Sun Cable Diambang Kebangkrutan, Pasokan Listrik 1,8 GW dari Australia ke Singapura Terancam Gagal!

  • Bagikan

Regional.co.id, SINGAPURA: Sun Cable, pengembang proyek Asia-Australia Power Link yang membangun ladang solar panel di Darwin berkapasitas 20 gigawatt terancam tidak dapat melanjutkan rencana tersebut karena kebangkrutan.

Perusahaan yang berbasis di Singapura itu mengalami kisruh pemegang saham antara Andrew Forrest, milarder Australia pemilik Squadron Energy dan Mike Cannon-Brookes, pemilik Grok Ventures, terutama tentang kelanjutan rencana proyek raksasa AAPower Link tersebut yang diperkirakan membutuhkan investasi US$20 miliar atau setara Rp280 triliun.

Pada Januari 2023 lalu, perusahaan masuk dalam voluntary administration yaitu suatu proses menyelematkan perusahaan dari kebangkrutan pada masa datang dengan menyerahkan tanggung jawab pengelolaan kepada salah satu pemegang saham.

BACA JUGA:   Perangi Pemanasan Global, Negara G7 Sepakat Stop Biayai Proyek Bahan Bakar Fosil Sampai Tahun 2022

Dalam prosesnya, Grok Ventures dan Hellietta Holdings telah menyampaikan proposal penyelamatan Sun Cable namun Squadron Energy tidak menyampaikan proposal sampai batas waktu yang ditentukan.

Mike Cannon yang merupakan pemegang saham mengambil alih pengelolaan dengan menggandeng Helietta Holdings 1 Pty. Ltd, perusahaan afiliasi Grok Ventures dan FTI Consulting untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Diperkirakan penyelesaian akan selesai pada akhir Juli mendatang.

Dalam pernyataan resmi perseroan, para calon investor berminat untuk melanjutkan proyek AA Power Link menjadi keputusan investasi final dengan merealisasikan pembangunan Tahap 1 berupa produksi 0,9 gigawatt solar energy ke Darwin dan 1,8 GW ke Singapura.

BACA JUGA:   Ekspor Listrik ke Singapura Terganjal Regulasi, Bagaimana Kelanjutan Investasi Solar Energy di Kepri?

Listrik ke Singapura akan dikirim dari fasilitas penyimpanan bateri listrik di sebelah utara Australia melalui jaringan kabel bawah laut sepanjang 4.200 kilometer. Total areal lahan untuk fasilitas solar energi mencapai 12.000 hektar.

Proyek tersebut akan dimulai pada 2024 dan mulai menyalurkan listrik pertama pada 2027 untuk wilayah Darwin dan pada 2029 untuk pasokan ke Singapura.

“Kami sedang menuju arah yang tepat, dan masih berkeyakinan bahwa Sun Cable mampu mengirimkan listrik tenaga matahari dan memberikan manfaat bagi Australia,” ujar Cannon-Brokes.

“Kami perlu melebarkan sayap jika ingin menjadi salah satu superpower dalam bisnis energi terbarukan.”

BACA JUGA:   Luar Biasa! 40% Cadangan Panas Bumi Dunia Ada di RI

Kendati dalam proses penyelematan dari kebangkrutan, namun gaji seluruh karyawan Sun Cable tetap dibayar penuh.

Pada 2022, Sun Cable memperoleh pembiayaan baru dari Forrest dan Cannon-Brokes senilai A$210 juta atau setara Sin$193 juta yang akan digunakan untuk proyek AA Power Link. Namun pendanaan itu tidak semuanya terealisasi karena beberapa target tidak terpenuhi.

Kendati dalam proses penyelematan, David Griffin, founder dan CEO Sun Cable tetap berkeyakinan rencana besar perusahaan akan tetap berjalan sesuai jadwal.

“Progres pembangunan masih terus berjalan, kami tetap berupaya memenuhi permintaan listrik yang handal di Northern Territory dan suplai ke Singapura,” tandasnya.

  • Bagikan
487 views