Produksi Naik Gila-Gilaan, Cadangan Nikel RI Sekarat!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesian Mining Association (IMA) memprediksikan pada tahun 2025, produksi bijih nikel akan naik hingga 4 kali lipat dari produksi yang ada saat ini. Kenaikan produksi 2 tahun ke depan itu hampir menyentuh angka 500 juta ton per tahun.

Plh Direktur Eksekutif IMA, Djoko Widajatno mengatakan bahwa nantinya akan ada sebanyak 132 smelter nikel dan ditambah rencana 22 smelter yang akan didirikan di tahun 2025. Nantinya smelter tersebut akan memakan produksi nikel dalam negeri hampir mencapai 500 juta ton nikel per tahun.

“Akan tetapi kondisinya sekarang dengan adanya integrated smelter dan stand alone smelter jumlah integrated itu 22 sampai dengan rencana 28 dan yang integrated itu kalau semuanya jadi 104 berarti ada 132 smelter. Nah kalau kita lihat 132 dibanding 22 smelter yang diencanakan tentu kebutuhan bijihnya itu akan melambung 4 kali jadi 497 atau 400 juta wet ton nikel ini yang menyebabkan umurnya jadi 7 tahun,” jelas Djoko kepada CNBC Indonesia dalam program Mining Zone, dikutip Selasa (15/8/2023).

BACA JUGA:   Bantah Relokasi Pabrik, Kadin: PHK Terjadi Karena Ekspor Merosot!

Djoko mengatakan bahwa hitungan umur cadangan nikel yang tersisa 7 tahun lagi merupakan hitungan dari kebutuhan akan nikel saat ini masih pada kisaran 200 juta ton per tahun. “Tapi ini kan hitungan akhir yang diperkirakan selesainya nanti yang 136 (smelter) itu di tahun 2025. Sementara ini masih di kisaran 200 juta ton, jadi saya yakin masih bisa 7 tahun dengan fungsi yang sekarang,” tambahnya.

Dengan begitu, dia mengharapkan Indonesia bisa membangun industri hilirisasi nikel lebih jauh lagi. Walaupun memang masih ada permasalahan yakni pembangunan industri lanjutan yang membutuhkan waktu hingga 4 tahun sedangkan cadangan nikel kian menipis.

“Jadi harapannya membangun industri hilirisasi selesai, tapi industri berikutnya kita siapkan dan mudah-mudahan selesai dan masih kebagian bahan baku harapannya gitu. Karena bangun industri kan 3 tahun 4 tahun. Nah kalau 7 tahun kan cuma 2 kali umur bahan yang ada kan,” tandasnya.

Sebelumnya, Pemerintah mengungkapkan konsumsi bijih nikel Indonesia diperkirakan bakal melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 360-390 juta ton per tahun dari saat ini 150-160 juta ton per tahun.

BACA JUGA:   Pertamina Siapkan Opsi Penjualan Pertalite Hanya Untuk Sepeda Motor

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, perkiraan lonjakan konsumsi bijih nikel ini seiring dengan sejumlah proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) yang sedang dibangun dan masih dalam tahap perencanaan.

Berdasarkan data yang dipaparkannya dalam acara “Nickel Conference 2023” CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (25/07/2023), saat ini jumlah konsumsi bijih nikel untuk smelter yang sudah beroperasi mencapai 150-160 juta ton. Lalu, perkiraan konsumsi bijih nikel untuk proyek smelter yang masih dalam tahap pembangunan sekitar 80-90 juta ton, dan untuk proyek smelter yang masih dalam tahap perencanaan 130-140 juta ton.

Dengan demikian, total kebutuhan bijih nikel untuk proyek smelter di Indonesia nantinya diperkirakan bisa mencapai 360-390 juta ton. “Ini harus dikontrol untuk pengadaan bahan bakunya. Kita tidak akan over supply ke depannya,” tegas Luhut dalam acara “Nickel Conference 2023” CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (25/07/2023).

BACA JUGA:   Ekonomi Mulai Pulih, Investasi Triwulan II-2022 Capai Rp302 Triliun

Berdasarkan data yang dipaparkannya, saat ini kapasitas smelter logam nikel yang sudah beroperasi menghasilkan 1,8 juta ton logam nikel per tahun. Adapun dari proyek yang masih dalam proses pembangunan atau konstruksi, kapasitas akan bertambah sebesar 1 juta ton logam nikel per tahun, dan yang masih dalam tahap perencanaan akan bertambah 1,5 juta ton logam nikel per tahun.

Adapun total kapasitas smelter nikel yang akan beroperasi beberapa tahun mendatang diperkirakan mencapai 4,31 juta ton logam nikel per tahun.

Untuk mengontrol kelebihan pasokan nikel di pasar nantinya, Luhut menyebut, semua pihak harus taat pada peraturan, baik dari sisi tenaga kerja, transfer teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan peningkatan nilai tambah industri.

“Mereka harus mematuhi ini, kalau investor tidak mematuhi, maka kami akan setop operasional di RI. Indonesia akan melakukan review untuk industri ini,” tegasnya. (cnbcindonesia/rhs)

  • Bagikan
103 views