AS Terancam Gagal Bayar Utang pada 1 Juni, Biden Undang Pimpinan Kongres

  • Bagikan
Presiden Amerika Serikat Joe Biden

Regional.co.id, WASHINGTON: Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Senin (1/5/2023) mengundang empat pemimpin Kongres ke Gedung Putih pada pekan depan usai Departemen Keuangan memperingatkan bahwa AS terancam mengalami gagal bayar utang pada bulan Juni.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan kepada Kongres bahwa Departemen Keuangan tidak mungkin memenuhi semua kewajiban pembayaran pemerintah AS pada 1 Juni jika Kongres AS tidak bertindak.

Perkiraan tersebut menunjukkan risiko AS menuju kegagalan pembayaran utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan yang akan memengaruhi perekonomian global.

Saat melakukan kunjungan diplomatik ke Yerusalem, Joe Biden menelepon Ketua DPR Kevin McCarthy dan mengundangnya ke Gedung Putih pada 9 Mei mendatang. Tetapi hingga saat ini, keduanya belum membahas masalah yang terjadi sejak Februari tahun ini.

BACA JUGA:   BBM Tidak Naik, Sri Mulyani: Subsidi Bakal Membengkak Jadi Rp700 Triliun

Biden juga turut memperluas undangan kepada sejumlah pemimpin, seperti Pimpinan Partai Demokrat di DPR Hakeem Jeffries, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer, dan Pemimpin Partai Republik Mitch McConnell.

Melansir Reuters pada Selasa (2/5/2023), Biden menekankan bahwa dia tidak akan bernegosiasi terkait peningkatan pagu utang. Namun, dia justru akan membahas mengenai pemotongan anggaran usai batas baru disahkan.

Salah seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Biden, yang sebelumnya mengatakan dia tidak akan bertemu dengan McCarthy sama sekali untuk membahas pagu utang, pada 9 Mei mendatang akan menegaskan bahwa Kongres perlu mengambil tindakan untuk menghindari kegagalan pembayaran utang.

BACA JUGA:   Singapura, Malaysia, Thailand Sudah Nol Persen Kemiskinan Ekstrem, Indonesia Kapan?

Potensi tanggal yang baru, yang memperhitungkan pembayaran pajak bulan April, sebagian besar tidak berubah dari perkiraan sebelumnya, yang dikeluarkan pada bulan Januari, bahwa pemerintah akan kehabisan uang tunai sekitar tanggal 5 Juni.

Namun Yellen mengatakan bahwa penerimaan dan pengeluaran federal secara inheren bervariasi. Tanggal aktual ketika menghabiskan langkah-langkah akuntansi khusus Departemen Keuangan berakhir bisa jadi beberapa minggu lebih lambat dari perkiraan ini.

“Tidak mungkin untuk memprediksi dengan pasti tanggal pasti ketika Departemen Keuangan tidak dapat membiayai tagihan pemerintah,” tulisnya.

Usai mencapai batas pagu utang US$31,4 triliun pada 19 Januari, Yellen telah mengatakan kepada Kongres bahwa departemen Keuangan akan tetap melakukan pembayaran atas utang, tunjangan federal, sekaligus membuat pengeluaran lainnya dengan menggunakan langkah-langkah manajemen akuntansi khusus.

BACA JUGA:   Antisipasi Inflasi Tinggi, Jokowi: Kepala Daerah Jangan Diam!

Adapun cara yang yang dilakukan oleh Departemen Keuangan adalah dengan memperkuat penjualan surat utang yang digunakan oleh pemerintah negara bagian guna sementara memegang cadangan pendanaan.

Sementara itu, DPR AS yang dikuasai Partai Republik mengesahkan RUU pada 26 April yang berisi rencana pemangkasan insentif pajak untuk energi matahari dan menerapkan pemotongan pengeluaran US$4,5 triliun atau sekitar 22 persen, dengan imbalan kenaikan pagu utang sebesar US$1,5 triliun.

RUU tersebut diperkirakan tidak akan disetujui oleh Senat yang dikendalikan Partai Demokrat dan Gedung Putih mengatakan Biden akan memveto UU tersebut jika disahkan.

  • Bagikan
99 views