‘Ogah’ Bergantung Ke Indonesia, Singapura Juga Impor Listrik 1 GW dari Kamboja

  • Bagikan

Regional.co.id, SINGAPURA: Energy Market Authority (EMA) Singapura telah memberikan Persetujuan Bersyarat (conditional approval) kepada Keppel Energy Pte. Ltd. untuk mengimpor 1 gigawatt (GW) listrik dari Kamboja ke Singapura.

Keterangan tertulis EMA menyatakan Persetujuan Bersyarat pertama untuk impor listrik yang diberikan oleh EMA kepada Keppel ini menandai tonggak penting dalam ambisi Singapura untuk mengimpor hingga 4 GW listrik rendah karbon pada tahun 2035.

Impor listrik melalui Regional Power Grid adalah salah satu “Saklar” yang digunakan Singapura untuk mendekarbonisasi pasokan energinya. Pada Juli 2022, EMA mengeluarkan Request for Proposal (RFP) untuk mengundang perusahaan yang berminat mengajukan proposal untuk mengimpor hingga 4 GW listrik rendah karbon pada tahun 2035.

Persetujuan Bersyarat menegaskan bahwa proyek tersebut pada tahap awal dinilai layak secara teknis dan komersial. Ini memfasilitasi Keppel Energy dalam memperoleh persetujuan dan lisensi peraturan yang diperlukan untuk proyeknya.

Persetujuan tersebut merupakan lanjutan dari Nota Kesepahaman (MOU) tentang Kerjasama Energi antara Kamboja dan Singapura, yang ditandatangani pada Oktober 2022, yang menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk mendukung dan memfasilitasi upaya transisi energi bersih dan dekarbonisasi regional, termasuk kolaborasi yang lebih besar dalam perdagangan listrik lintas batas. .

BACA JUGA:   Singapura Jajaki Impor Listrik Hijau Dari Vietnam Sebesar 1,2 GW

Berdasarkan proposal Keppel Energy, listrik yang diimpor akan memanfaatkan energi matahari, tenaga air, dan berpotensi tenaga angin, didukung oleh sistem penyimpanan energi baterai (BESS) atau tenaga air penyimpanan yang dipompa (Pump Storage Hydropower/PSH).

Listrik yang dihasilkan akan ditransmisikan dari Kamboja ke Singapura melalui kabel bawah laut baru sepanjang lebih dari 1.000 km. Keppel Energy juga akan mencari cara untuk mengukur dan menghibridisasi listrik impor dengan sumber energi terbarukan di Laos.

EMA dapat memberikan Persetujuan Bersyarat kepada peserta RFP yang proyeknya telah dinilai layak secara teknis dan komersial. Persetujuan tersebut memberikan pengakuan terhadap proyek dan membantu memfasilitasi peserta dalam melakukan studi lebih lanjut dan mendapatkan persetujuan peraturan dari negara sumber dan negara transit.

BACA JUGA:   Pensiunkan PLTU, RI Bakal Terima Dana Transisi Energi Rp300 Triliun Dari Negara G7

EMA selanjutnya dapat menerbitkan Lisensi Bersyarat peserta ini jika proposal mereka memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Persetujuan Bersyarat. Peserta harus mengembangkan proposal mereka lebih lanjut dan memenuhi persyaratan EMA, termasuk mendapatkan persetujuan peraturan yang relevan dan membuat Keputusan Investasi Akhir, sebelum menerbitkan Lisensi Importir penuh.

Regional Power Grid juga dapat mempercepat pengembangan energi terbarukan di wilayah tersebut dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi, sekaligus mendiversifikasi sumber energi dari bahan bakar fosil.

Pada kesempatan yang bersamaan, Singapura dan Indonesia juga menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) Kerjasama Energi Terbarukan. Nota Kesepahaman tersebut, bersama dengan Persetujuan Bersyarat untuk impor listrik dari Kamboja, menandai langkah maju yang signifikan dalam kerja sama regional untuk meningkatkan ketahanan energi, meningkatkan akses ke energi bersih yang andal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:   Larangan Ekspor Energi, Darwin: Itu Kewenangan Pusat!

Kedua pengembangan ini merupakan langkah penting menuju visi Asean Power Grid, menyusul keberhasilan pelaksanaan Power Integrated Project (PIP) Laos-Thailand-Malaysia-Singapura pada bulan Juni tahun lalu.

Sebelumnya, Keppel Electric dan Electricite du Laos menandatangani perjanjian pembelian listrik kapasitas 100 megawatt sebagai awal rintisan perdagangan energi terbarukan lintas batas ke Singapura.

Selain Keppel Electric, penjajakan impor listrik juga diberikan kepada YTL Power Seraya Ltd untuk mengimpor listrik 100 MW dari Malaysia.

EMA juga memberikan izin kepada PacificLigth Power Ltd untuk memulai pengembangan PLTS skala besar kapasitas 100 MW di Pulau Bulan, Batam dan akan diekspor melalui kabel bawah laut jika sudah beroperasi pada 2023.

EMA akan terus meninjau proposal RFP lainnya, dengan maksud untuk memberikan lebih banyak persetujuan bersyarat sebelum RFP ditutup pada Desember 2023.

  • Bagikan
83 views