Capai Target Energi Bersih, Asean Perlu Investasi US$27 Miliar per Tahun

  • Bagikan

Regional.co.id, BALI: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ASEAN perlu menggelontorkan investasi US$ 27 miliar setiap tahunnya untuk bisa mencapai target bauran energi terbarukan 23% di 2025. 

Namun, sejak 2016 hingga 2021, ASEAN hanya bisa menarik US$ 8 miliar per tahun untuk energi terbarukan. “Jadi kurang dari sepertiga,” ujar dia di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Kamis, pekan lalu. 

Oleh karena itu, kata dia, penting bagi ASEAN untuk merancang transisi energi. Adapun mekanisme dan kerangka kebijakan transisi energi yang tepat dapat disusun dengan memperhatikan beberapa tantangan misalnya kebutuhan akan ketahanan energi, serta pada saat yang sama, keterjangkauan dan keberlanjutan energi.

BACA JUGA:   Ekspor Listrik Dilarang, Fabby: Ini Kebijakan Tidak Berdasar!

“Ketika kita berbicara tentang keterjangkauan, kita mengukur harga energi yang terjangkau oleh masyarakat, industri atau ekonomi, serta anggaran pemerintah, dalam hal dukungan untuk subsidi,” ujar Sri Mulyani. 

Tantangan tambahan yang perlu dihadapi untuk merancang mekanisme dan kerangka kebijakan transisi energi yang tepat adalah Keterbatasan akses ke pasar modal internasional, serta kurangnya mobilisasi sumber daya dalam negeri.

Seperti Indonesia, ASEAN juga membidik target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen di 2025. Hingga 2019, porsi energi terbarukan dalam bauran energi di ASEAN baru mencapai 14 persen. Sementara 75 persen sumber energi masih berasal dari bahan bakar fosil. 

BACA JUGA:   Lima Perusahaan Konsorsium Dapat Izin Ekspor Listrik 2 GW ke Singapura, Ada Adaro dan Medco!

Kalau dilihat lebih spesifik lagi bahan bakar fosil yang cukup banyak dipakai dan masih menjadi andalan berbagai negara, termasuk Indonesia, adalah batu bara.

Proporsi penggunaan batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik di ASEAN pada tahun lalu mencapai 32 persen. Untuk Indonesia, porsi PLTU batu bara bahkan mencapai 60 persen dari total bauran energi.

Karena itu, kata Sri Mulyani, kalau berbicara mengenai transisi energi dan target nol emisi, Indonesia dan ASEAN perlu mencari solusi atas masalah PLTU batu bara tersebut. “Jadi ketika kita berbicara dan berdiskusi tentang membayangkan net zero, tidak mungkin tanpa membahas masalah pembangkit listrik batubara ini,” ujarnya. (Sys/Tempo.co)

BACA JUGA:   RI-Singapura Sepakati Rencana Ekspor Listrik EBT Dari Kepri
  • Bagikan
89 views