Bertabur Insentif, Penjualan Mobil Listrik Melejit 545%

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Penjualan mobil elektrifikasi di Indonesia meroket pada tahun 2022. Merujuk data wholesale Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia sepanjang tahun lalu tembus hingga 20.681 unit.

Jumlah itu meningkat naik sekitar 545,2% jika dibandingkan tahun 2021 yang hanya mampu menjual 3.205 unit.

Penjualan itu disumbang dari tiga kategori EV, yakni mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), hybrid electric vehicle (HEV), dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Dari data Gaikindo, jumlah penjualan BEV pada 2022 mencapai angka 10.327 unit. Jumlah penjualan itu melesat sekitar 1.403% jika dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan 687 unit penjualan BEV sepanjang tahun.

Sepanjang tahun lalu, Wuling Air EV menjadi penguasa pasar mobil listrik berbasis baterai di Indonesia. Tercatat penjualan mereka sejak pertama kali diluncurkan sampai akhir tahun 2022 sebanyak 8.053 unit, dengan rincian 6.859 unit yang terjual merupakan Air EV tipe long range dan 1.194 merupakan tipe standar range.

Sementara, penjualan mobil hybrid di Indonesia tahun lalu tercatat mencapai 10.344 unit atau naik sekitar 318,4 % dari tahun 2021 yang hanya mencatat penjualan sebanyak 2.472 unit.

BACA JUGA:   Hyundai Rilis Sedan EV Ioniq 6, Bakal Jadi Pesaing Tesla?

Suzuki Ertiga Hybrid menguasai pasar pada segmen ini dengan catatan penjualan 5.244 unit. Toyota Innova Zenix varian hybrid mengikuti di posisi kedua dengan total penjualan 2.519 unit.

Sedangkan, penjualan mobil-mobil di kategori PHEV tahun 2022 cenderung menurun. Pasalnya, berdasarkan data Gaikindo tahun lalu hanya ada 10 unit mobil PHEV yang terjual, turun dari 46 unit pada 2021.

Empat tahun sejak pemberlakuan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan yang diteken Presiden Joko Widodo pada 8 Agustus 2019, baru dua merek yang sudah memenuhi kewajiban TKDN minimal 40% yaitu Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air EV.

BACA JUGA:   Sri Mulyani Terbitkan Aturan Insentif Pajak Kendaraan Listrik, Berlaku Hingga Akhir 2024!

Sedangkan, Toyota yang merupakan raja pasar otomotif di Indonesia, mobil listriknya bZ4X belum memenuhi TKDN 40%. Bahkan, seluruh unit bZ4X yang sudah dipasarkan merupakan hasil impor utuh alias completely built up (CBU) dari Jepang.

Namun demikian, Toyota sebetulnya memiliki mobil elektrifikasi, Innova Zenix Hybrid yang memiliki TKDN sebesar 70 %. Mobil ini juga sudah dirakit secara lokal di Indonesia.

Merek-merek lain seperti Honda, Daihatsu, dan Mitsubishi bahkan belum memiliki mobil listrik berbasis baterai.

Situasi yang sama juga terjadi di industri motor listrik. Motor listrik yang sudah mengaspal serta memiliki TKDN minimal 40 persen di Indonesia mayoritas merek China dan lokal.

BACA JUGA:   Permintaan Membaik, Gaikindo: Penjualan Mobil 2021 Tembus 887 Ribu Unit

Model-model itu di antaranya Gesits G1, United T1800, United TX3000, United TX1800, Smoot Tempur, Smoot Zuzu, Volta 401, Selis E-Max, Selis Agats, Viar Q1, Rakata X5, Rakata S9, dan Polytron Fox-R.

Sementara, pemain besar seperti Honda dan Yamaha sampai saat ini belum mengaspalkan motor listrik mereka. Kendati begitu, Astra Honda Motor berencana meluncurkan motor listrik pertama mereka di Indonesia pada tahun ini.

Pemerintah sendiri memberikan subsidi pajak pertambahan nilai (PPN) untuk kendaraan listrik sebesar 10% dari 11% PPN Terutang. Konsumen hanya perlu membayar 1% dari harga jual. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38 tahun 2023 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda empat tertentu dan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai bus tertentu yang ditanggung pemerintah.

  • Bagikan
96 views