Bersiap Menghadapi Krisis Baru Bernama ‘Climate Change’ – Bagian Kedua

  • Bagikan

Hujan deras yang melanda Singapura sejak akhir Februari hingga awal Maret lalu menyebabkan pembatalan turnamen golf The HSBC World Women Championship yang sedianya digelar pada Rabu, 1 Maret 2023 di lapangan Sentosa Golf Tanjung Course, Pulau Sentosa.

Curah hujan relatif lebih tinggi sejak akhir Februari lalu pada kisaran 225,5 mm mencatatkan rekor tertinggi dibandingkan curah hujan pada Februari 1995 yang berada dikisaran 159,3 mm.

Angin monsoon utara menjadi pemicu awan tebal dari Laut China Selatan menuju Singapura, Malaysia, dan sekitarnya termasuk Kepulauan Riau. Cuaca berawan dan hujan deras juga menimpa negara di sepanjang Sungai Mekong yaitu Thailand dan Vietnam.

Peningkatan curah hujan dialami oleh negara bagian Johor Bahru, Malaysia selama beberapa hari terakhir. Akibatnya banjir pun tak terelakkan lagi. Sekitar 40.000 rumah penduduk terendam dan korban tewas.

Di Indonesia, khususnya Kepulauan Riau hujan turun merata di seluruh kabupaten/kota. Hujan deras menyebabkan banjir di beberapa lokasi dan tanah longsor.

Tanah longsor terjadi di Batam dan Natuna menyebabkan puluhan korban tewas tertimbun. Kasus ini bisa dikatakan tidak pernah terjadi sebelumnya.

Selain hujan deras, banjir terjadi karena ketidaksiapan sistem drainase kota menampung luapan debit air hujan. Beberapa perumahan dan jalan akses kota tergenang air.

Perubahan iklim menjadi pemicu ketidakstabilan cuaca selama beberapa minggu ini. Musim hujan yang biasanya terjadi pada pertengahan tahun justru sudah mulai terasa sejak awal pergantian tahun.

BACA JUGA:   Food Protectionism dan Bayangan Krisis Pangan Global

Tahun 2022 lalu dianggap sebagai tahun paling ekstrem dalam perubahan iklim. Berbagai bencana terjadi seperti banjir bandang, kekeringan, dan badai menghancurkan banyak wilayah di dunia.

Unprecedented

Memasuki 2023, walaupun kondisi belum menunjukkan tanda perbaikan namun tetap masih ada harapan. Selama tahun 2022, World Food Program (WFP) memberikan makanan dan bantuan lainnya kepada lebih dari 160 juta orang, termasuk banyak yang terkena bencana iklim di lebih dari 30 negara.

WFP juga mendukung masyarakat untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan lebih baik terhadap dampak iklim—misalnya, melalui pembayaran asuransi sekitar US$11 juta, dan bantuan tunai yang menjangkau sekitar satu juta orang sebelum bencana iklim yang diperkirakan terjadi.

Jenny Wilson, Climate Change Account Manager WFP menyebut tahun 2022 sebagai tahun paling parah terjadinya bencana perubahan iklim.

Unprecedented atau belum pernah terjadi sebelumnya, sering terasa seperti kata yang terlalu sering digunakan. Meskipun tahun 2022 jelas merupakan tahun bencana iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya, para ahli memperingatkan akan datangnya peristiwa cuaca yang lebih besar dan lebih mematikan,” ujarnya dalam tulisan di laman WFP.

Meskipun butuh waktu berbulan-bulan bagi para ilmuwan untuk membangun hubungan langsung, perubahan iklim kita semakin memengaruhi banyak keadaan darurat dunia — menimbulkan tantangan besar bagi WFP dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Bencana perubahan iklim tahun lalu memperdalam kekeringan terburuk yang tercatat di Afrika, menghancurkan tanaman dan mata pencaharian dan mendorong masyarakat ke jurang kelaparan. Sementara itu, banjir parah melanda 19 negara di seluruh Afrika Barat dan menenggelamkan sepertiga wilayah Pakistan.

BACA JUGA:   Mengapa Shinzo Abe Ditembak?

International Federation of Red Cross and Red Crescents Society (IFRC) memprediksi pada tahun 2050, 200 juta orang setiap tahun akan membutuhkan bantuan kemanusiaan internasional sebagai akibat dari kombinasi bencana terkait iklim dan dampak sosial ekonomi dari perubahan iklim.

Ini hampir dua kali lipat dari perkiraan 108 juta orang yang membutuhkan bantuan hari ini dari sistem kemanusiaan internasional akibat dari banjir, badai, kekeringan dan kebakaran hutan.

IFRC mendesak kepedulian seluruh negara dunia untuk mulai menekan laju pemasan global yang dapat memicu terjadi efek dari pemanasan tersebut.

Lembaga tersebut bahkan membuat sebuah kajian berjudul The Cost of Doing Nothing yang berisi laporan perkirakan jika dunia tidak melakukan apapun terhadap perubahan iklim ini. Salah satunya adalah peningkatan jumlah manusia yang butuh bantuan dan bantuan kemanusiaan yang pasti juga membengkak menjadi US$ 20 miliar per tahun.

Namun IFRC juga memprediksi, jika dunia segera melakukan tindakan preventif atau cost of doing something, maka jumlah manusia terdampak dapat dikurangi dan biaya bantuan kemanusiaan juga dapat ditekan.

Double Threats

Perubahan iklim menimbulkan ancaman ganda yang unik bagi masyarakat yang rentan, yaitu menyebabkan peristiwa cuaca ekstrem yang lebih sering, intens, dan tidak dapat diprediksi seperti banjir,
kekeringan dan panas yang ekstrim.

BACA JUGA:   Special Economic Zones: How one city helped propel its country’s economic development

Kemudian dampak ekonomi makronya dapat mengurangi pendapatan dan ketahanan di antara negara-negara dunia termiskin, membuat mereka kurang mampu mengelola guncangan dan lebih bergantung pada bantuan internasional.

Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, kerugian akibat bencana iklim ini mencapai US$1,3 triliun atau 0,2% dari rata-rata GDP dunia tiap tahun.

Kalangan ilmuwan sudah memperingatkan bencana iklim akan semakin tinggi frekwensinya dan tingkat kerusakan yang kian masif.

Laporan Stabilitas Keuangan Global terbaru IMF meneliti dampak risiko fisik perubahan iklim (kehilangan nyawa dan harta benda serta gangguan pada kegiatan ekonomi) terhadap stabilitas keuangan. , dan menemukan bahwa investor ekuitas mungkin tidak menilai risiko ini secara memadai.

Pandemi COVID-19 telah menunjukkan betapa cepat dan luasnya gangguan aktivitas ekonomi (bahkan untuk jenis risiko yang terkenal), menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan dan penilaian risiko yang memadai.

Temuan yang disajikan di sini cenderung diremehkan. Laporan ini tidak pertimbangkan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi pemicu konflik, atau potensi dampak masa depan dan biaya epidemi atau gelombang panas. Biaya sebenarnya dari tidak melakukan apa pun bisa menjadi jauh lebih tinggi.

Masih ada waktu untuk melakukan sesuatu. Laporan IFRC tersebut menunjukkan bahwa investasi dalam adaptasi iklim dapat sangat mengurangi dampak perubahan iklim, terutama saat adaptasi langkah-langkah memprioritaskan negara termiskin dan paling rentan. (bersambung)

———————–

Sebagian informasi dikutip dari laman www.imf.org dan www.ifrc.org

  • Bagikan
62 views