Antara Merger dan Utang Menggunung BUMN Karya

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Sejumlah emiten BUMN Karya dikabarkan akan melakukan penggabungan atau merger guna mengatasi kerugian hingga utang jumbo yang ditanggung oleh perusahaan sejak sebelum masa pandemi.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana menggabungkan (merger) sejumlah BUMN Karya dengan konsolidasi yang ditargetkan akan dilaksanakan pada tahun ini.

Saat ini, Kementerian BUMN dan Kementerian PUPR tengah membahas proses merger perusahaan pelat merah di sektor konstruksi tersebut.

“Kita mau mengkonsolidasi, saya sudah bicara dengan Pak Basuki (Menteri PUPR), Pak Basuki sangat setuju, kita konsolidasi karya-karya ini yang sejenis dan punya expertise (keahlian),” kata Erick, Kamis (13/4).

Adapun, konsolidasi tersebut dilakukan guna memperbaiki struktur keuangan hingga bisnis perusahaan. Pasalnya, hingga tahun 2022, emiten-emiten BUMN karya masih menanggung rugi bersih hingga utang jumbo.

Informasi saja, emiten BUMN karya, termasuk PT PP Tbk hingga PT Waskita Karya Tbk (WSKT) membukukan utang jumbo pada tahun 2022.

Melansir laporan keuangan emiten, WSKT menanggung kewajiban atau liabilitas (termasuk utang) sebesar Rp83,99 triliun pada periode tersebut. Ini menjadi jumlah utang terbesar yang ditanggung oleh emiten BUMN karya.

Sementara, dua emiten BUMN karya lainnya, PTPP dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga menanggung utang jumbo, masing-masing sebesar Rp42,79 triliun dan Rp57,58 triliun pada 2022.

BACA JUGA:   Kepala Otorita IKN Mengundurkan Diri, Jokowi: Pembangunan Jalan Terus!

Terakhir, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menanggung liabilitas sebesar Rp31,16 triliun pada periode ini.

Lebih lanjut, besarnya utang emiten hingga tahun 2022 mendorong Kementerian BUMN untuk melakukan penyehatan keuangan melalui skema restrukturisasi.

“Apakah terjadi sinergitas? Merger kita lakukan itu, selain tentu tadi yang kita sampaikan ada restrukturisasi, pendanaannya jangka panjang, suntikan modal perbaikan bisnis model, sehingga kali ini BUMN karya akan semakin sehat,” lanjut Erick.

Punya Utang Jumbo hingga Menanggung Rugi

Dalam beberapa tahun terakhir, BUMN karya mencatatkan jumlah utang yang jumbo hingga angka debt to equity ratio (DER) yang tinggi pula.

Setidaknya, sejak 2019, empat emiten BUMN karya yang disebukan di atas telah mencatatkan utang yang jumlahnya mencapai Rp90 triliun.

Sebagaimana disebutkan dalam laporan keuangannya, WSKT mencatatkan utang dengan jumlah paling besar sejak tahun 2019.

Bahkan, pada tahun tersebut, jumlah utang WSKT mencapai Rp93,47 triliun. Kendati demikian, angka tersebut terus menurun, hingga menjadi Rp83,99 triliun pada 2022 lalu.

Selanjutnya, BUMN karya yang mencatatkan utang atau liabilitas jumbo sejak 2019 adalah WIKA. Tercatat, emiten ini mengalami pertumbuhan jumlah utang sejak 2019.

BACA JUGA:   3 Peritel Listrik Berhenti, SP Group Jamin Tidak Ada Pemadaman Listrik Di Singapura

Pada 2019, liabilitas WIKA hanya sebesar Rp42,89 triliun. Kemudian, angka tersebut terus bertumbuh menjadi Rp51,59 triliun pada 2021 dan Rp57,58 triliun pada 2022.

Sejumlah emiten BUMN karya bakal dikabarkan melakukan merger untuk mengatasi utang jumbo hingga kerugian yang ditanggung perusahaan.

Setali tiga uang, PTPP juga mencatatkan utang emiten yang bertambah sejak 2019. Melansir laporan keuangannya, utang PTPP pada 2019 mencapai Rp41,12 triliun. Sedangkan, utang tersebut bertambah menjadi Rp42,79 juta hingga akhir 2022.

Sejalan dengan utang jumbo perusahaan, emiten BUMN karya di atas juga mencatatkan angka DER yang tinggi. 

Tercatat, WSKT memiliki rasio DER paling tinggi, yakni mencapai 923,01 persen. Menyusul WSKT, WIKA juga mencatatkan DER yang tinggi, yakni mencapai 444,13 persen per April 2023.

Sementara, dua emiten lainnya, PTPP dan ADHI juga mencatatkan DER masing-masing sebesar 383,65 persen dan 471,30 persen.

Selain membukukan utang jumbo hingga DER tinggi, dua emiten BUMN karya, WIKA dan WSKT juga masih menanggung rugi bersih pada tahun 2022.

Sebagaimana disebutkan dalam laporan keuangan emiten, WIKA mencatatkan rugi bersih sebesar Rp59,60 miliar pada 2022. Padahal, pada 2021 lalu, emiten ini masih membukukan laba bersih sebesar Rp117,67 miliar.

BACA JUGA:   Bahlil Larang Ekspor Listrik EBT, Investasi PLTS Senilai Ratusan Triliun Terancam Batal

Senada dengan WIKA, WSKT menanggung rugi bersih pada 2022 sebesar Rp1,90 triliun. Bahkan, angka tersebut melonjak hingga 73,31 persen dibanding tahun 2021 lalu. Adapun, pada 2021, rugi bersih WSKT hanya sebesar Rp1,10 triliun.

Kendati menanggung rugi bersih, dua emiten tersebut masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih pada 2022.

Adapun, pendapatan bersih WIKA pada 2022 masih bertumbuh sebesar 20,61 persen menjadi Rp21,48 triliun. Sedangkan, pendapatan bersih WSKT juga naik 25,91 persen menjadi Rp15,30 triliun. 

Sejalan dengan utang jumbo yang ditanggung perusahaan, saham emiten BUMN karya mengalami downtrend sejak tahun 2020. Padahal, saham BUMN karya sempat menjadi idola di tahun 2018 hingga 2019.

WSKT misalnya, sahamnya pernah menyentuh Rp2.622/saham pada 2 Maret 2018 sebelum ambruk ke level Rp232/saham pada Kamis (27/4).

Sedangkan, pada periode 2 Maret 2018, saham PTPP juga menyentuh Rp3.120/saham. Namun demikian, pada saat ini, saham PTPP sudah ambles 79,33 persen menjadi Rp645/saham pada perdagangan Kamis (27/4).

Bernasib sama, saham ADHI dan WIKA juga merosot tajam dibanding harga tertingginya pada masa sebelum pandemi.

Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Kamis (27/4), harga saham ADHI anjlok menjadi Rp434/saham dari harga sahamnya pada 2 Maret 2018 di Rp2.390/saham. (idxchannel.com/sys)

  • Bagikan
56 views