Bisnis Kelistrikan Tidak Sehat, Pemerintah Sorot Kinerja PLN Batam!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kondisi kelistrikan di Batam baik dari sisi bisnis maupun keandalan pembangkit.

Jisman Hutajulu, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, mengatakan cadangan listrik di PLTU Tanjung Kasam berkapasitas 2×55 MW berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

“”Beberapa hari ini sudah merasakan listrik Batam seperti apa. (PLTU) Tanjung Kasam keluar minggu lalu ada 55 (MW) yang membuat reserve margin (cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak) sangat menipis dan meminta pelanggan yang punya genset, dengan bantuan BBM dari PLN Batam untuk menyalakan gensetnya. Kan sudah nggak sehat,” katanya, disiarkan Youtube Ditjen Gatrik, Jumat (26/5).

Pihaknya mencatat adanya krisis listrik di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, beberapa minggu terakhir. Kurangnya pasokan listrik tersebut membuat PLN Batam sampai meminta pelanggan untuk menyalakan genset berbahan bakar minyak (BBM).

BACA JUGA:   Menanti Realisasi Merger BUMN Pelabuhan

Pemadaman listrik bergilir untuk industri masih terus berjalan hingga Selasa (23/5). Kerugian yang dialami pengusaha semakin membengkak karena terhambatnya aktifitas produksi, salah satunya perusahaan galangan kapal.

Perusahaan tak bisa melakukan produksi pembuatan kapal karena memang hampir seluruh kegiatan produksi mengandalkan aliran listrik PLN. Kerugian yang dialami semakin banyak karena tidak saja pada terhambatnya proyek pembuatan kapal tapi juga upah karyawan. Proyek terhambat sementara upah karyawan tetap berjalan normal.

Pemadaman terpaksa dilakukan PLN Batam sejak 15 – 21 Mei lalu akibat cuaca panas yang melanda Batam selama beberapa hari terakhir sehingga kinerja PLTU Tanjung Kasam harus dikurangi. Kondisi memicu kekurangan pasokan daya bagi industri hingga 75 MW.

Data pada neraca daya PLN Batam yang dikutip pada 15 Mei menunjukkan adanya penurunan signifikan dari 560 MW pada pukul 12 menjadi 490 MW pada pukul 1 dini hari hingga esok harinya. Pada 18 Mei, kondisi daya merosot hingga 420 MW yang berlangsung selama kurang lebih enam jam.

BACA JUGA:   Tantangan Besar Pembangunan Hydropower di Asia

Bisnis Tidak Sehat

Pengelolaan listrik Batam beda dengan pengelolaan listrik nasional, yang dikelola BUMN PT PLN (Persero). Bisnisnya dikelola anak usaha PLN, PT PLN Batam, yang diberikan otonomi untuk mengelola bisnis listrik di Batam dari hulu sampai hilir.

Jisman juga menyorot kinerja PLN Batam. Ia memandang kondisi perusahaan tersebut tidak sehat lantaran margin hanya 3 persen.

“Jujur saja, nanti akan kita bicarakan kondisi (PLN) Batam sekarang secara core business tidak sehat karena marginnya hanya 3 persen,” ujarnya.

Faktanya, lanjut Jisman, ada 8 golongan tarif yang masih di bawah tarif nasional. Bayarnya lebih murah dengan yang sejenis Pulau Batam.

Menurutnya, ada dua kondisi soal keandalan listrik, yaitu defisit atau over capacity. Jisman menilai kondisi kelebihan kapasitas lebih baik asalkan bisa dipertanggungjawabkan. Pasalnya, industri akan masuk kalau infrastruktur kelistrikan daerahnya andal.

BACA JUGA:   Blackout Sumatera, Penyebab Pemadaman Belum Diketahui!

“Membangun pembangkit tidak bisa 2-3 bulan, bisa 4 tahun. Apalagi PLTA minimal 7 tahun. Belum kalau ada persoalan perizinan. Jadi saya pikir over capacity nggak masalah sepanjang itu masih bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia menyebut Kementerian ESDM sudah berhitung dalam 10 tahun ke depan Batam membutuhkan investasi sekitar US$300 juta agar memiliki kelistrikan yang andal.

“Sementara hitung-hitungan kami dalam 10 tahun ke depan, supaya lebih andal kelistrikan di Batam, butuh investasi sekitar US$300 juta, kira Rp4,4 triliun ya,” tandas Jisman. (cnnindonesia/mpg)

  • Bagikan
53 views