Pengguna QRIS di Indonesia Tembus 184 Juta Transaksi

  • Bagikan

Regional.co.id, MAGELANG: Bank Indonesia (BI) mencatat penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Indonesia mencapai 184,29 juta transaksi.

“Jumlah tersebut tumbuh 152 persen dari jumlah transaksi sebelumnya,” kata Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Fitria Irmi Triswati pada Gelaran wicara Bincang Milenial Paham Rupiah di Taman Lumbini Candi Borobudur, pekan lalu.

Lebih lanjut, Fitria menuturkan, jumlah tersebut setara dengan nominal transaksi Rp 18,08 T atau tumbuh 175 persen.

“Kami akan terus mendorong penggunaan QRIS dan digitalisasi transaksi agar tetap tumbuh,” tuturnya.

Menurut Ftria, QRIS dapat memfasilitasi masyarakat dalam melakukan pengelolaan keuangan karena tercatat secara digital baik bagi pengguna dan merchant.

BACA JUGA:   Keputusan RUPST, Bank Mandiri Bagi-Bagi Dividen Rp33,04 Triliun

“Bagi merchant, QRIS dapat memperluas akses keuangan dengan membangun credit scoring dan meningkatkan pendapatan usaha bagi pedangang,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat khususnya generasi milenial untuk memanfaatkan potensi sistem pembayaran digital dalam perencanaan keuangan yang lebih terintegrasi seperti kanal pembayaran tekini, QRIS, dengan disertai kesadaran akan keamanan bertransaksi digital. 

Ia menilai, QRIS sebagai salah satu game changer dalam pembayaran bertujuan untuk mengakselerasi inklusi ekonomi dan keuangan digital.

“Penggunaan QRIS juga termasuk memperkuat interkoneksi dan interoperabilitas sistem pembayaran,” katanya.

Sejalan dengan hal tersebut, Fitria menyampaikan, perkembangan global yang bergerak dengan cepat sehingga Bank Indonesia sebagai otoritas merespon kebutuhan masyarakat.

BACA JUGA:   Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp15.000, Ini Kata Bank Indonesia!

“Maka, kami menyediakan infrastruktur pembayaran non-tunai yang bertujuan untuk menunjang keamanan dan kemudahan transaksi,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama,  Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Hari Widodo  mengajak masyarakat Jawa Tengah lebih memahami makna Rupiah sebeagai penggerak ekonomi melalui edukasi sistem pembayaran tunai dan non-tunai.

Hari menekankan Rupiah sebagai alat penyimpanan. Maka, ia mengajak masyarakat bertransaksi secara bijak dengan membedakan kebutuhan dan keinginan dalam berbelanja.

“Tips agar bisa bijak berbelanja terutama untuk kebutuhan sehari-hari adalah dengan melakukan perencanaan keuangan,” tuturnya.

Menurut dia, bertransaksi bijak juga dapat dimaknai dengan menabung dan melakukan investasi untuk menyimpan nilai Rupiah di masa yang akan datang di lembaga keuangan resmi yang miliki izin dari otoritas terkait.

BACA JUGA:   Pinjol Semakin Laris, Pinjaman Tembus Rp53,38 Triliun

“Membangun rasa Cinta Bangga Paham Rupiah artinya masyarakat berperan dalam menjaga kedaulatan negara dan pembangunan ekonomi bangsa,” kata dia.

  • Bagikan
37 views