Konsumen Otomotif China Beralih ke EV, Penjualan Mobil Jepang Terpuruk

  • Bagikan
A BYD EA1 Xdream car is seen during the 19th Shanghai International Automobile Industry Exhibition in Shanghai on April 19, 2021. (Photo by Hector RETAMAL / AFP)

Regional.co.id, SHANGHAI: Perusahaan mobil Jepang menghadapi krisis penjualan di China. Peralihan cepat ke kendaraan listrik (Electric Vehicle) menyebabkan penurunan penjualan mobil berbahan bakar minyak.

Dilansir dari Reuters pada Selasa (2/5/2023), total penjualan merek mobil Jepang di China turun 32% year-on-year pada kuartal I-2023.

Sementara itu, pangsa pasar merek mobil Jepang di China merosot menjadi 18,5% pada kuartal pertama, turun dari 24% pada 2020, menutrut data Asosiasi Produsen Mobil China yang dianalisis Reuters.

Toyota dan merek mewahnya Lexus membukukan penurunan penjualan sebesar 14,5% pada kuartal pertama. Penjualan Nissan Motor Co Ltd di China turun 45,8 % dan penjualan Mazda Motor Corp turun 66,5% selama Januari-Maret.

BACA JUGA:   NFC Indonesia Kucurkan Dana Rp300 Miliar Untuk Produksi Motor Listrik

“Kami perlu meningkatkan upaya kami untuk memenuhi harapan pelanggan di pasar China,” kata CEO Toyota Koji Sato dalam sebuah wawancara bulan lalu.

Honda Motor Co Ltd juga mengalami penurunan penjualan sebesar 38,2%. Chief Executive Honda Toshihiro Mibe mengakui perusahaannya tertinggal dari pesaing lokal di China.

“Pembuat mobil China jauh di depan kita,” kata Mibe kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Seperti beberapa perusahaan mobil Jepang lainnya, Mitsubishi tidak merilis angka penjualan di China. Namun, data industri yang dianalisis Reuters menunjukkan penjualan Mitsubishi turun 58% di kuartal pertama dibandingkan tahun sebelumnya.

BACA JUGA:   Bos Toyota Sebut Insentif Mobil Listrik RI Masih Kalah Dari Thailand

Sementara itu, sedan Sylphy buatan Nissan yang sempat menjadi kendaraan terlaris di China selama tiga tahun, dikalahkan oleh mobil plug-in hybrid Song buatan BYD. Dalam komentar melalui email, Nissan mengatakan menjual lebih dari 5 juta Sylphy di China selama beberapa tahun ke belakang.

“Jepang adalah pecundang terbesar dari perang harga sejauh ini,” kata Bill Russo, pendiri dan CEO Automobility, sebuah konsultan yang berbasis di Shanghai.

“Dengan semakin terjangkaunya EV, mobil listrik menjadi lebih menarik bagi pembeli,” lanjutnya.

Toyota Motor Corp mengatakan sikap lamban perusahaan dalam pengembangan mobil listrik bertujuan untuk melindungi konsumen. Menurut sebagian analis, strategi tersebut memukul penjualan Toyota di China.

BACA JUGA:   Nonton Superbike di Sirkuit Mandalika, Segini Harga Tiketnya!
  • Bagikan
213 views