1/2).

Menteri Investasi/Kepala BKPM memaparkan bagaimana arah kebijakan investasi Indonesia di tahun 2023 ini.

“Diantaranya dalam rangka menjaga ketahanan energi di Indonesia, pemerintah akan melakukan penghentian ekspor listrik dengan Energi Baru Terbarukan (EBT),” ujar Bahlil.

Tercatat sudah tiga kali Bahli menegaskan penolakan terhadap rencana ekspor EBT ini ke negara tetangga terutama Singapura. Pertama, Bahli menyatakan penolakan dalam press briefing World Economic Forum (WET) di Davos, pada 2022 lalu.

Dia lebih memilih untuk fokus dalam pencapaian bauran energi domestik menjadi 23%-25% pada 2025. Kedua, ketika membuka acara Trade, Investment, and Industry Working Group di Solo, Bahlil juga mengulangi larangan ekspor energi ke Singapura.

Pernyataan Bahlil ini tentu saja berpotensi menggagalkan rencana kerjasama bidang energi antara Indonesia dan Singapura yang diteken pada Januari 2022 lalu oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dan Menteri Kedua Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng.

BACA JUGA:   Investasi Energi Hijau Butuh Payung Hukum, EnergyWatch: Percepat Pembahasan UU EBT

Penandatanganan MoU Kerja Sama Energi ini menjadi salah satu deliverables pada pertemuan Leaders’ Retreat antara Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada tanggal 25 Januari 2022 di Bintan.

Selain itu, pelarangan ekspor semakin mempertegas ketidakpastian rencana investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar yang akan dikembangkan di Provinsi Kepulauan Riau terutama di Batam.

Tercatat delapan konsorsium telah menyatakan minat untuk mengembangkan PLTS skala besar dengan total investasi mencapai Rp250 triliun dengan kapasitas dihasilkan sekitar 20 GW.

Termasuk dua calon investor PLTS yaitu Adaro Energy dan Toba Bara Energi yang akan membangun PLTS di waduk Duriangkang dan Tembesi di Batam terancam gagal terwujud.

Sementara itu kebutuhan energi hijau jangka panjang Singapura sendiri hanya 4 GW yang direncanakan terpenuhi pada 2027 mendatang. Energy Market Authority (EMA) Singapore bahkan telah mengantongi 20 proposal impor energi dari 4 negara.

BACA JUGA:   Pensiunkan PLTU, Listrik Eropa Kini Mengandalkan Pembangkit Tenaga Angin

Sumber Alternatif

Dalam mempersiapkan sumber pasokan EBT masa depan, Singapura telah menjajaki kerjasama pasokan energi dari beberapa negara yaitu Malaysia dan Laos.

Singapura akan mengimpor 100 megawatt (MW) listrik dari Malaysia sebagai bagian dari uji coba selama dua tahun, berdasarkan kesepakatan bersama antara YTL PowerSeraya dan TNB Genco. Ini menandai pertama kalinya listrik dari Malaysia akan dipasok ke Singapura secara komersial.

YTL PowerSeraya mengatakan listrik akan diekspor melalui interkonektor yang baru ditingkatkan. Listrik tersebut akan dibeli terlebih dahulu dari TNB Pasir Gudang Energi, perusahaan kendaraan khusus yang dimiliki sepenuhnya oleh TNB Genco, sebelum diekspor.

Ini akan menghasilkan sekitar 1,5 persen dari permintaan listrik puncak Singapura, cukup untuk memberi daya sekitar 144.000 flat HDB empat kamar selama setahun.

Kemitraan tersebut diresmikan pada hari Senin (30/1) dan disaksikan oleh Menteri Tenaga Kerja Tan See Leng dan Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz.

Sebelumnya, Keppel Electric dan Electricite du Laos menandatangani perjanjian pembelian listrik kapasitas 100 megawatt sebagai awal rintisan perdagangan energi terbarukan lintas batas ke Singapura.

BACA JUGA:   Larangan Ekspor Energi, Darwin: Itu Kewenangan Pusat!

Perjanjian kerangka kerja eksklusif antara Keppel Electric dan Electricite Du Laos (EDL) disepakati pada 15 September 2021 sebagai bagian dari Laos Thailand Malaysia Singapore – Power Integrated Project (LTMS-PIP), sebuah proyek antar-pemerintah untuk mempelajari kelayakan perdagangan listrik lintas batas dari Laos ke Singapura.

Skema kerjasama itu menyepakati ujicoba impor listrik kapasitas 100 MW energi terbarukan dari Laos ke Singapura melalui Thailand dan Malaysia menggunakan interkoneksi yang ada, dimulai sejak Juni 2022 lalu.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Kadin Provinsi Kepri Ahmad Makruf Maulana, menyatakan keberatannya atas rencana pelarangan ekspor energi dari Kepri ke Singapura.

“Kami mengecam pernyataan Bahlil yang melarang ekspor. Ini sama saja menghalangi upaya perkembangan investasi EBT di Kepri terutama untuk PLTS skala besar,” paparnya.

Dia mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan aturan dan regulasi yang lebih tegas terkait ekspor energi ini karena akan memberikan kepastian hukum bagi calon investor yang sudah berencana membangun fasilitas PLTS di Kepri.

  • Bagikan
48 views