Konflik Yaman Picu Kenaikan Ongkos Logistik, Kapal Kontainer Ubah Rute Pelayaran

  • Bagikan

Regional.co.id, YAMAN: Ketegangan antara Houthi dan Barat telah membuat perusahaan pelayaran dunia ketar-ketir. Meski belum jadi konflik langsung yang nyata, mayoritas raksasa pelayaran dunia telah mengalihkan rute pelayaran Asia-Eropa dari Laut Merah dengan memutar ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Raksasa perkapalan dunia seperti Maersk, Evergreen, Mediterranean Shipping Company (MSC), Ocean Network Express (ONE), Hapag Lloyd, dan Hyundai Merchant Marine (HMM) telah memilih cara ini. Terbaru, perusahaan pelayaran kakap China, Cosco Shipping, juga memilih cara serupa.

Ini pun akhirnya berdampak pada kenaikan tarif pengiriman. Tarif angkutan barang dari Asia ke Eropa Utara meningkat lebih dari dua kali lipat pada minggu ini menjadi di atas US$ 4.000 (Rp 62 juta) per unit 40 kaki.

BACA JUGA:   BPS Ungkap Harga Beras Sudah Naik di 179 Kabupaten/Kota

“Tekanan rantai pasokan yang menyebabkan inflasi bersifat ‘sementara’ pada tahun 2022 mungkin akan kembali terjadi jika masalah di Laut Merah dan Samudera Hindia terus berlanjut,” kata Larry Lindsey, kepala eksekutif firma penasihat ekonomi global Lindsey Group, kepada CNBC International.

Di sisi lain, harga minyak juga berpotensi melonjak akibat ketegangan ini. Kepala penelitian minyak Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan harga minyak dunia dapat melonjak 20% hingga 100% jika konflik ini meluas ke Selat Hormuz.

Diketahui, Selat Hormuz merupakan perairan sempit yang menghubungkan Laut Arab dan Teluk Persia. Jalur pelayaran ini juga merupakan pintu masuk bagi kapal-kapal Iran menuju Samudera Hindia dan ke arah Laut Merah.

BACA JUGA:   Soal Izin Ekspor Pasir Laut, KKP: Ini Bukan Penambangan Tapi Pembersihan Sedimentasi!

Selain itu, pada hari Kamis, Iran menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan AS di Teluk Oman sebagai bagian dari perselisihan jangka panjang dengan Washington, menambah ketegangan mengenai keamanan pelayaran komersial di wilayah tersebut.

“Laut Merah adalah jalur transit dan gangguan berkepanjangan di sana, harga minyak bisa tiga atau empat dolar lebih tinggi,” pungkasnya dikutip Oil Price, Senin.

“Namun jika terjadi gangguan di Selat Hormuz selama sebulan, harga (minyak) akan naik sebesar 20% dan bahkan bisa berlipat ganda jika gangguan di sana berlangsung lebih lama,” tambahnya.

  • Bagikan
206 views